
" Ele..dari mana saja kau.." seru Bian saat membuka pintu apartemen Elea,dan adiknya itu langsung menyerbu memeluknya. Adiknya menangis Bian dapat merasakan isakan pelan Elea yang masih dalam pelukannya.
" Ada apa Ele? " tanya Bian mengelus bahu yang masih sedikit berguncang karena isakan.
" Bian...ada yang ingin aku katakan " Adrian menyela membuat Bian sadar akan adanya orang lain diantara mereka,dan dia dapat mengenali oria itu adalah dokter Adrian yang pernah merawat adiknya.
" Dokter Adrian? kau yang mengantarkan adikku? ada apa sebenarnya?Ele apa kau sakit? " tatapan Bian beralih dari dokter Adrian kini memandang Elea yang sudah mengurai pelukannya. Adiknya itu hanya menggeleng sembari menghapus air matanya.
" Dokter Adrian..kau boleh pulang,terimakasih sudah mengantar aku pulang " lirih Elea berucap tanpa berani memandang Adrian.
" Tapi Elea aku harus ... "
" Aku mohon dokter Adrian,aku lelah dan aku ingin istirahat " Elea memotong ucapan Adrian kemudian memasuki apartemennya,tanpa perduli dengan tatapan dua pria yang memandangnya dengan tatapan yang berbeda. Jika Bian menatapnya heran dengan sikap Elea yang menurutnya aneh,maka Adrian menatap punggung Elea dengan tatapan kecewa dan pasrah. Kecewa karena ia tak dapat mengutarakan semuanya pada Bian,dan pasrah karena ia tak bisa memaksa Elea untuk ikut menjelaskan semuanya pada Bian karena wanita itu memang masih butuh istirahat.
" Dokter Adrian ada apa sebenarnya? " tanya Bian yang masih penasaran dengan tingkah dua orang ini.
" Aku akan menjelaskannya suatu hari nanti Bian "
" Apa yang perlu dijelaskan, kenapa tidak sekarang saja?! " Adrian terdiam seolah mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Bian.
" Apa kalian berdua menyembunyikan sesuatu dariku dokter? " melihat Adrian hanya diam Bian kembali menyuarakan rasa penasarannya.
" Bukan begitu Bian,hanya saja sekarang Elea harus istirahat "
" Ba..baiklah kalau begitu, terimakasih karena sudah mengantarkan Elea pulang dokter " Adrian mengangguk kemudian pamit dan langsung meninggalkan unit apartemen Elea. Sebenarnya ada rasa bersalah di hati Adrian karena merasa telah membohongi Bian. Dia yang telah tega merusak adiknya justru mendapat ucapan terima kasih dari Bian.
" Ada apa sebenarnya Ele? " tanya Adrian sembari membelai rambut adiknya yang kini tengah duduk melamun di kamarnya. Mendengar pertanyaan kakaknya membuat air mata Elea terkumpul di pelupuk mata indahnya. Ia benar-benar bingung bagaimana menjelaskan kondisinya pada Bian,jujur sampai kapanpun ia tidak ingin Bian tahu tentang peristiwa yang menimpanya.Karena jika Bian sampai tahu pasti kakaknya itu akan menuntut Adrian atau bahkan memintanya bertanggung jawab,jika itu sampai terjadi bagaimana dengan Delia?. Yah..hanya itu yang ada dipikiran Elea selama ini.
Bagaimana kalau sampai Delia tahu,betapa hancur perasaanya?
Bagaimana kalau persahabatan mereka sampai hancur hanya karena kesalahan satu malam yang tidak disengaja?
Semua tentang perasaan dan nasib Delia nantinya,ia bahkan tidak memikirkan bagaimana nasibnya selanjutnya,bagaimana ia akan menjalani hidupnya dengan keadaan yang tidak suci lagi,bagaimana nanti dirinya akan menjelaskan pada calon suaminya kelak bahwa dirinya sudah dirusak oleh pria lain, itu semua tidak terpikirkan oleh Elea.
" Elea.. " panggilan Bian membuat Elea sedikit tersentak karena kaget.
" Jika kau belum mau bercerita maka aku akan menunggu sampai kau siap "
" Istirahatlah,aku kan menyiapkan makan malam untukmu " ucap Bian hendak berdiri dan keluar dari kamar Elea,namun lengannya ditahan oleh sang adik.
" Kakak..bisakah kau membawaku pulang ke Bali? " pertanyaan Elea jelas membuat Bian terkejut,menurutnya keinginan Elea yang tiba-tiba ingin pulang ke Bali sangatlah tidak wajar.
" Pulang ke Bali? " Elea hanya mengangguk,Bian semakin bingung dengan tingkah laku adiknya ini,tiba-tiba saja ia teringat dengan Barra yang datang menemuinya dua hari yang lalu. Kekasih sang adik itu tiba-tiba datang dan melamar adiknya. Sikapnya aneh dan bahkan pria itu menangis meminta maaf dan menanyakan keberadaan Elea. Jangankan untuk menerima lamaran Barra Bian justru dibuat bingung dan emosi karena Barra samali memohon berlutut dihadapannya,akhirnya Bian terpaksa mengusirnya karena Elea pun tidak dapat dihubungi saat itu.
" Apa ini berkaitan dengan Barra ? " tanya Bian kembali duduk disamping Elea.
" Bukan kak,,bahkan tidak ada hubungannya sama sekali kak "
" Lalu kenapa pria itu tiba-tiba melamar mu ? "
" Melamar?? " tanya Elea memastikan pendengarannya tidak salah menerima informasi dari Bian.
" Ada apa sebenarnya Ele??kau membuatku semakin bingung " Bian mulai kehabisan kesabaran,namun sikapnya segera melunak melihat tatapan kosong sang adik. Dia tahu ada sesuatu yang berat yang tengah dialami adiknya,namun ia tak bisa memaksa Elea untuk mengatakan semuanya sekarang. Selain wajah Elea yang tampak pucat Bian juga tidak tega melihat tatapan mata Elea yang seolah putus asa. Jalan satu-satunya adalah mencari tahu dari Adrian apa yang sebenarnya terjadi. Walaupun ia tahu dokter tampan itu tidak begitu dekat dengan adiknya,namun ia merasa semua kejadian ini berkaitan dengan Adrian,bahkan tadi Adrian bilang ingin mengatakan sesuatu jadi Bian memutuskan untuk mencari tahu dari Adrian bila Elea masih diam dan tak mau jujur padanya.