One Night With You

One Night With You
Cinta Atau Rasa Bersalah?



Sementara Adrian yang lebam dan nyeri diseluruh tubuhnya kini berhasil sampai di rumah sakit tempat ia bekerja,tanpa memperdulikan tatapan heran orang-orang yang tak sengaja berpapasan dengannya Adrian terus berjalan cepat untuk menemui Liam. Setidaknya dia harus meminta obat pereda nyeri atau sejenisnya dan juga salep apapun itu untuk dioleskan ke area wajahnya yang hampir dipenuhi luka lebam.


" Dokter Adrian .. Dokter Adrian kenapa?? " tanya dokter Imelda dokter muda nan cantik yang bergelar Sp.KK itu sembari mengikuti langkah Adrian yang tergesa.


" Saya tidak apa-apa dokter Imelda,tadi hanya tak sengaja terjatuh " jawab Adrian dengan senyuman yang dipaksakan namun tetap berjalan walau kini sedikit melambat.


" Apakah anda ingin saya obati? " dokter Imelda menawarkan bantuannya dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin.


" Anda .. ?? " langkah Adrian terhenti,rasanya aneh saja dokter Imelda yang merupakan seorang dokter spesialis kulit dan kelamin menawarkan diri mengobati lukanya yang jelas jauh dari spesialis dokter Imelda.


Dokter Imelda hanya mengangguk pelan masih dengan senyum yang sama " Kalau anda berkenan tentu saja " imbuhnya kemudian.


" Terimakasih dokter Imelda,ini hanya luka kecil akan segera sembuh hanya dengan betadine dan alkohol " ucap Adrian kembali mengayunkan kakinya.


" Tapi dokter Adrian anda mungkin ... "


" Emm .. dokter Imelda sepertinya pasien di ruang pemeriksaan anda mengantri cukup banyak,akan lebih baik kalau anda segera menuju kesana " Adrian kembali menghentikan langkahnya dan memotong kalimat dokter Imelda yang belum selesai,ia tidak ingin repot-repot meladeni dokter cantik nan seksi itu,apalagi pening di kepalanya kini terasa lebih parah.


" Benarkah?tapi jadwal saya masih sekitar dua puluh menit lagi dokter Adrian " dokter Imelda berkilah sambil menunjukkan jam di pergelangan tangan kanannya.


" Tapi sebaiknya anda bersiap-siap lebih dulu,tidak lucu kalau pasien anda melihat riasan make up anda yang sedikit luntur " tutur Adrian dengan memaksa menarik ujung bibirnya,ia mencari alasan agar bisa membebaskan diri dari dokter yang sudah beberapa lama ini juga menaruh perhatian padanya. Tak heran jika banyak dokter wanita atau suster yang menaruh perhatian padanya,selain tampang yang berkilau dan prestasi yang cemerlang,semua dokter dan karyawan rumah sakit itu tahu kalau Adrian adalah putra satu-satunya pemilik yayasan rumah sakit elit itu.


" Luntur?! " dokter Imelda memegangi pipi kanan dan kirinya secara bergantian.


" Padahal baru saja touch up,tidak mungkin luntur bukan " imbuhnya sembari mengeluarkan cermin kecil dari saku almet dokternya. Dan yang dilihatnya adalah pantulan wajahnya yang masih mulus bening dan cantik tak terlihat make up nya luntur sedikitpun.


" Tidak mungkin luntur dokter Adrian karena aku .. " belum sempat menyelesaikan kalimatnya ucapan dokter Imelda langsung terhenti saat menyadari tak ada siapapun di sampingnya. Ia menengok kanan,kiri belakang namun tak terlihat sosok dokter Adrian yang tadinya berdiri cukup dekat dengannya.


" Kemana perginya dokter Adrian..?? " gumamnya sembari mengedarkan pandangan matanya.


...----------------...


Adrian meringis menahan perih di sudut bibir dan pelipisnya,baru saja dokter Liam dan seorang suster membersihkan dan mengobati lukanya. Adrian juga memakai kembali kemejanya setelah sebelumnya ia lepaskan agar Liam bisa memeriksa luka diarea perut dan dadanya,untung saja tak ada yang serius hanya memar dan lebam yang akan membaik setelah beberapa hari,tidak ada luka dalam yang disebabkan oleh pukulan Bian.


" Jadi katakan padaku apa yang terjadi sampai Adrian yang cinta damai terlibat baku hantam sampai seperti ini? " tanya dokter Liam setelah selesai mencuci tangannya di sebuah wastafel kecil di sudut ruangan. Ia berjalan mendekat ke arah Adrian yang baru selesai mengancingkan kemejanya.


" Bian sudah tahu semuanya?dia sangat marah dan memukulku habis-habisan" jawab Adrian turun dari ranjang pemeriksaan dan duduk dikursi ditengah ruangan.


" Bian??Bian kakaknya Elea maksudmu? " Adrian hanya mengangguk memberi jawaban pada dokter Liam.


" Baguslah dia tidak sampai membunuhmu " Adrian tidak menunjukkan ekspresi tersinggung atau marah mendengar perkataan dokter Liam,karena benar yang dikatakan sahabatnya itu wajar saja Bian mengamuk dan memukulinya habis-habisan dan dia beruntung pria itu tak sampai membunuhnya.


" Lalu ?? " dojter Liam kembali mengorek informasi saat Adrian hanya terdiam.


" Dia memintaku untuk menjauhi adiknya " ucap Adrian menutup matanya,ada gurat kecewa dan frustasi diwajahnya.


" Waoow .. seorang pengacara tidak menuntutmu walau sudah memperkosa adiknya?! kau benar-benar luar biasa Adrian " dokter Liam bertepuk tangan dengan ekspresi wajah yang terlihat menyebalkan di mata Adrian.


" Pergilah sejauh mungkin Adrian selama Bian belum berubah pikiran " kalimat dokter Liam kembali terasa menjengkelkan ditelinga Adrian. Entah sebenarnya sahabatnya ini sedang mendukungnya atau mencelanya karena kalimatnya selalu berhasil membuat Adrian merasa lebih frustasi.


" Aku ingin bertanggung jawab Liam,berapa kali harus aku katakan?! "


" Kenapa kau bersikeras ingin bertanggung jawab? " tanya dokter Liam sembari menekuk dua kali jari telunjuk dan jari tengah dikedua tangannya,seperti membentuk tanda kutip tak kasat mata.


" Apa mungkin karena kau menaruh rasa pada korbanmu?apakah itu rasa cinta atau rasa bersalah? " Adrian terdiam. Sebenarnya ia juga masih bingung dengan apa yang dia rasakan pada Elea,sejak kejadian itu pikirannya selalu dipenuhi dengan Elea,walaupun sebelumnya dia juga menaruh perhatian pada novelis cantik itu namun semua terasa berbeda setelah kesalahan yang ia perbuat pada Elea. Dia pun bingung mendeskripsikan keinginannya untuk bertanggung jawab,dia ingin bertanggung jawab karena dia memang salah atau dia ingin bertanggung jawab karena sebuah rasa yang mungkin saja benih-benih cinta tak kasat mata.