
Sesampainya di area parkir Adrian melihat Elea yang yang menyandarkan tubuh di mobilnya. Terlihat pundaknya mengguncang pertanda gadis itu masih menangis. Adrian sendiri bingung harus menghampirinya atau tidak,ia sadar dirinya adalah orang luar yang tak berhak ikut campur,tapi dirinya benar-benar merasa khawatir. Khawatir akan kondisi Elea yang sepertinya mabuk,khawatir akan keselamatan Elea bila nanti pria bernama Barra itu kembali mengejarnya. Adrian mengendorkan dasinya,rasanya panas ditubuhnya membuatnya semakin tidak nyaman.
Adrian ingin segera menuju mobilnya dan melepas jas sialan yang membuat panas tubuhnya semakin menjadi-jadi. Namun langkahnya terhenti saat melihat Elea memegangi kepalanya,terlihat gadis itu sesekali menggelengkan kepalanya seolah mengusir rasa pusing yang menyerang. Adrian segera mendekat namun langkahnya kalah cepat dengan Barra yang sudah lebih dulu mencekal pergelangan tangan Elea.
" Ikutlah denganku Ele " dengan serampangan Barra menarik lengan Elea. Walaupun gadis itu berusaha meronta namun tarikan tangan Barra lebih kuat membuat tubuh Elea sedikit terseret mengikuti langkah Barra.
Adrian tak tinggal diam ia segera mendekat dan kembali memberikan bogem mentah ke arah Barra membuat tubuh Barra terhuyung jatuh sampai terjungkal . Tanpa banyak kata Adrian segera menarik Elea menuju mobilnya. Sepertinya kesadaran Elea mulai menurun tubuhnya tiba-tiba ambruk,untuk saja Adrian dengan cepat menangkapnya.
" Elea...bangun " Adrian mengguncang tubuh Elea membuat kesadaran gadis itu kembali namun nihil. Tak ingin kembali berurusan dengan Barra yang tertatih bangun dan berjalan mendekatinya,Adrian segera meraup tubuh mungil Elea dan membopong menuju mobilnya.
Segera saja Adrian tancap gas meninggalkan area parkir resto tersebut. Dari pantulan kaca spion terlihat Barra berlari berusaha mengejar mobil Adrian.
Tak tinggal diam Barra segera memasuki mobilnya dan mengejar mobil Adrian yang semakin menjauh. Dia tak akan membiarkan pria asing itu membawa pergi wanita tercintanya.
Namun sialnya,Barra hanya menelan kekecewaan dan kemarahan saat mobil Adrian lebih jauh meninggalkannya dan dia tak bisa berbuat apa-apa karena terhenti oleh lampu merah.
" Sialll..." Barra berteriak frustasi memukul stir mobil. Kali ini dia terpaksa harus mengalah,menerima kenyataan gadisnya telah pergi bersama pria asing yang sudah berani memukulnya beberapa kali.
...****************...
Adrian memilih menghentikan mobilnya disebuah hotel yang terdekat. Ia tak dapat menahan hawa panas yang menyesakkan tubuhnya. Apalagi saat melihat Elea yang menggeliat di sebelahnya membuat gairah lelakinya bangkit,membuatnya beberapa kali harus menggelengkan kepala untuk mendapatkan fokusnya kembali.
" Aku yakin pasti ada yang memberikan sesuatu di minumanku tadi " gumam Adrian kembali membasuh mukanya dengan air.
Ia keluar dari kamar mandi melihat Elea yang terbaring di ranjang kamar hotel yang ia pesan. Adrian sama sekali tak ada niat buruk pada gadis yang ia cintai ini,ia hanya ingin segera terbebas dari hawa panas sialan yang merusak konsentrasinya. Terlebih lagi Adrian tak tahu dimana tempat tinggal Elea dan ia tidak tega meninggalkan Elea yang tengah mabuk disembarang tempat.
Satu-satunya jalan adalah menuju hotel terdekat agar Adrian dapat segera menguyur tubuhnya dengan air dingin,mungkin saja cara itu bisa membuat hawa panas yang membangunkan hasrat lelakinya ini hilang.
Adrian kembali menggelengkan kepalanya saat keinginan untuk menyentuh Elea yang terkulai tak sadar mulai merasukinya kembali. Tentu saja dia tak akan memanfaatkan kondisi Elea yang tengah mabuk.
Walaupun sudah mengguyur tubuhnya bahkan merendam tubuhnya di bathtub penuh air dingin namun gairah Adrian semakin panas membakar tubuh.
Mata Adrian membola seketika saat Elea memasuki kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di closet yang tak jauh dari bathtub tempat Adrian berendam. Adrian memang tak mengunci kamar mandi karena menurutnya tak ada siapapun selain Elea yang sedang mabuk.
Tentu saja Adrian kaget dan salah tingkah,selain karena dia tak memakai apapun didalam air yang merendam sebagian tubuhnya,jarak bathtub dan Elea sekarang sangat dekat dan hanya dibatasi sekat kaca bening. Bisa bahaya bila Elea sadar dan melihat kondisinya sekarang.
" Elea.." panggil Adrian memastikan kesadaran Elea.
Beberapa kali Adrian memanggil nama Elea namun gadis itu tak juga bergerak pertanda si gadis masih teler. Adrian pun berani bangkit dari bathtub menyambar handuk kimono dan memakainya.
" Elea.." dengan lirih Adrian memanggil nama Elea,membelai rambutnya namun gadis cantik itu tetap diam dengan mata terpejam.
Mau tidak mau Adrian membopongnya membawa Elea kembali ke ranjang,tentu Adrian tidak akan membiarkan Elea kedinginan dikamar mandi.
Adrian merebahkan Elea dengan hati-hati. Menyelipkan anak rambut Elea yang menutup sebagian wajahnya. Sesaat Adrian memandang wajah manis nan meneduhkan itu. Semakin Adrian menatapnya semakin membangkitkan hasratnya yang sempat mereda. Apalagi saat melihat bibir ranum Elea yang sedikit membuka hasrat lelakinya semakin membuncah mendorong ibu jari Adrian untuk mengusap bibir Elea yang terlihat basah. Adrian dengan lancang mengecup singkat bibir ranum Elea,membuat si gadis menggeliat merasakan sesuatu yang kenyal dan dingin menyentuh bibirnya.
Desakan di hati dan bagian bawah perutnya seakan menutut lebih dari sekedar kecupan. Adrian segera bangkit dan menjauh dari tubuh Elea karena merasakan bagian intinya yang mulai mengeras menuntut sesuatu yang lebih intim.
' Jangan Adrian..kendalikan dirimu ' batin Adrian mengusap kasar wajahnya.
Pandangannya kembali pada sosok Elea yang bergerak menggeliat membuat dress yang ia kenakan tersingkap dan memperlihatkan paha putih mulusnya.
" damn't.." Adrian mengumpat merutuki keadaan yang sekan mendukungnya berbuat lebih intim lagi.
" Aku mohon Elea jangan memaksaku menyentuhmu " gumam Adrian seraya menarik selimut menutupi tubuh Elea.
" Panas..." baru beberapa menit selimut itu menutupi tubuh Elea tapi malah ditarik olehnya. Membuat kedua pahanya semakin terekspos oleh pandangan Adrian.
Adrian semakin mengacak rambutnya,rasanya sudah tak tahan menahan gejolak hasratnya,apalagi melihat Elea yang terbaring di ranjang seolah siap untuk dijamah.
Efek obat itu rasanya semakin lama semakin membangunkan gejolak hasrat lelaki Adrian,apalagi ditambah dengan sosok cantik yang begitu ia damba,membuat gejolak nafsunya semakin menuntut untuk dituntaskan.
" Elea.." desis Adrian dengan sura parau menahan gairah. Diciumnya bibir ranum gadis itu,menyesap rasa manis dari bibir yang selama ini bahkan tak berani ia pandang.
Adrian kaget saat merasakan bibir Elea memberi respon,membalas pagutannya bahkan jemari Elea menangkup rahang Adrian seolah tak ingin melepas ciuman mereka.
Mendapat reaksi Elea yang menerima sentuhannya,membuat Adrian semakin intim ******* bibir Elea,bahkan lidah keduanya sudah saling membelit bertukar rasa manis yang tak pernah dirasa sebelumnya.
Logika dan akal sehat Adrian seolah hilang dikalahkan oleh nafsu dan gairah yang memburu. Entah itu efek obat yang masuk ditubuhnya atau memang karena gadis yang selama ini ia damba akhirnya dapat sedekat bahkan seintim ini dengannya.