
" Aku tahu tidak mudah bagimu menerima ini Elea,mengandung benih dari lelaki yang tak pernah kau harapkan apalagi kau cintai,jadi aku tidak akan egois dan memaksamu melanjutkan kehamilan ini,semua keputusan ada padamu " ujar Adrian dengan suara bergetar,walau jarak mereka berdua tidak terlalu dekat bahkan bisa dibilang agak jauh namun Elea dapat melihat kedua mata Adrian yang berkaca-kaca. Elea pun menunduk tak ingin berlama-lama menatap Adrian.
" Walaupun aku merasa bahagia luar biasa,tapi janin itu tumbuh dalam rahimmu Elea jadii .. jadi aku tak mau memaksamu .. "
" Kau ingin aku menggugurkannya " Elea tersenyum ironi,Elea mengartikan kalimat-kalimat Adrian bagaikan seorang lelaki yang ingin lepas tanggung jawab setelah semua yang telah terjadi.
" Bukan seperti itu Elea maksudku .. "
" Dia bahkan belum tumbuh sempurna menjadi bayi dan kau ingin aku membunuhnya?begitu maksudmu? " Elea kembali memotong kalimat Adrian,menyimpulkan apa yang dikatakan Adrian dengan pikirannya sendiri.
" Bukan begitu Elea .. aku .. aku sangat menginginkannya tapi bagaimana denganmu?aku tahu ini tidak seperti keinginanmu,aku tahu kau begitu tersiksa dengan semua ini "
" Jika kau tahu aku akan tersiksa dengan semua ini kenapa kau tega melakukannya dokter Adrian?! kenapa harus aku?! " Elea melemparkan kertas hasil tes labnya kearah Adrian bersamaan dengan itu tangisnya mulai pecah,Adrian yang melihat itu pun mendekat dan berusaha menenangkan Elea walauoun Elea menolak bahkan memukulinya.
" Maafkan aku .. aku mohon maafkan aku " Adrian mendekap erat tubuh rapuh Elea walaupun wanitanya itu tetap memukuli dadanya,namun berangsur-angsur gerakan Elea melemah dan terdiam dalam pelukan Adrian,tidak menolaknya tapi juga tidak membalasnya hanya diam karena merasa tubuhnya mulai melemah dan terasa lelah,lelah fisik hati dan juga pikirannya.
Adrian sendiri tak mengatakan apa-apa lagi,hanya memeluk sembari sesekali mengelus lembut pundak Elea,mencoba membuat wanitanya tenang. Ia sendiri merasakan rasa sakit saat melihat keadaan Elea seperti itu,dirinya pun bingung harus bagaimana menanggapi kabar kehamilan Elea ini,Adrian sebenarnya ingin Elea mempertahankan bayi mereka,membiarkan janin kecil itu terus tumbuh di dalam rahim wanita yang ia cintai,namun dia sendiri sadar bagaimana hubungan keduanya,karena sebuah kesalahanlah janin kecil itu tumbuh di sana. Tapi Adrian tidak bisa memaksa Elea terus mempertahankan kehamilannya. Walaupun rasanya kejam membuang atau bahkan bisa dibilang melenyapkan janin yang tidak bersalah itu, tapi bagi Adrian memaksa Elea dengan keadaan yang sama sekali tidak dia inginkan juga sama kejamnya.
Elea perlahan mendorong dada Adrian membuat pria itu berjarak dari dirinya. Diusapnya sisa-sisa air mata di pipinya. Ia menarik nafas dalam-dalam mencoba menetralkan perasaan dan emosinya.
" Istirahatlah,jangan dipikirkan bila kau tidak menyukai apa yang kukatakan tadi " Adrian sejenak terdiam seolah menimbang apakah ia harus melanjutkan kalimatnya atau tidak.
" Elea .. " desisnya kembali duduk di ranjang dan saling berhadapan dengan Elea walaupun wanita itu menunduk tak ingin memandangnya.
" Aku bersedia bertanggung jawab dan menikahimu bila kau menerimaku,aku juga siap kapanpun kau ingin menuntutku secara hukum,bukti-bukti pemeriksaan medismu malam itu pun juga masih aku simpan dan .. mengenai kehamilan ini .. aku serahkan semua keputusan kepadamu,tetap mempertahankannya atau ... " Adrian tak melanjutkan kalimatnya,ada perasaan tidak rela jika harus kehilangan janin itu.
" Istirahatlah .. " ucap Adrian seraya berdiri,sejenak ia memandang Elea kemudian dengan berat dia melangkah menjauh dan keluar dari ruangan itu.
Sepeninggal Adrian Elea masih diam dan kembali menangis,perlahan telapak tangannya menyentuh perutnya yang masih datar. Didalam rahimnya kini ada sebuah kehidupan yang bergantung padanya. Sebuah kehidupan kecil dari sebagian dirinya dan sebagian dari pria yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
" Apa yang harus kulakukan " gumamnya disela isakan tangis. Jujur ia tak pernah menginginkan anak ini,apa lagi karena kesalahanlah janin ini kini tumbuh dalam dirinya,namun melenyapkannya juga tidak mungkin ia lakukan karena apapun yang terjadi janin kecil ini tidak bersalah sama sekali.
...****************...
" Tuan Bian ikutlah denganku " dokter Liam mendorong paksa Bian ikut melangkah bersamanya.
" Kau mau membawaku kemana? " Bian mencoba menolak tapi dokter Liam tetap mendorongnya walaupun tidak dengan gerakan kasar.
" Dan kau .. kau tunggulah disini,juka Adrian keluar maka masuklah dan jagalah Elea " dokter Liam berhenti sejenak untuk menghentikan Irina yang tadinya mengikuti langkahnya. Dan tanpa menunggu jawaban Irina dokter Liam kembali berjalan sambil menarik Buan untuk mengikutinya.⁰
" Apa ... memangnya siapa dirimu berani memerintahku .. ?! " Irina mengomel pada dokter Liam walaupun tak digubris oleh dokter tampan itu.
🥀
" Sebenarnya kemana kau akan membawaku?! " tanya Bian yang kini sudah terlepas dari cekalan dokter Liam.
" Ke sebuah kenyataan " jawab dokter Liam dengan enteng sambil terus berjalan. Bian yang sedang tidak mood berdebat pun hanya diam sambil terus berjalan mengikuti dokter Liam. Hingga mereka sampai di depan sebuah ruangan.
" Masuklah tuan Bian,mungkin kau akan mengubah keputusanmu jika mengetahui semuanya " ucapnya dengan membukakan pintu untuk Bian. Bian hanya menatap tajam kearah dokter Liam dan kemudian memasuki ruangan yang ternyata ruang pribadi dokter Liam.