One Night With You

One Night With You
Memeluk Sahabat



" Honey kemana saja kau?" Delia langsung menyerbu memeluk Adrian saat pria itu memasuki ruangan. Adrian sendiri langsung melepas pelukan Delia dan menjauh darinya.


" Ada apa lagi Delia??" tanya Adrian dengan ekspresi datar,bahkan lebih tepatnya muak. Sebenarnya Adrian curiga Delia lah yang memberikan obat perangsang itu padanya. Karena saat di pesta Vania Adrian hanya meminum jus dan anggur yang diberikan oleh Delia,selebihnya tidak ada apa-apa lagi yang masuk ke dalam perutnya.


Terlebih lagi bukan kali ini saja Delia mencoba menjebaknya untuk tidur bersama. Dahulu Delia pernah melakukan ini namun Adrian berhasil menangani efek obat perangsang yang diberikan Delia,bahkan Delia dengan tidak tahu malu mengutarakan keinginannya untuk hamil dahulu agar orang tua Adrian mau tidak mau menyetujui hubungan mereka.


" Kau pergi kemana kemarin?kenapa meninggalkanku?" Delia mulai bergelayut manja di lengan Adrian membuat pria itu risih dan melepaskannya kemudian duduk di kursi kerjanya. Tapi Adrian sangat kaget saat tiba-tiba Delia ikut duduk dipangkuan Adrian. Dengan cepat Adrian berdiri hingga membuat Delia jatuh terjungkal.


" Adrian...!!!" Sentak Delia mencoba meraih tangan Adrian sebagai tumpuan untuk berdiri. Adrian sendiri malah melenggang pergi tak perduli pada Delia yang masih terduduk di lantai.


" Don't do that Delia .. bukankah kita sepakat untuk berpisah " ucap Adrian saat Delia mencoba memeluknya dari belakang.


" No..aku berubah pikiran,aku baru sadar aku tak bisa hidup tanpamu " dengan wajah sendu Delia kembali mendekati Adrian dan menggenggam jemarinya.


" Tapi kau sendiri yang bilang akan melepaskan ku bukan,dengan syarat aku menemanimu datang ke pertunangan Vania dan aku sudah melakukannya "


" Tidak Adrian karena semua tidak seperti yang aku inginkan!! " sentak Delia tapi langsung menutup mulutnya saat menyadari seharusnya tidak mengatakan itu.


" Memang apa yang kau inginkan??adakah sesuatu yang kau rencanakan??" Adrian mulai emosi, pandangannya menelisik ke arah Delia mencoba meyakinkan dugaannya bahwa Delia memang merencanakan jebakan untuk dirinya.


" Bukan seperti itu Honey,,maksudku..setelah aku sadar kita sudah berpisah rasanya hidupku sangat hambar " sanggah Delia dengan cepat,mungkin karena Delia adalah seorang artis yang sudah sering berakting jadi dia bisa dengan mudah berkilah dan menutupi kebohongan di mimik mukanya.


" Tapi aku sudah benar-benar menganggapnya berakhir Delia,kau bahkan lebih memilih karir aktingmu dari pada melanjutkan masa depan bersamaku,jadi apa yang harus aku tunggu darimu Delia? " raut wajah Adrian masih keras dan serius saat mengucapkan kalimatnya.


" Tapi honey ..aku.."


" Cukup Delia..aku lelah,dan kita sudah sama-sama setuju untuk berpisah jadi tolong jangan membuat alasan yang akan membuatku muak padamu " Adrian memotong ucapan Delia,memberikan ultimatum agar Delia bisa memegang ucapannya yang sudah setuju untuk melepaskan Adrian.


" Tidak ...kita belum berpisah,dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi " Delia mulai menangis dengan memeluk erat Adrian,walaupun pria itu berusaha melepas pelukan Delia.


" Jika kau tidak melepaskan ku,,maka aku akan membencimu selamanya " lirih Adrian mengucapkan kalimatnya,rasa lelah,frustasi dan emosi bercampur jadi satu seolah membuatnya ingin marah berteriak dan memukul apa saja yang ada dihadapannya. Rasa lelah karena memang ia belum beristirahat dari kemarin,frustasi dengan apa yang terjadi padanya dan Elea dan emosi dengan sikap Delia yang yang menarik ulur keputusannya.


Ucapan Adrian kali ini sepertinya dapat dicerna Delia dengan baik,gadis itu perlahan melepas pelukannya,dan selangkah mundur dari Adrian.


" Kita sudah bukan lagi pasangan kekasih,ku harap kau bisa menerimanya tanpa emosi ataupun kemarahan lainnya karena kau sendiri yang memutuskan untuk melepaskan ku " ucap Adrian tanpa menoleh pada Delia,kemudian berlalu keluar dari ruangannya,meninggalkan Delia yang terpaku dengan deraian air mata.


Tubuh Delia terasa lemas dan terperosot jatuh kelantai,tangannya memukul dadanya yang terasa sesak dan tak ada oksigen yang masuk ke paru-parunya.


' Dia bukan lagi Adrianku,,kenapa Adrianku berubah ' batin Delia meratapi kisah cintanya yang telah hancur. Harapan untuk mengandung anak Adrian dan segera menikah dengannya pupuslah sudah. Bahkan dengan cara kotor yang ia lakukan juga tak dapat menahan Adrian untuk tetap disisinya.


...----------------...


Sementara di ruang perawatan VVIP 02,perlahan Elea sudah membuka matanya. Ia kembali menyapukan pandangannya keruangan ini dan ternyata ia masih ditempat yang sama. Namun yang dihadapannya bukanlah Adrian tetapi Irina dan seorang pria yang tidak ia kenali.


" Elea...kau sudah bangun??" Irina mendekatkan wajahnya pada Elea,namun Elea masih diam sembari memegangi kepalanya yang terasa bagai ditusuk ribuan paku tak kasat mata.


" Ele kau mendengar ku " melihat tak ada respon Irina menjadi khawatir,begitupun dengan dokter Liam yang langsung memeriksa Elea.


" Nona Elea kau bisa mendengarku?namaku Liam Davies dokter yang akan merawatmu " Elea mengalihkan pandangannya pada Liam,tak ada sorot ketakutan atau kecemasan dimatanya jadi Liam berpikir rasa trauma dan ketakutan Elea hanya berlaku pada Adrian si biang kerok masalah ini.


" Bagaimana apa dia baik-baik saja?" Irina menyembul dari belakang punggung Liam membuat Elea sadar bahwa yang ia lihat tadi benar-benar Irina sahabatnya. Sebenarnya sebelum Elea benar-benar membuka matanya ia memang sudah melihat sekelebat wajah Irina walaupun samar-samar. Dia pikir itu adalah bagian dari mimpinya,karena sebelum dirinya bangun ia bahkan bermimpi sudah berada dalam pelukan Bian dan merasa sangat nyaman dan aman,namun ternyata itu hanyalah mimpi dan ia terbangun masih ditempat yang sama.


" Irina..kau benar-benar disini?" mata Elea mulai berkaca-kaca,Irina pun segera mendekat dan memeluk erat Elea dan seketika tangis Elea pecah dalam pelukan Irina. Dokter Liam sendiri memilih mundur dan keluar dari ruangan,ia tahu kedua sahabat itu butuh privasi untuk diri mereka. Apalagi Elea dia pasti ingin membagi rasa sakit yang ia rasakan.