One Night With You

One Night With You
PART 83



" Kau mau makan apa lagi?cemilan mungkin? " tanya Adrian saat mereka sudah berada di dalam mobil. Nafsu makan Elea sangat baik saat menyantap sushi tadi,yah walaupun dibantu minum vitamin B6 dulu sebelum makan tapi setidaknya istrinya itu tidak merasakan mual sama sekali.


" Aku sudah sangat kenyang,perutku sepertinya sangat penuh " Elea tersenyum sembari mengelus perutnya.


" Kalau kau mau makan sesuatu katakan saja aku akan mencarikan apapun yang kau mau " Adrian ikut mengelus perut istrinya dengan lembut dan sayang.


" Benarkah .. apapun yang ku mau? " mata Elea berbinar,sepertinya memang ada sesuatu yang ia inginkan.


" Katakan,apa yang kau inginkan? " Adrian tampak antusias.


" Emm ... " sejenak Elea berpikir untuk mengatakannya atau tidak,karena mungkin situasinya tidak mendukung.


" Aku mau .. Delia .. aku ingin menemui Delia " walaupun Elea menjawab dengan suara pelan tapi suaranya seperti sesuatu yang menyakiti gendang telinga Adrian. Nama yang sudah Adrian kubur dalam-dalam kini kembali diucapkan oleh sang istri.


" Apa maksudmu Elea? "


" Tidakkah kau ingin menemui Delia?setidak cari tahulah dimana dia sekarang " Elea menunduk ia tahu obrolan ini sangat tidak baik untuk hubungannya dengan Adrian,tapi ada sesuatu yang mengganjal hatinya,ia memulai sebuah hubungan dan berharap bahagia sementara ada hati orang lain yang teriris pedih,hati itu adalah milik Delia yang sekarang memilih pergi dan menghilang.


" Untuk apa aku mencarinya?terakhir kali aku bertemu dengannya dia sedang menamparmu,jadi untuk apa aku menemuinya? " jelas Adrian yang mulai bad mood. Baru saja ia merasa bahagia tapi kebahagiaan itu langsung menguap gara-gara satu nama.


" Itu karena dia emosi dan sedang marah,aku hanya tidak mau bahagia di atas penderitaannya "


" Memangnya kau bahagia?katakan padaku apa kau bahagia selama ini? " Elea terdiam,yaa akhir-akhir ini bahkan ia lupa apa itu bahagia,tepatnya setelah malam kelamnya bersama Adrian Elea hampir tak pernah merasakan bahagia pada dirinya.


" Maafkan aku " Adrian menggenggam tangan istrinya saat menyadari sang istri terdiam karena kata-katanya barusan. " Kita akan menemui Delia,tapi tidak sekarang " Adrian mengakhiri kalimatnya dengan mengecup lembut tangan sang istri.


" Kita pulang ya,jangan memikirkan yang tidak penting " ujar Adrian mengancingkan sit belt istrinya,Elea pun hanya diam dan tak ingin mendebat suaminya.


Selama perjalanan pun mereka masih saling diam,sebenarnya Elea yang lebih banyak diam. Beberapa kali Adrian mencoba membuka pembicaraan tapi hanya ditanggapi datar oleh sang istri. Suaminya itu malah menggenggam tangannya erat bahkan sesekali mengecupnya,membuat Elea semakin risih dan kesal. Beberapa kali ia mencoba menarik tangannya,tapi Adrian sama sekali tak berniat melepasnya,dokter tampan itu malah cengar-cengir melihat ekspresi kesal sang istri.


" Aku mau es cream " pinta Elea,ia terpaksa mencari alasan agar Adrian melepaskan tangannya.


" Es cream? "


" Ya aku mau es cream,rasa vanila jangan terlalu manis "


" Baiklah,kita lihat adakah mini market didekat sini " jawab Adrian sembari memperlambat laju mobilnya. Tak sampai sepuluh menit akhirnya Adrian menepikan mobilnya didepan sebuah minimarket.


" Aku juga mau permen rasa mint,oh ya es creamnya jangan terlalu besar "


" Baiklah istriku " jawab Adrian mengusap lembut pucuk kepala Elea. Lelaki tampan itupun keluar dan menuju minimarket. Dalam hati Elea lega akhirnya tangannya terbebas dari cengkraman dan kecupan Adrian. Dilihatnya cincin berlian yang melingkar di jari manisnya,sebuah simbol pengikat antara dirinya dan Adrian,bukan hanya cincin yang merupakan benda mati ini,tapi sebuah kehidupan di rahimnya kini juga mengikat dirinya Adrian. Tapi entah mengapa walaupun terikat secara sah dengan Adrian tapi seakan ada tembok tinggi nan kokoh yang menghalangi hati Elea.


" Ini yang kau minta sayang " Adrian tiba-tiba sudah kembali ke dalam mobil,membuyarkan lamunan Elea.


" Aku mau permen mintnya "


" Tapi es creamnya? "


" Aku sudah tidak ingin es cream,kau saja yang makan " Adrian hanga bisa bengong melihat istrinya yang malah membuka permen tanpa rasa bersalah,padahal baru beberapa saat yang lalu ia merengek minta cepat-cepat berhenti hanya untuk makan es cream.


" Makanlah .. es cramnya keburu meleleh " Adrian pun hanya bisa tersenyum melihat kelakuan istrinya,walaupun merasa dikerjai tapi ia merasa senang,mungkin memang beginilah mood wanita hamil yang sering berubah-ubah. Kemudian Adrian membuka bungkus es cream itu dan menikmatinya,sembari mengecek pesan dan telepon yang masuk. Dan benar saja mamanya sudah mengirim pesan beberapa kaki dan juga ada beberapa panggilan masuk. Pasti Nyonya Aida khawatir putranya melanggar janji dan kembali tinggal di apartemen. Sembari sesekali menjilat es creamnya Adrian membalas pesan satu persatu,mulai dari mengabari mamanya,serta mengalihkan beberapa tugas rumah sakit yang ia tinggalkan,tak lupa juga pesan-pesan random dari Liam.


Melihat suaminya yang asik menikmati es cream membuat Elea menjadi menginginkan es cream itu padahal sebelumnya ia tak bernafsu sedikitpun untuk merasakan es cream vanila yang kini di pegang oleh Adrian. Melihat lelehan es cream yang kemudian dijilat oleh Adrian membuat tenggorokan Elea terasa kering.


" Adrian .. aku mau- " lirih suara Elea tak berani melanjutkan.


" Hemmt? " jawab Adrian dengan tatapannya yang masih tertuju pada layar handphone.


" Aku mau es cream lagi " seketika Adrian langsung menatap istrinya.


" Kau mau es cream?kenapa tidak bilang dari tadi,tunggu ya aku belikan yang baru " Adrian hampir membuka pintu mobilnya saat Elea mengambil es cream yang ia pegang.


" Aku mau yang ini saja,tidak usah beli lagi " Elea menyerobot es cream ditangan Adrian dan langsung menjilatnya.


" Tapi Ele itu bekasku "


" Tidak apa-apa dari pada beli lagi,terlalu lama " jawab Elea santai sembari menikmati es creamnya.


Walaupun terasa aneh tapi ada perasaan hangat di hati Adrian,Elea tanpa ragu dan risih mau menikmati es cream bekas dirinya. Diam-diam Adrian menarik ujung bibirnya membuat senyuman manis terbit disana.


" Pelan-pelan " Adrian membelai pucuk kepala Elea layaknya membelai bocah kecil yang sedang asik menikmati es cream. Entah itu karena hormon kehamilan atau lainnya tapi Adrian senang melihat tingkah istrinya malam ini.


" Lihatlah sampai belepotan seperti ini " dengan lembut Adrian mengelap sisa es cream di sudut bibir Elea kemudian menjilatnya,tidak ada perasaan risih apalagi jijik,seperti mereka memang sudah dekat layaknya suami istri.