
Adrian menarik kursi tunggal dan mendekat ke arah bed pasien. Sebelum duduk disana ia melihat reaksi Elea terlebih dahulu apakah wanitanya itu merasa takut atau tidak. Setelah dirasa Elea hanya menunjukkan reaksi normal Adrian kemudian duduk disana. Pandangannya masih tertuju kepada Elea yang hanya menunduk tanpa mau menatapnya.
" Elea..aku minta maaf,aku akan..."
" Mari kita lupakan semuanya dokter " pinta Elea memotong ucapan Adrian yang belum selesai.
" Apa maksudmu Elea?"tanya Adrian sedikit mendekatkan kepalanya kearah Elea yang masih menunduk.
" Yang terjadi malam itu...aku ingin kita melupakannya " mata Elea mulai berkaca-kaca,namun sekuat tenaga ia tahan agar tak sampai menangis didepan Adrian.
Mendengar ucapan Elea semua kata-kata yang sudah Adrian siapkan terasa tercekat dan tak mampu ia ucapkan. Semula Adrian ingin meminta maaf tulus karena dia tersiksa dan sangat menyesali perbuatannya malam itu dan dia juga ingin bertanggung jawab pada Elea dan ingin menikahinya namun apa yang ia dengar kini sangatlah bertolak belakan dengan apa yang ia bayangkan. Bahkan Elea memintanya untuk melupakan malam yang sudah membuat kehormatan terenggut paksa.
" Tapi aku tidak mau,aku akan tetap bertanggung jawab " ujar Adrian tegas,karena ia tak punya alasan untuk menyanggupi keinginan Elea dan melupakan malam itu.
" Aku mohon dokter,jika kau benar-benar menyesal dan ingin menebus kesalahanmu maka tolong lupakan semuanya,anggaplah tak terjadi apa-apa diantara kita " kini Elea memberanikan diri menatap Adrian. Dan saat itu pula ia tak dapat menahan air matanya yang seketika menetes bebas membasahi pipinya.
" Elea..bagaimana mungkin aku melupakannya begitu saja sementara aku telah merusak mu begitu dalam,aku bahkan malu melihat diriku sendiri bagaimana mungkin aku pergi tanpa bertanggung jawab kepadamu " Adrian kembali mencondongkan tubuhnya mendekat pada Elea,menatap langsung pada manik mata yang sembab dan basah karena air mata itu. Ingin sekali ia mengusap air mata Elea namun ia tak berani ia takut reaksi Elea akan kembali menegang.
" Dan bagaimana dengan Delia??apakah kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Delia dokter?kekasih yang sangat ia cintai meniduri sahabatnya sendiri bahkan menikahinya?? " deraian air mata Elea tak terbendung lagi. Kini Adrian memberanikan diri untuk bangkit dan segera memeluk Elea untuk menenangkan wanitanya. Tak perduli walau Elea meronta ingin melepaskan pelukan Adrian namun Adrian tak bergeming sedikitpun tetap mendekap Elea sampai wanita itu melemah dan pasrah dengan pelukan Adrian.
" Maafkan aku Elea..maafkan aku..." desis Adrian sembari mencium pucuk kepala Elea,ia bahkan merasakan kemejanya basah oleh air mata Elea.
Isakan tangis Elea mulai melambat dan Adrian pun mulai mengurai pelukannya saat merasa Elea sudah lebih tenang. Tangannya perlahan mengusap sisa-sisa air mata Elea walaupun tangannya ditangkis oleh Elea.
" Apapun yang terjadi aku akan bertanggung jawab Elea,dan tentang Delia...aku yakin dia akan mengerti " Adrian memilih untuk tidak mengatakan terlebih dahulu kalau memang hubungan mereka sudah berakhir sebelum malam itu terjadi,dia akan memberitahukannya nanti setelah pikiran Elea sudah benar-benar tenang dan membaik.
" Istirahatlah dulu,kita akan membahasnya lagi setelah kondisimu benar-benar sehat " ucap Adrian seraya berdiri kemudian meninggalkan ruangan Elea setelah sebelumnya membelai lembut pucuk kepala Elea,walaupun lagi-lagi mendapat penolakan dari Elea.
Elea sendiri hanya diam walaupun ia tetap pada pendiriannya untuk melupakan malam itu. Ia tidak mau menjadi perusak hubungan Adrian dan Delia. Walaupun kini dirinya sudah tak utuh lagi karena perbuatan Adrian namun bukan berati harus menjerat lelaki itu untuk bertanggung jawab. Asalkan dirinya tidak sampai hamil semuanya akan baik-baik saja tanpa harus menuntut tanggung jawab dari Adrian.
' Hamil??bagaimana jika aku hamil? 'batin Elea mulai cemas,karena jika benar dirinya sampai hamil maka keadaanya tidak akan semudah yang ia bayangkan. Namun segera ia menepis kemungkinan itu.
' Semoga saja itu tidak terjadi ' ia kembali berucap dalam hati,mencoba tenang dan menepis kemungkinan itu.