One Night With You

One Night With You
PART 77



" Haruskan kakak pergi? " tanya Elea menatap sendu kakaknya.


" Tenang saja aku tidak akan lama,setelah kasusnya selesai kakak akan segera kembali " jawab Bian mengelus lembut pucuk kepala Elea.


" Aku ingin tinggal di apartemenku kak " pinta Elea setelah terdiam beberapa saat. Bian menghela nafasnya pelan,sebenarnya ia sudah membahas ini dengan Adrian sebelum mereka menikah. Adrian pun setuju dan ikut saja dimana Elea ingin tinggal,tapi bila Adrian harus bekerja ia tidak tega jika meninggalkan Elea sendirian,apalagi usia kandungan istrinya yang masih terlalu muda rentan bila harus melakukan apa-apa sendirian,maka dari itu Adrian memilih untuk tinggal di mansion keluarganya untuk sementara waktu,setidaknya sampai Elea benar-benar pulih dan tidak mengkhawatirkan jika ditinggal sendirian.


" Bersabarlah dulu dan tinggal disini untuk sementara waktu,setidaknya disini ada pelayan yang siap melayanimu kapan saja bila Adrian tidak ada bukan,semua demi kebaikanmu dan bayimu,bukankah kau yang memilih untuk mempertahankannya? " ucap Bian panjang lebar dan Elea hanya diam tertunduk mencoba memahami dan mengerti.


" Istirahatlah,kakak akan pulang oke " Bian mendekap erat tangan adiknya sebelum akhirnya ia meninggalkan kamar Adrian. Sebenarnya berat ia meninggalkan sang adik pada keluarga besar itu,tapi ia mencoba percaya pada Adrian,ia pasrahkan adik semata wayangnya pada suami sahnya,ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Adrian tulus dan akan menjaga istrinya dengan baik.


Setelah berpamitan dengan Adrian dan juga keluarganya akhirnya Bian meninggalkan mansion mewah itu. Dan tinggallah Adrian duduk termenung di pinggir kolam,dia bingung harus masuk kamar atau tidak sementara di dalam sana kini ada istri barunya. Dia takut Elea merasa tidak nyaman berada dekat dengan dirinya,tapi ia juga merasa khawatir bila harus menjngalkan istrinya tidur sendirian.


" Adrian kau disini? " panggil seseorang yang kemudian duduk di kursi kosong dihadapan Adrian. Orang itu adalah nyonya Aida.


" Ini malam pertamamu dan kau malah duduk sendirian disini? " goda nyonya Aida dengan senyuman tipisnya.


" Seharusnya mama menyiapkan dua bed di kamarku "


" Dua bed untuk pengantin baru?apa kau tidak berselera dengan istri barumu? " seloroh nyonya Aida menutup mulutnya seolah terheran dengan sikap putranya,padahal ia tahu betul apa yang sedang dipikirkan putra satu-satunya itu.


" Ma .. ini tidak lucu " Adrian mulai kesal,jelas-jelas ia sudah memerintahkan pelayan untuk menata kamarnya dengan dua bed agar Elea bisa nyaman,namun yang ia dapati kamar itu ditata sedemikian rupa layaknya kamar pengantin pada umumnya. Memang tidak ada yang salah dan meraka memang pasangan pengantin baru,tapi kasus Adrian dan Elea berbeda dimana malam pertama pasti tidak akan sama dengan pengantin baru pada umumnya.


" Oke .. oke .. mama minta maaf tidak menuruti permintaanmu mengenai dua bed itu,tapi bukankah satu bed lebih bagus jadi kau bisa lebih dekat dengan istrimu "


" Percuma berbicara dengan mama " Adrian kesal dan meninggalkan ibunya.


" Jangan terlalu bersemangat ya sayang,ingat istrimu sedang hamil muda " goda nyonya Aida setengah berteriak kemudian tertawa sendirian,rasanya ia begitu bahagia malam ini,putra kesayangannya kini kembali tinggal bersamanya dan juga jangan lupakan bonus calon cucu yang ia bawa bersamanya. Walaupun Elea bukanlah kriteria menantu idamannya tapi tak jadi masalah,setidaknya wanita pilihan putranya tidak terlalu buruk. Elea dari keluarga baik-baik,kakaknya yang seorang pengacara ternama yang selalu berhasil menangani kasus juga merupakan poin plus dimata nyonya Aida,setidaknya Elea dan keluarganya tidak memiliki cacat dan scandal yang dapat mencoreng nama keluarga besar Adrian.


Beberapa saat Adrian menunggu di depan pintu kamarnya,dan beberapa kali pula ia ingin mengetuk pintu itu namun urung ia lakukan. Ia takut kedatangannya malah akan mengganggu Elea yang mungkin saja sudah tidur terlelap.


Namun sesaat kemudian ia paksakan dirinya untuk mengetuk pintu kemudian memasuki kamar itu. Hening tak ada suara.


Beberapa kali ia mengetuk pintu kamar mandi,tapi tak ada sahutan. Karena khawatir Adrian terpaksa menerobos masuk,karena pintunya pun tidak terkunci jadi Adrian tidak perlu repot-repot mendobraknya seperti adegan di film-film.


Dan adegan pertama yang ia lihat adalah istrinya yang tengah duduk dibawah menghadap closet,sepertinya Elea baru saja muntah.


" Kau tidak apa-apa? " tanya Adrian dengan panik sembari mengelus dan memijak pelan tengkuk Elea. Istrinya hanya menggeleng dan kemudian berusaha berdiri.


" Hati-hati,,perlu aku gendong? " Elea hanya menggeleng,dengan tertatih ia berjalan keluar dari kamar mandi dibantu oleh suaminya.


" Kau yakin tidak apa-apa?atau perlu kupanggilkan Alex? " tanya Adrian kembali saat Elea sudah duduk ditepian ranjang. Sekali lagi Elea hanya menggeleng tanoa bersuara.


" Minumlah dulu " pinta Adrian menyodorkan segelas air putih,segera Elea meminumnya sampai tandas. Tenggorokannya terasa pahit dan perih setelah memuntahkan isi perutnya beberapa saat yang yang lalu.


" Kenapa kau belum berganti pakaian?pasti tidak nyaman memakai pakaian seperti ini bukan " Adrian mengamati istrinya yang masih memakai dress pengantinnya,entah mengapa istrinya itu masih memakainya padahal didalam ruang ganti sudah disiapkan seabrek pakaian untuk Elea. Melihat istrinya hanya diam Adrian berjalan menuju ruang ganti kemudian kembali dengan membawa one set piyama katun yang nyaman dipakai.


" Gantilah pakaianmu dan istirahatlah,kau sudah minum obat kan " Elea mengangguk tak berani menatap pada Adrian.


" Akan kupanggilkan pelayan untuk membantumu berganti pakaian " ujar Adrian hampir beranjak pergi namuan suara Elea menghentikannya.


" Tidak perlu,aku bisa sendiri " Elea beranjak berdiri tapi belum sampai tegak ia sudah terhuyung,untung saja Adrian sigap menangkapnya. Adrian kemudian menggendongnya dan membaringkan Elea di ranjang.


" Bagaimana bisa baik-baik saja kalau berdiri saja kau hampir jatuh,aku kan menelpon Alex " omel Adrian yang begitu panik melihat istrinya dengan keadaan seperti itu,ia takut mungkin saja Elea kelelahan dan berdampak pada kandungannya.


" Tidak perlu dokter Adrian,aku memang sering pusing dan lemas setelah muntah,tapi nanti juga membaik " Adrian menghela nafasnya kasar,selain kesal karena istrinya yang keras kepala,ia juga kesal karena sampai sekarang istrinya masih memangilnya 'dokter Adrian'.


" Elea .. " lirih Adrian sembari duduk di tepian ranjang.


" Bisalah kau memanggilku tanpa embel-embel dokter " pinta Adrian dengan suara lembut dan tatapan mata teduh. Sementara Elea hanya tertunduk tak berani membalas tatapan itu. Sesaat kemudian ia tersentak merasakan Adrian mendekap jemarinya,ia berusaha menariknya tapi dekapan Adrian terlalu erat.


" Cobalah untuk menerimaku sebagai suamimu,ya .. aku mohon " dengan tulus dan lembut Adrian mengatakan kalimatnya. Membuat susunan kata itu terdengar indah ditelinga Elea,entah karena hormon kehamilan atau yang lainnya tapi Elea merasa tersentuh dengan apa yang dilakukan suaminya.