One Night With You

One Night With You
26. Penolakan



" Elea.. " sentak Adrian yang terbangun dari tidurnya,bayangan tentang wajah pucat dan tubuh Elea yang begitu dingin tiba-tiba saja masuk ke alam bawah sadarnya. Padahal dialah tersangkanya,kenapa dia pula yang merasa trauma pada kejadian buruk malam tadi.


Untung saja sentakan suaranya tak sampai membangunkan Elea,selain karena jarak sofa dan bed pasien yang lumayan jauh mungkin pengaruh obat penenang yang diberikan Liam masih bereaksi ditubuh Elea.


Jam dinding disebelahnya masih menunjukan pukul 03.45 berati belum sampai satu jam ia tertidur. Karena Elea juga belum bangun ia memilih keluar untuk membersihkan diri di paviliun yang tersedia dilantai paling atas di rumah sakit ini.


Rumah sakit ini memang dilengkapi beberapa paviliun khusus dilantai paling atas,paviliun tersebut memiliki fasilitas layaknya hotel bintang lima. Hanya para petinggi rumah sakit saja yang bisa menggunakan paviliun ini. Selain digunakan oleh para petinggi rumah sakit,paviliun khusu ini juga dapat digunakan para dokter terbaik yang mungkin tidak bisa pulang pergi karena jadwal pasiennya yang begitu padat.


Dan Adrian sendiri punya satu paviliun khusus yang kadang ia tempati. Kadang jadwal operasi atau praktik membuat ia malas bolak balik pulang ke apartemen,kadang juga ia malas kembali ke apartemen karena Delia sering datang tiba-tiba tanpa memberitahunya.


Sebelum keluar dari kamar tersebut Adrian kembali menoleh ke arah Elea,perempuan itu masih tertidur dengan nafas teratur dan begitu damai. Membuat Adrian bisa melangkah keluar dengan tenang.


Sesampainya di paviliun Adrian segera menuju ke kamar mandi,membasuh wajahnya beberapa kali.


' Kenapa kau sangat bodoh Adrian? ' gumamnya sembari menatap pantulan dirinya pada kaca besar dihadapannya.


Guyuran air hangat dari shower mengalirkan hawa hangat ke seluruh tubuh Adrian,membuat rasa tegang dan cemas yang melingkupinya perlahan memudar. Walaupun bayangan wajah Elea yang menangis pedih dalam kungkungannya masih jelas terlintas dalam ingatannya.


' Aku akan menebus kesalahanku Elea,aku akan bertanggung jawab,aku akan membuatmu menjadi milikku,akan membuatmu bahagia di sisiku ' batin Adrian penuh kesungguhan dan ketulusan.


Dengan cepat ia menyelesaikan membersihkan diri dan segera kembali ke ruang perawatan Elea,ia ingin berada disampingnya saat Elea terbangun nanti. Walaupun mungkin saat bangun wanitanya itu akan memakinya atau bahkan menamparnya itu akan lebih baik untuk Adrian.


...****************...


Sesaat Adrian menatap wajah pucat Elea. Jemarinya ingin sekali membelainya,membisikkan kata maaf tulus kepadanya. Namun Adrian tak memiliki keberanian untuk itu. Rasanya tak mampu dirinya untuk menyentuhkan tangan kotornya pada wanita dihadapannya ini.


Rasa sesak dan sesal dihatinya membuat Adrian mundur menjauhi bed pasien tempat Elea terbaring. Setitik air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia pun memilih keluar karena dadanya begitu sesak saat melihat Elea yang terbaring lemah seperti itu.


Dan di detik Adrian keluar dari ruang VVIP itu,Elea mengerjap mulai bangun dari alam bawah sadarnya. Yang dilihatnya saat pertama kali membuka mata adalah sebuah ruangan dengan nuansa putih dan semburat warna keemasan yang begitu elegan. Ia berusaha menyentuh kepalanya yang terasa berat dan pening,namun tertahan oleh selang infus ditangannya.


Namun siapakah yang membawanya kemari,terakhir yang dia ingat dirinya meringkuk di bathtub dengan rasa dingin yang menusuk. Dan alasan yang membuatnya memilih menenggelamkan diri di bathtub itu adalah peristiwa pedih saat kehormatannya direnggut paksa oleh kekasih dari sahabatnya. Mengingat peristiwa malam itu tiba-tiba jantung Elea berdetak kencang,air matanya mulai mengalir deras kedua tangganya mencengkram erat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


Ceklekk... Adrian memasuki ruangan langsung bertemu pada tatapan Elea yang sudah sepenuhnya sadar dan dengan air mata diwajahnya.


" Elea ... " Adrian melangkah cepat mendekati Elea,namun langkahnya segera terhenti saat melihat raut wajah panik dan tatapan antisipasi di mata Elea.


" Elea..aku..." perlahan Adrian melangkah.


" Stop..jangan mendekat " Elea begitu panik bahkan hendak turun dari bed pasien,membuat Adrian menghentikan langkahnya.


" Tenanglah Elea..aku tidak akan menyakitimu " Adrian berbicara selembut mungkin,melangkah maju kearah Elea. Namun wanitanya itu justru mencoba melepas infus di punggung tangannya. Adrian pun secepat kilat langsung mencengkram kedua tangan Elea.


" Elea aku mohon tenanglah "


" Lepaskan..jangan menyentuhku.." Elea mulai panik luar biasa bersamaan dengan tangisan histeris. Bayangan tentang dirinya terkungkung tanpa bisa menolak Adrian yang memaksakan kehendaknya,membuatnya tak bisa mengendalikan diri. Adrian segera menekan tombol nurse call agar Elea dapat segera ditangani. Tak menunggu lama beberapa suster pun masuk diikuti oleh Liam dibelakangnya.


" Keluarlah Adrian..aku akan mengurusnya " ucap Liam dengan nada tenang,dia tidak mau kepanikan dan kecemasan Adrian merecokinya dalam menangani pasien. Adrian pun pasrah dan keluar ruangan.


Jelas sekali Elea tidak menerima kehadirannya,dia bahkan histeris hanya dengan melihat dirinya. Lalu bagaimana dia bisa merawat Elea nanti. Seingatnya Delia pernah bilang Elea sudah tidak memiliki orang tua,hanya Bian'lah satu-satunya keluarganya namun pria itu kini berada di Bali dan Adrian pun tak tahu nomor teleponnya. Siapa lagi yang dapat ia hubungi untuk menjaga Elea?.


Haruskah ia menghubungi sahabatnya?tapi siapa?tidak mungkin dia menghubungi Delia karena bukannya merawat Elea dia pasti akan mengamuk luar biasa kalau tahu kejadian malam tadi. Vania?? tapi pasti dia sedang mempersiapkan pernikahannya. Satu-satunya orang yang bisa ia mintai tolong adalah Irina,ya Irina. Mungkin saja Irina dapat membantunya untuk menenangkan dan merawat Elea. Karena yang dibutuhkan Elea saat ini adalah dukungan dari seseorang yang dapat menguatkannya.


Adrian segera menghidupkan ponselnya yang sengaja ia matikan setelah panggilan dari mamanya. Puluhan notif pesan dan panggilan mulai muncul satu persatu. Namun Adrian tak perduli pesan apa dan dari siapa itu,yang dicarinya kini adalah nama Max di daftar kontaknya.


Max Horison seorang mantan intel yang selalu membantu Adrian saat diperlukan. Dia yakin Max dapat segera menemukan dan membawa Irina padanya.