One Night With You

One Night With You
PART 67



Sepeninggal Bian Adrian kembali duduk ditempatnya semula. Ia tak hanya akan disana menjaga dan memastikan Elea baik-baik saja. Beberapa saat ia hanya memainkan ponselnya sembari sesekali menengok kedalam kamar Elea untuk memastikan wanitanya masih tidur dan baik-baik saja. Namun karena bosan dan lapar Adrian memutuskan untuk memasak sesuatu.


Berbagai bahan makanan tersedia lengkap di dalam kulkas,sebelum Adrian mulai memasak ia terlebih dahulu membuka google untuk mencari tahu makanan apa saja yang baik untuk ibu hamil. Akhirnya ia memutuskan untuk memasak bubur dan sup ikan. Tak lupa ia juga menyiapkan kacang-kacangan sebagai kudapan.


Dengan cermat Adrian memulai sesi memasaknya,satu persatu bahan makanan ia olah bersama bumbu-bumbu hinga menghasilkan aroma lezat yang menggugah selera. Walaupun seorang pria namun Adrian cukup mahir dalam hal masak memasak. Hidup sendiri membuat Adrian sering bereksperimen dalam mengolah makanan,walaupun ada asisten rumah tangga yang datan setiap hari ke apartemennya namun tugasnya hanya untuk merapikan dan membersihkan apartemen Adrian,tidak untuk menyiapkan makanan untuknya. Apalagi Adrian adalah type pemilih dalam hal makanan,maka ia lebih nyaman bila memasak makanannya sendiri.


Tiga puluh menit lebih akhirnya masakan Adrian sudah tersaji. Ada sup ikan yang begitu segar,ada bubur hangat,dan juga kue kacang kukus yang terlihat begitu lembut. Adrian ingat Elea belum makan maka ia membawa nampan penuh makan ke dalam kamar Elea.


" Elea .. " setelah meletakkan nampan di atas nakas sebelah ranjang,perlahan Adrian membangunkan Elea. Elea bereaksi ia mengerjapkan matanya,aroma sup ikan dan kue kacang seketika menyapa indra penciumnya.


" Bangunlah Ele,kau harus makan dulu " dengan lembut Adrian kembali berucap,ia tidak berani menyentuh Elea walau hanya sekedar untuk membantunya duduk.


" Dokter Adrian,sedang apa kau disini? " tanya Elea dengan tatapan antisipasi. Walau Adrian sering datang setidaknya dua kali sehari namun pria itu hanya duduk di ruang tamu atau menemaninya di ruang tengah tidak sampai masuk ke dalam kamarnya.


" Bian harus segera kembali ke pengadilan,dia tidak mungkin meninggalkanmu sendiri,maka akh memutuskan untuk tinggal sampai Bian kembali " Elea menatap Adrian dengan tatapan meragukan.


" Kak Bian mengizinkanmu menunggu disini? "


" Tentu saja tidak,aku bahkan harus memohon agar diizinkan menjagamu " Adrian Tersenyum mengakhiri kalimatnya.


" Makanlah dulu,setelah muntah tadi kau langsung tidur dan belum makan,kau pasti lapar kan? " ucap Adrian mengambil semangkok bubur dan sup ikan kemudian menyerahkannya pada Elea.


Wanita itu tetap diam tak bergeming,sebenarnya ia enggan menerima makanan itu apalagi memakannya,namun Adrian memang benar ia belum makan dan sekarang ia merasa lapar.


" Makanlah Elea,atau kau ingin akau menyuapimu " Adrian kini duduk di ranjang tepat di depan Elea.


" Tidak usah aku bisa makan sendiri " dengan cepat Elea mengambil alih semangkuk bubur dari tangan Adrian. Adrian pun tersenyum lega,setidaknya Elea bersedia untuk memakan masakannya.


" Kau memasak ini sendiri dokter? " tanya Elea sembari menyuapkan sesendok penuh kedalam mulutnya.


" Ehem .. bagaimana rasanya? "


" Entahlah,semua yang aku makan terasa pahit " jawab Elea berbohong,karena saat ini rasa hangat dan nikmatnya makanan tengah menyapa lidah dan tenggorokannya.


" Dokter Alex sudah memberikan obat untuk mengurangi rasa mualnya,jika kau sudah tidak merasa mual mungkin kau bisa makan dengan baik " saat mengucapkannya ingin rasanya Adrian membelai rambut Elea dengan lembut dan sayang,namun ia menahannya,ia tidak mau mengganggu wanitanya yang sedang menikmati masakannya.


" Jangan menatapku seperti itu,kau membuat tidak nyaman " protes Elea yang merasa aneh dengan tatapan Adrian padanya,sorot mata Adrian memang lembut dengan senyum lembut yang meneduhkan,namun bagi Elea tatapan itu terasa tidak nyaman untuknya.


" Aku hanya merasa lega akhirnya kau bisa makan dengan baik " sesaat Adrian diam begitupun dengan Elea,ia bahakan berhenti mengunyah makanannya.


" Terimakasih Elea " ucapan itu membuat Elea reflek menatap Adrian.


" Makanlah ini juga,kue kukus kacang,tidak terlalu manis jadi tidak akan membuatmu mual " Menyadari raut wajah Elea yang berubah Adrian segera mengalihkan pembicaraan.


" Dokter Adrian .. " lirih Elea mengucapkan nama ayah biologis dari anak diperutnya. Adrian hanya menatapnya lembut seolah menunggu kalimat Elea selanjutnya.


" Bagaimana dengan Delia? " tanya Elea kemudian.


" Kenapa dengan Delia? "


" Bagaimana hubunganmu dengan Delia,dimana dia sekarang? " Adrian terdiam,selain tak tahu keberadaan mantannya itu Adrian juga tak menyukai pertanyaan Elea.


" Bisakah kita tidak membahasnya Elea? " Adrian membuang muka,menyembunyikan raut wajahnya yang menggelap. Saat mendengar nama Delia seolah kelebatan bayangan Elea yang menangis dengan pipinya yang merah kembali hadir dalam ingatannya,membuatnya tidak ingin mendengar apapun tentang Delia.


" Tapi dokter Adrian aku .. "


" Aku mohon Elea,tolong untuk saat ini jangan membahas apapun tentang Delia " seketika Adrian berdiri memotong ucapan Elea membuat Elea mendongak menatap pria itu.


" Dan satu lagi .. jangan panggil aku dokter Adrian,aku bukan dokter mu,aku .. aku calon suamimu " mata Elea membulat seketika mendengar perkataan terakhir Adrian,apalagi pria itu kini sudah kembali duduk dihadapannya.


" Suami?! " dahi Elea berkerut mengulang kata unik yang diucapkan Adrian.


" Yah .. aku Adrian Haliandra,calon suamimu " dengan pasti dan yakin Adrian mengutarakannya. Sikap Bian yang mulai melunak dan keinginan Elea untuk mempertahankan bayinya membuat Adrian yakin ia akan dapat menggenggam hati Elea suatu hari nanti. Senyumnya mengembang melihat wajah Elea yang begitu heran.


" Katakan Elea,aku menunggumu untuk menuntutku namun kau tidak melakukannya,aku teruma jika kau memilih melepaskan kehamilanmu namun kau tetap melanjutkannya,apa yang membuatmu melakukannya? " hening Elea terdiam begitupun dengan Adrian ia tak melepaskan tatapan matanya dari Elea.


" Karena aku bukan wanita kejam .. " jawab Elea ketus.


" Mana mungkin aku melenyapkan darah dagingku sendiri "


" Darah daging kita,kita Elea " Adrian menimpali ucapan Elea,hatinya menghangat mendengar ucapan Elea itu. Senyumnya pun senantiasa terukir di wajah yang tampan.


" Lalu kenapa kau tidak menuntutku?padahal aku sudah menyerahkan semua buktinya " pertanyaan Adrian kembali membungkam Elea,ia bingung bagaimana harus menjelaskan alasannya. Ia hanya tak mau aibnya tersebar dan berpengaruh pada Bian.


" Kenapa Ele? " Adrian mendesak bahkan ia bergeser sedikit mendekat pada Elea.


" Tidak sadarkah kau bahwa itu termasuk aib dokter Adrian,dan itu juga salahku aku salah karena pernah percaya pada pria sepertimu "


Deg


Jawaban Elea bagai bumerang bagi dirinya.Ia menunduk jadi salah tingkah karena jawaban Elea.