
Setelah memasuki ruangan sudah ada dua orang pria yang semuanya asing bagi Bian,seorang adalah pria tinggi tegap dengan wajah ekspresi wajah datar,sepertinya ia adalah pria berdarah campuran karena perawakan wajahnya tidak seperti pria Indonesia pada umumnya. Dan seorang lagi seorang pria bertubuh kecil cenderung kurus dengan raut muka seolah ketakutan,sesekali ia menatap pria bule di sebelahnya dan sejurus kemudian tertunduk.
" Siapa mereka dan untuk apa kau membawaku kemari? " tanya Bian yang masih berdiri.
" Duduklah dulu tuan Bian " pinta dokter Liam mendahului duduk di sebelah pria bule itu. Bian pun menuruti dan duduk tak jauh dari dokter Liam.
Sesaat hanya hening disana,hanya saling menatap satu sama lain sampai dokter Liam memperkenalkan dua pria itu.
" Dia adalah Max,Max Horison dia bisa dibilang orang kepercayaan Adrian,dan dia .. dia adalah Mario bukan orang penting awalnya,tapi karena bujukan seseorang dia jadi berperan penting dalam kasus Adrian dan Elea " seketika pandangan Bian langsung tertuju pada Mario yang salah tingkah kebingungan bagaimana harus bersikap.
" Ini alasan kenapa Adrian melakukan itu pada adikmu tuan Bian " ujarnya sembari memberikan ponsel yang tengah memutar sebuah video itu,sebuah video dimana Deli sedang berbicara dengan Mario di malam itu. Pada slide kedua adalah video CCTV saat Mario membubuhkan sesuatu di dalam gelas yang kemudian ia berikan pada Adrian.
Bian menatap heran pada dokter Liam kemudian beralih pada Mario.
" Malam itu Adrian dalam pengaruh obat perangsang yang diberikan Delia melalui Mario,dan sialnya dalam perjalanan pulang ia bertemu dengan ea yang juga dalam pengaruh alkohol " sejenak dokter Liam diam memberi jeda pada kalimatnya. Walau Bian terlihat menyimak penjelasan dokter Liam namun ekspresi wajahnya tetap datar dengan tatapan dingin.
" Aku tahu apapun uang mempengaruhi Adrian tetap saja yang dilakukannya tetap salah,tapi kau harus tahu bahwa dia juga sangat menyesalinya dan mungkin .. " dokter Liam kembali diam tak menggantung kalimatnya.
" Mungkin apa? " tanya Bian penasaran.
" Mungkin sebelum kejadian malam itu Adrian memang sudah menaruh hati pada Elea,jadi dia tidak bisa mengontrol dirinya saat bersama dengan Elea,kau tahu sendiri kan bila seorang lelaki sudah berdua dengan wanitanya " ekspresi Bian tetap datar dengan tatapan tajam saat mendengar penjelasan dokter Liam.
" Apapun alasannya bukan berati dia bisa merusak adikku begitu saja " dengan ketus Bian menanggapi maksud dokter Liam.
" Jadi kau membawaku kesini hanya untuk memperlihatkan ini?,membelanya seolah-olah dia tidak bersalah? " Imbuh Adrian dengan nada bicara yang mulai meninggi.
" Bukan seperti itu maksudku tuan Bian,bila kau tahu mungkin .. "
" Apa si brengsek itu yang menyuruhmu melakukan ini? " Bian memotong ucapan dokter Liam.
" Bukan .. tentu saja bukan begitu,ini inisiatifku karena aku ingin masalah kalian cepat selesai "
" Kau tahu,melihat Adrian yang frustasi dengan adikmu membuat pekerjaannya menjadi kacau,dan urusan rumah sakit pun ikut kacau balau karena ulahnya " ucap dokter Liam seolah mengeluarkan semua unek-uneknya. Memang benar Adrian tak pernah memintanya untuk menunjukkan video malam itu pada Bian,semuanya memang inisiatif dokter Liam sendiri,ia berfikir bila Bian mengetahui semuanya mungkin saja Adrian akan lebih mudah mendapatkan restu dari calon kakak iparnya ini. Namun sepertinya ia salah karena Bian sama sekali tak terpengaruh setelah melihat cuplikan-cuplikan video CCTV malam itu.
Tanpa mengatakan apapun Bian segera berdiri dan meninggalkan ruangan itu sembari mengangkat sambungan teleponnya. Dokter Liam sendiri hanya menarik nafas dan menghembuskan kasar menyadari usahanya telah sia-sia.
" Ini semua salahmu " hardiknya pada Mario yang kemudian tersentak dan menunduk.
" Jadi bagaimana?aku harus membawanya kembali? " tanya Max. Dokter Liam hanya mengibaskan tangannya sebagai isyarat untuk membawa Mario pergi,Max pun menarik kasar lengan Marin agar berdiri dan segera keluar.
" Ingat jangan sampai Adrian tahu kejadian ini " titah dokter Liam sesaat sebelum Max dan Mario keluar dari ruangannya.
🍂
Adrian masih duduk dikursi tunggu disebuah sudut sepi hang masih di dalam area rumah sakit. Hatinya teriris sakit membaca hasil tes lab yang tadi dilemparkan Elea dalam kemarahan. Sakit bukan karena hasil positif yang menyatakan Elea benar-benar sedang mengandung,mengandung darah dagingnya,namung hatinya terasa sakit karena dia tidak bisa melindungi bayi kecil itu,tidak bisa memaksa Elea untuk melanjutkan kehamilannya. Adrian memukuli dadanya yang terasa sesak.
" Adrian .. " panggilan dokter Liam yang tiba-tiba sudah berdiri didekat Adrian. Ia duduk dan menepuk pelan bahu Adrian. Melihat kacaunya Adrian dokter Liam memilih diam tanpa memberikan komentar apapun. Ia tahu sahabatnya ini sedang kalut.
" Apa prosedur aborsi dapat dilakukan dengan kondisi Elea saat ini? " dengan pelan dan lirih Adrian bertanya setelah diam dan menetralkan perasaanya.
" Aborsi?!pada Elea?apa kau sudah gila Adrian?! " dokter Liam tersentak kaget dengan pertanyaan Adrian.
" Kupikir selama ini kau tulus ingin bertanggung jawab,tapi ternyata?! "
" Aku ingin melakukannya Liam,aku ingin bertanggung jawab,aku ingin menikahinya,aku ingin bayi itu tetap tumbuh dalam rahimnya,aku sangat ingin melihatnya melahirkan bayi kami,tapi bagaimana dengannya?aku tidak ingin memaksanya Liam,cukup sekali aku memaksanya dan aku sangat menyesalinya sampai sekarang " Adrian menunduk kedua tangan menangkup wajahnya dengan siku bertumpu pada kedua lututnya.
" Aku tidak ingin memaksanya lagi Liam,bagaimanapun bayi itu tumbuh dalam rahimnya,aku tidak mau memaksanya mempertahankan darah dagingku disaat hatinya begitu membenciku " imbuhnya sembari menghapus air mata.
" Adrian apakah kau sungguh mencintai Elea?atau kau hanya merasa bersalah padanya? " tanya Liam.
" Entah itu cinta atau rasa bersalah apa pentingnya?Elea sudah terlanjur terluka dan sangat membenciku bukan " Adrian tersenyum ironi.
Liam kembali menepuk dan merangkul pundak Adrian untuk menguatkan sahabatnya itu. Tanpa sadar ada seorang yang sedang tak sengaja mendengar perbincangan mereka,orang itu adalah Bian yang baru saja mengakhiri percakapan teleponnya. Ia berniat kembali ke ruang perawatan Elea,namun tak sengaja ia melewati dua sahabat itu dan mendengar perbincangan mereka.
Ekspresi wajahnya sulit diungkapkan,tanpa bicara sepatah katapun ia kembali berjalan menuju ruang tempat adiknya dirawat.