One Night With You

One Night With You
PART 60



" Bolehkah aku menemui Elea? " Pinta Adrian setelah sekian lama dirinya dan Bian saling diam di ruangan itu,sebenarnya Adrian merasa aneh karena Bian tidak kunjung keluar dan meninggalkannya malah diam di ruang kerjanya menatapnya seolah memindai suatu barang yang akan dia beli.


" Kau ingin mati? " Bian menjawab dengan pertanyaan yang jelas menolak keinginan Adrian.


" Sebenarnya apa yang kau inginkan Bian?kau tidak menuntutku tidak juga mengizinkanku menikahi Elea "


" Sebenarnya apa pula niatmu?memperkosa sahabat dari kekasihmu sendiri,apa kau sudah kehilangan akal ?! "


" Yaa .. aku kehilangan akal sehatku setelah bertemu adikmu,kau puas?! "


" Dulu sepertinya kau pria baik-baik,tapi ternyata kau hanyalah pria mesum " ucap Bian dengan jelas mencela Adrian,namun tak terlihat raut muka tersinggung atau marah di wajah Adrian.


" Memang benar ..aku pria mesum yang sudah kehilangan akal,,teruskan kau boleh mencelaku sepuasmu,tapi tolong ijinkan aku menemui Elea,sekali saja " Adrian memilih mengalah dan menerima semua perkataan Bian,hanya agar lelaki itu mengizinkannya menemui Elea walau hanya beberapa menit saja.


" Ck .. jangan pernah berharap " pungkas Bian kemudian berdiri.


" Apa kau tidak percaya bahwa aku mencintai adikmu? " Adrian menunduk mengungkapkan kalimatnya dengan tulus.


" Aku bahkan tidak tahu cinta itu apa " jawab Bian enteng saja.


" Pantas saja kau begitu dingin tanpa perasaan " Adrian yang mulai kesal memilih berdiri dan meninggalkan Bian yang sepertinya merasa tersinggung dengan perkataan Adrian.


" Apa kau bilang?! " Nada bicara Bian mulai meninggi,namun Adrian tak ambil pusing dan memilih keluar sebelum pria itu kembali memukulinya.


🥀-----------------------------------------------🥀


Dokter Liam dan dokter Alex kini berjalan menuju kamar perawatan Elea,setelah mendengar semua penjelasan dari dokter Liam akhirnya dokter Alex mengerti alasan kenapa Adrian sepertinya tidak fokus dalam bekerja,sering cuti bahkan meninggalkan pekerjaan tanpa pamit,sungguh berbeda dengan Adrian yang dulu,yang mengutamakan pekerjaan dan pasiennya di atas segalanya.


Saat memasuki kamar pasien,terlihat Elea yang sedang duduk bersandar sembari mendekap jemari Irina,sepertinya dua sahabat itu baru saja mengakhiri sesi curhatnya.


" Apakah badainya sudah berakhir? " tanya Irina pada Liam dengan polosnya.


" Entahlah,aku meninggalkannya " jawab dokter Liam dengan enteng.


" Nona Elea perkenalkan ini adalah dokter Alex salah satu dokter obgyn terbaik dirumah sakit ini " dokter Alex terlebih dahulu mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan dan Elea menjabat tangannya dengan senyum yang dipaksakan.


" Saya akan mengambil sampel darah anda untuk melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui berapa banyak hormon HCG dalam darah anda " dokter Alex memberikan penjelasan sebelum memulai prosedur pengambilan darah pada Elea. Kemudian seorang suster melangkah maju membantu dokter Alex untuk mengambil darah dari pembuluh vena di lengan tangan Elea. Elea sedikit meringis nyeri saat jarum suntik itu mulai menyedot darah dari pembuluh venanya .


Setelah selesai dokter Alex meminta suster tersebut untuk mengirim sampel darah Elea ke laboratorium guna dilakukan tes secepatnya.


" Memang bisa,tapi tes darah hasilnya lebih akurat dari pada tes urine,tes darah bahkan bisa mendeteksi kehamilan sedini mungkin,bila tes urine bisa mendeteksi kehamilan ketika usia kandungan sudah mencapai beberapa minggu maka tes darah bisa mendeteksi kehamilan hanya dalam tujuh sampai empat belas hari masa kehamilan " jelas dokter Alex panjang lebar,karena Irina tak begitu paham tentang kehamilan maka ia hanya meresponnya dengan anggukan kepala.


Brakk ...


Tiba-tiba terdengar pintu dibuka dengan keras,dan Adrian muncul dengan diikuti Bian dibelakangnya.


" Oh.. ya tuhan kenapa badainya datang kemari?! " gumam dokter Liam saat melihat Adrian dan Bian berjalan mendekat dan saling tarik menarik.


" Demi apapun bisakah kalian bersikap dewasa!! " sentak dokter Liam yang merasa jengah menghadapi Adrian dan Bian.


" Kau berani membentakku?! " tanya Bian sembari menatap heran pada dokter Liam.


" Ya aku membentakmu..dan kau untuk apa kau datang kemari?! " tatapan dokter Liam kini beralih pada Adrian.


" Rumah sakit ini milik keluargaku aku bisa ke tempat manapun yang aku inginkan "


" Lihatlah kau mulai menyombongkan dirimu " Bian mulai tersulut emosi dan menatap Adrian dengan tatapan bagai singa yang siap menerkam mangsanya.


" Karena kau tidak bisa diajak bicara baik-baik " nada bicara Adrian juga ikut meninggi.


" Apa kau bilang .. beraninya kau ... " Bian mencoba menyerang Adrian kembali.


" Cukup ... keluar kalian semua!! " sentak Elea merasa pusing dan mualnya datang kembali setelah melihat adu mulut antara kakaknya dan Adrian.


" Elea aku ingin bicara denganmu,aku mohon sebentar saja " pinta Adrian dengan wajah memelas.


" Keluar dokter Adrian,atau aku yang keluar dari rumah sakit ini " mendengar kalimat Elea, Adrian hanya pasrah melangkah keluar dengan lemah.


" Hasilnya akan keluar satu jam lagi,saya akan segera menghubungi anda saat hasilnya sudah pasti " ucap dokter Alex yang kemudian keluar setelah sebelumnya menjabat tangan Bian.


" Dia dokter Alex tuan Bian,dokter obgyn terbaik disini " dokter Liam menjelaskan saat melihat tatapan menelisik di wajah Bian.


" Ngomong-ngomong maaf jika tadi sempat membentak anda " imbuhnya dokter Liam.


" Tak perlu berbicara formal lagi,kau sama saja dengan sahabatmu itu " pungkas Bian kemudian berjalan mendekati Elea,sementara dokter Liam hanya menatapnya dengan tatapan kesal yang ditahan.


Irina mengibaskan tangannya memberi isyarat agar dokter Liam segera keluar dari kamar tersebut, Irina hanya tidak ingin dokter Liam menambah keruh suasana di kamar ini. Dokter Liam pun menurut dan melangkah pergi keluar dadi ruang perawatan Elea.