
" Irina...kau disini..?" seru Delia melihat Irina yang baru saja keluar dari sebuah ruangan VVIP yang tak lain adalah ruang perawatan Elea. Dan yang lebih buruk lagi didalam ruangan itu ada Adrian dan Liam.
' Omaygad..kenapa dia disini ' batin Irina yang langsung ngefreeze seketika.
" Lu sakit?" Delia mendekat selangkah dan Irina reflek melangkah mundur.
" Ja..jangan dekat-dekat..gu..gue..pusing sesak nafas batuk pilek kayaknya corona deh " dengan wajah panik Irina asal menjawab,membuat Delia mengerutkan keningnya bingung.
" Corona??gak salah? "
" Iyya..corona, DBD atau virus bahaya apa belum tahu baru mau diperiksa,makanya jangan deket-deket takutnya ketularan " jawab Irina diiringi sesekali terbatuk-batuk agar Delia percaya dengan ucapannya. Delia sendiri mundur selangkah dari Irina,walaupun ia tak percaya Irina benar-benar terkena virus namun lebih baik menghindar dari pada tertular bukan.
" Dan lu sendiri ngapain kesini?"
" Aku..aku ada jadwal konsultasi dengan salah satu dokter disini " jawab Delia berbohong.
" Baiklah..temuilah dokter mu itu,gue harus memeriksa penyakit gue,kayaknya bener-bener bahaya deh " Irina kemudian perlahan mundur dan memasuki ruang perawatan Elea dengan cepat. Delia sendiri hanya menatapnya heran,Irina memang tipikal gadis random tapi untuk kali ini tingkahnya benar-benar aneh.
" Pemeriksaan kesehatan?tapi kenapa dia masuk ke ruang VVIP?" gumam Delia masih mematung memandang pintu yang tadi dimasuki Irina. Tapi dirinya tak mau ambil pusing,karena tujuannya kemari adalah untuk menemui Adrian,dan apapun yang dilakukan Irina bukanlah hal penting baginya. Delia pun segera meninggalkan ruang perawatan VVIP itu dan menuju ke ruang kerja Adrian.
Irina sendiri masih berdiri dibalik pintu bahkan sesekali mengintip keluar.
" Irina ..?? " Adrian merasa aneh melihat tingkah Irina yang seperti mengawasi sesuatu.
" Ja..jangan keluar..tunggu dulu " Irina mendorong Adrian mundur.
" Ada Delia diluar,dia pasti ingin menemui mu "
" Lebih baik temui dia,dia pasti sudah menunggu di ruangan mu " ujar Liam yang juga berada di ruang perawatan Elea.
" What?? dan meninggalkan Elea disini,kemudian bermesraan lagi dengan Delia??"
" Ya Tuhan Irina,mana mungkin aku akan melakukan itu,bukankah sudah ku bilang hubunganku dengannya sudah selesai "
" Cepat temui dia,atau istri pertamamu akan membuat kekacauan disini " pinta Liam lagi,selain karena dia tahu dan hafal kalau Delia sering berbuat onar di rumah sakit ini,Liam mengusir keluar Adrian karena dirinya ingin berdua saja dengan Irina.
Sejak pertama melihat Irina Liam memang merasa tertarik dengan gadis ini,entah mengapa sikap cerewet dan random dari Irina malah terlihat manis dimata Liam.
" Kau tunggulah disini Irina,dan jika Elea bangun nanti tolong buat dia merasa nyaman dan aman,berikanlah..."
Walaupun kadang bersikap menyebalkan namun Liam merasa bersimpati pada Adrian,dia tahu apa yang dilakukan Adrian adalah kesalahan tapi dia juga tahu Adrian sangat sangat menyesali perbuatannya.
Adrian pun keluar dan segera menuju ruangannya. Ia tahu tidak mudah menghadapi Delia nanti,namun dia harus menemui dan memberi kejelasan tentang hubungan mereka yang seharusnya memang sudah selesai.
" Duduklah nona Irina,,kau akan lelah jika berdiri terus " ucap Liam menepuk sofa disebelah ia duduk.
" Apa kau tidak bekerja?kau selalu bersama Adrian sejak tadi " tanya Irina setelah duduk di sofa yang agak jauh dari Liam.
" Aku sedang bekerja,Adrian memintaku untuk khusus menangani nona Elea "
" Memangnya boleh seperti itu??"
" Tentu saja boleh,bukankah kau juga tahu dia putra pemilik rumah sakit ini " jawaban Liam membuat Irina mangut-mangut mencoba mengerti. Sebelumnya Irina tahu Adrian adalah seorang dokter tapi ia tak tahu kalau rumah sakit mewah ini adalah milik keluarga Adrian.
" Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu nona Irina?" melihat Irina hanya diam Liam berusaha membuka pembicaraan.
" Oke,,asal aku bisa menjawabnya "
" Apakah Adrian dan nona Elea sudah dekat sebelumnya? "
" Entahlah,,setahuku Elea pernah dirawat oleh Adrian,tapi mungkin hanya kedekatan pasiennya dan dokternya,karena Elea sudah...Barra!!!" tiba-tiba saja Irina menyentakkan nama Barra,ia baru ingat kalau ada Barra di lingkaran kehidupan Elea,dan peristiwa tragis yang terjadi pada Elea seharusnya pria itu juga harus tahu.
" Apakah Barra tahu tentang kejadian ini??" Irina menatap Liam serius dan khawatir,tapi pria itu justru menatapnya dengan tatapan bingung.
" Aku bahkan tidak tahu siapa Barra " jawab Liam,dengan muka innocent tak tahu apa-apa, sembari mengingat-ingat apakah Adrian pernah menyebut nama itu ketika menceritakan kejadian buruknya dan Elea.
" Barra adalah bapaknya anak-anak,kekasih Elea,apakah dia tahu apa yang terjadi pada Elea?"
" Bapaknya anak-anak??" bukannya menjawab pertanyaan Irina Liam justru dibuat makin bingung oleh Irina.
" Oh ya tuhan dokter Liam..bapaknya anak-anak adalah panggilan sayang Elea pada Barra "
" Tapi nona Irina,,apakah mereka berdua punya anak?karena 'bapaknya anak-anak' tidak terdengar seperti panggilan sayang "
" Dokter Liam maksudku.."
Sebelum Irina menyelesaikan kalimatnya pandangan mereka berdua teralihkan oleh gerakan Elea,segera saja mereka mendekat ke arah bed pasien.