
Sudah enam hari sejak kejadian malam menyakitkan yang dialami Elea dan kini ia sudah diperbolehkan pulang. Enam hari yang berat bagi Elea,dimana ia harus bertemu dengan Adrian setiap hari. Memang sikap pria itu sangat baik dan tidak melewati batasannya,namun tetap saja melihat Adrian akan mengingatkan Elea tentang malam dimana kehormatannya direnggut paksa.
Selama enam di hari itu pula walaupun setiap hari Elea bertemu dengan Adrian namun mereka jarang terlibat perbincangan lama,Adrian hanya menungguinya dan tak pernah mengganggunya.
" Semua sudah beres aku akan mengantarmu pulang " ucap Adrian memasuki ruangan sembari membawa beberapa lembar kertas ditangannya.
" Aku akan pulang bersama Irina " jawab Elea tanpa memandang Adrian.
" Irina belum memberitahumu? " refleks pandangan Elea tertuju pada Adrian saat mendengar pertanyaan pria itu.
" Irina harus menghandle kekacauan di cafenya,jadi dia minta maaf tidak bisa mengantarmu pulang " dahi Elea berkerut mendengar penjelasan Adrian,padahal tadi malam Irina sudah janji akan menemaninya saat keluar dari rumah sakit.
" Kekacauan?? " Elea menelisik ekspresi Adrian apakah pria itu tengah berbohong,namun dengan santai Adrian mengeluarkan ponselnya.
" Kau boleh menghubunginya jika tidak percaya padaku " Adrian menyerahkan ponselnya agar Elea tidak mencurigainya,karena dilihat dari mimik wajah nya,wanita itu tampaknya meragukan pernyataan Adrian.
Elea hanya terdiam tak menerima ponsel yang diulurkan Adrian,mungkin benar apa yang dikatakan Adrian tentang kekacauan di cafe Irina,tapi kenapa Irina tidak memberitahukan sebelumnya?.
" Itu semua terjadi tiba-tiba,mungkin Irina tidak sempat memberitahumu " ucap Adrian seolah mengerti apa yang dipikirkan Elea.
" Ayo Elea,," wanita itu bergeming dan masih duduk di bed pasien.
" Atau kamu sudah menyukai tempat ini,dan tidak mau pulang? " tanya Adrian dengan senyum manis mencoba menggoda Elea,namun hanya ditanggapi dingin oleh wanita itu.
" Aku..aku akan naik taxi saja.." ucapan Elea seketika menghentikan langkah Adrian dan berbalik memandangnya yang masih duduk diranjang. Seketika senyum yang tadinya mengembang menghilang mendengar ucapan Elea.
" Kenapa? " Adrian mendekati Elea dan memberikan sorot mata tajam pada wanita itu.
" Karena..karena aku tidak mau merepotkan mu " Elea turun dari ranjang dan menjauhi Adrian,ia tidak mau terjadi kontak mata yang begitu dekat dengan pria yang merenggut kesuciannya itu.
" Tapi ponsel dan tasmu ada di mobilku Elea "
Deg Ucapan Adrian menghentikan Elea
' Ponsel?? ' benar juga,selama dirumah sakit tepatnya setelah kejadian malam itu Elea sampai lupa dengan ponselnya,pasti Bian sudah beberapa kali menghubunginya,pasti kakaknya itu sangat mengkhawatirkannya.
Hal pertama yang Elea lakukan setelah berada di mobil Adrian adalah mengaktifkan ponselnya. Notifikasi pesan dan panggilan langsung memenuhi layar ponselnya. Mulai dari kantor penerbit,editor para circle nya dan yang paling banyak adalah pesan dan panggilan dari Barra dan juga Bian.
' Barra ' batin Elea saat membaca pesan dari mantan kekasihnya yang menanyakan keberadaan Elea. Tapi kemudian Elea mengabaikannya yang terpenting sekarang adalah kakaknya,tiga hari tanpa memberi kabar pasti Bian sangat khawatir dan kebingungan. Elea segera menekan tombol panggilan untuk Bian,nada panggilan sudah tersambung tapi tak kunjung diangkat.Sesekali Elea melirik ke arah Adrian yang fokus menyetir,sebenarnya ia sangat tidak nyaman berada satu mobil dengan dokter tampan itu,tapi harus bagaimana lagi,walau terpaksa ia harus mengikuti keinginan pria itu.
" Ele...apa kau baik-baik saja??kau dimana??kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?!apakah terjadi sesuatu? " rentetan pertanyaan mulai diberondongkan oleh Bian setelah sambungan telepon berhasil. Tiga hari ia seperti orang gila karena khawatir pada adik satu satunya.
" Kak Bian aku.."
" Kau dimana sekarang?aku sudah diapartemen tapi kosong "
" Kakak di Jakarta? " mata Elea sampai melebar sepenuhnya mendengar sang kakak sudah berada di apartemennya,kali ini saat ditelepon saja ia bingung harus bagaimana menjelaskan pada Bian,apalagi berhadapan langsung dengan kakaknya.
" Kau dimana aku akan menjemputmu "
" Aku..aku dalam perjalanan pulang kak,aku akan menjelaskannya saat sampai dirumah " Bian diam tak menjawab,terdengar hembusan nafas lega diseberang sana.
" Baiklah..hati-hati dijalan,aku akan menunggumu " Bian kemudian mematikan sambungan telepon,sementara Elea masih terdiam dengan tatapan kosong.
" Maafkan aku " desis Adrian.
" Maafkan aku..pasti Bian sangat khawatir kan " imbuhnya sembari menatap Elea yang juga tengah menatapnya.
" Dokter Adrian..bisalah kau merahasiakan semuanya dari kakakku " pinta Elea setelah beberapa saat hanya terdiam.
" Aku tidak mau kakakku tahu semuanya "
" Untuk kali ini mungkin aku akan diam Elea,tapi suatu saat aku akan mengatakannya,bukankah sudah aku bilang aku akan bertanggungjawab "
" Dokter Adrian,,kenapa kau keras kepala..."
" Tak perduli walaupun kau menolak,tapi aku akan tetap bertanggung jawab dan menikahi mu " Adrian kesal karena sampai detik ini Elea tetap menolak pertanggung jawaban darinya .
Elea akan menyuarakan protesnya namun langsung dibungkam oleh ucapan Adrian " Aku sedang tak ingin berdebat denganmu Elea,,atau kau lebih suka aku melamar mu sekarang pada Bian?! " Elea langsung terdiam,sorot mata pria itu benar-benar serius sekarang,bisa bahaya kalau sampai Adrian nekat melamarnya dan mengatakan semuanya pada kakaknya. Maka Elea memutuskan untuk diam dan mengalah kali ini.