One Night With You

One Night With You
18. Malam Mengikat Janji



Malam yang dinanti pun tiba,malam dimana Vania dan Anjas kekasihnya akan mengikrarkan janji suci pertunangan. Kini si empunya hajat sudah terlihat cantik nan anggun dibalut dress berwarna biru muda yang segar.


Cincin pertunangan pun sudah saling disematkan,tampak keduanya begitu bahagia berhambur bersama para tamu yang hadir.Kini tiba sesi dimana Vania,Irina dan Elea tengah berselfie ria.


Walau hatinya kacau balau dan matanya terlihat sembab Elea tetap memaksakan diri untuk datang ke pertunangan Vania. Ini adalah hari penting untuk Vania dan Anjas dia tidak mau egois dan terus mengunci diri dikamar hanya karena hubungannya yang hancur berantakan.


Setidaknya berkumpul dan berbahagia bersama teman-temannya dapat sedikit menghilangkan rasa sakit dihatinya.


" Kan...mereka dah foto-foto.." Delia masih menggerutu kesal sembari menscroll akun sosmed Irina yang baru saja memposting foto-foto selfie mereka.


" Harusnya kita sudah ikut foto-foto "ucap Delia menatap kesal pada Adrian yang telat menjemputnya. Kini sudah pukul 21.30 lebih tapi mereka masih berada di mobil Adrian.


" Okee..sorry.." balas Adrian yang sebenarnya tak ingin berangkat.


Setelah lima belas menit perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Walaupun tamu undangannya tidak banyak tapi tempat itu terlihat ramai dengan suasana yang meriah.


Vania memilih melangsungkan pertunangan di sebuah restoran yang menyediakan wedding venue berkonsep outdoor. Selain tempatnya yang lebih luas dan nyaman,restoran ini juga dilengkapi kolam dan pepohonan hijau yang membuat suasana menjadi teduh dan damai.


Setelah melihat meja teman-temannya Delia segera menuju kesana.


" Hellow... ladies.." sapa Delia pada perempuan-perempuan yang kompak mengenakan dress warna biru muda itu.


" Nggak usah dateng sekalian.." Sentak Vania yang merasa kesal.


" Yakin lu ngusir artis ibu kota.." Delia.


" Iye..sono minggat lu.." Irina.


" Lu gak mau kenal laki gue " Ucap Delia membuat semua pandangan tertuju pada sosok Adrian yang berdiri disamping Delia.


Adrian menjabat tangan Anjas terlebih dahulu kemudian bergantian dengan Irina dan Vania. Kemudian mereka berdua bergabung duduk satu meja dengan mereka.


" Ele mana? " tanya Delia yang dari tadi tak melihat sosok Elea.


" Noh..bolak balik di telponin lakiknya " Irina menunjuk Elea yang berdiri lumayan jauh dari mereka,gadis itu terlihat tengah menerima telepon dari seseorang.


" Emang si Barra gak ikut?" Delia.


" Keknya lagi perang..matanya sembab and do'i lebih banyak diem " bisik Irina.


" Eh..sebenernya gue lihat.."


" Jangan ghibah di hari bahagia gue.." sambar Vania memotong kalimat Delia.


Adrian memandangi Elea yang sepertinya sudah menutup sambungan teleponnya. Sekilas Adrian melihat gadis itu mengusap pipi yang mungkin saja tengah menangis.


" Tuh..kan nangis lagi..keknya emang si Barra tuh pria brengs*k sih..gue pernah lihat.." Irina


" Dibilang jangan ghibah..tuh do'i dah kesini " Vania kembali memotong kalimat Irina.


" Lama banget sih..telepon siapa?" tanya Irina setelah Elea duduk disampingnya.


" Ele lu gak mau say hai gitu sama lakik gue " Delia.


" Dokter Adrian.." seru Elea setelah menyadari Adrian tengah duduk manis disamping Delia.


" Apakah mata'mu baik-baik saja?terlihat bengkak seperti saat sakit dulu " ucap Adrian saat menjabat tangan Elea. Mendengar ucapan tanpa dosa Adrian semua hanya terdiam. Delia menyenggol lengan Adrian karena sepertinya kalimatnya di ucapkan di waktu yang kurang tepat.


Adrian sendiri sebenarnya tahu kalau gadis itu terlihat sembab karena habis menangis,tapi entah mengapa ia ingin sekali membahasnya. Ia ingin tahu apa yang membuatnya menangis sampai kondisi matanya seperti itu.


" Mungkin aku kurang tidur dokter " jawab Elea dengan senyum yang dipaksakan.


Setelah beberapa saat menemani sahabat-sahabatnya mengobrol,Vania undur diri karena ingin berdansa dengan Anjas.


" Mereka sangat serasi dan sangat romantis " Delia bagai terpesona dengan keromantisan Vania dan Anjas. Kedua jemarinya terjalin dan matanya penuh binar memandang dua sejoli yang terlihat seperti raja dan ratu itu.


" Nyusulin gih keburu tua.." sahut Irina.


" Suka-suka gue lah,napa gk elu duluan " Delia.


" Yakalii..gue nyusul sama siapa,kalau elu kan dah ada pasangannya " Irina.


" Lu mau bayarin biaya resepsinya " Delia.


" Masa' artis ibu kota kagak ada duit lu " Irina.


" Sana-sana ikutan dansa dari pada disini ribut mulu berdua " sela Elea yang merasa terganggu dengan cek cok mereka.


" Trus gue dansa ame siapa Le? " Irina.


" Tau lah sapa,,gandeng aja seadanya " Elea.


" Elu sendiri napa gak bawa Barra,bukanya dia bapaknya anak-anak " Delia.


" Cerai gue.." Elea.


" Lu putus...??? " tanya Delia dan Irina bersamaan. Adrian yang sedari tadi diam kini ikut menatap Elea.


" Apaan sih biasa aja.." Elea.


Tak lama dering ponsel Elea terdengar kembali.


" Putus apaan..masih dinamain 'Sweetheart' " ucap Irina melirik layar ponsel Elea.


Elea segera menjauh menerima telepon Barra.


" Wait ya honey..aku ke toilet dulu " Delia kemudian meninggalkan meja. Sementara pandangan Adrian teralih pada Elea yang sepertinya terlibat perdebatan lagi.


" Napa liatain si Ele? " Irina mengibaskan tangannya di depan Adrian membuat lamunan pria itu buyar. Irina memang wanita yang ceplas ceplos dan apa adanya,bahkan pada Adrian yang baru ia temui Irina tak merasa sungkan sama sekali.