One Night With You

One Night With You
11. Empat Sahabat



Sore ini mereka sudah berada di Blue Orcid Cafe seperti yang sudah disepakati,tapi seperti biasa Delia belum datang.


" Lakik lu gk rempong Le? " tanya Irina si pemilik cafe sembari memakan cumi goreng pesanan Vania. Mereka tahu betul bagaimana watak kekasih sahabatnya itu. Selain posesif Barra juga terlalu protektif pada Elea,seakan membatasi ruang gerak Elea,walaupun hanya itu berkumpul dengan sahabat-sahabatnya.


" Aman..udah dijinakin siang tadi "


" Emang lu apain? " Vania menimpali.


" Rahasiaa...bay the way ada pengumuman penting apa seh Van? "


" Bentar donk tunggu artis ibu kota dateng dulu.."


" Eh iya ngomong-ngomong kemana yah tuh si seksoy udah setengah jam gak ada bau-baunya " Irina mulai cingak clinguk memantau kedatangan Delia.


Hampir empat puluh lima menit mereka menunggu,akhirnya Delia mulai menampakkan batang hidungnya. Lengkap dengan hoodie masker dan jaket besar.


" Panas-panas gini heboh bener outfit lu " Irina memandangi Delia dari ujung kaki hingga ujung rambut.


" Yah gimana sih,artis ibu kota kan gue " jawab Delia sembari melepas perentelan penyamarannya.


Merekapun banyak mengobrol setelah menambah pesanan beberapa menu makanan dan minuman.


" Attention please...gue punya pengumuman penting sayang-sayangku " ucap Vania seraya menatap satu persatu sahabatnya dengan senyum sumringah.


" I will getting married..." Sentak nya penuh semangat dan aura bahagia.


" Oh my god..are you serious..." Irina mendekati Vania dengan menutup mulutnya. Ia tak percaya akhirnya sahabatnya itu akan menikah. Karena Irina lah yang paling tahu,Vania menjalin hubungan dengan kekasihnya sejak mereka masih SMA. Dan perjuangan Vania mempertahankan hubungan itu tidaklah mudah.


Vania hanya mengangguk kemudian memeluk Irina dengan kebahagiaan yang membuncah. Tak terasa matanya mulai berkaca-kaca karena bahagia.


" Congratulations honey.." Elea ikut mendekat dan memeluk dua sahabatnya itu.


" Gue iri banget beb,tapi gue ikut bahagia" kini Delia yang mendekat dan memeluk ketiga sahabatnya.


Susana mulai haru,Vania pun bukan hanya berkaca-kaca tapi sudah sesengukan. Begitupun dengan tiga sahabatnya.


" Udah jangan nangis-nangisan donk,,momen bahagia nih.." Irina mengurai pelukan mereka kemudian menghapus air matanya.


Sesaat mereka diam menghapus air mata dan saling melempar senyum dan tawa.


" Sebenernya gue juga diajakin married gaes " tiba-tiba Delia berucap.


" Serious beb..tapi laki mana yang ngajak lu nikah? " Tanya Irina karena memang selama ini hanya Vania yang tahu identitas kekasih Delia.


" OMG lu dilamar pak dok.." sebelum Elea melanjutkan kalimatnya Delia sudah membekap mulut Elea,tak pelak gadis cantik itupun meronta.


" Lagian napa ditutup-tutupin sih Del,,udah dilamar juga " balas Vania.


" Siapa sih lakiknya ..kok cuma gue yang gak tau.." Irina mulai kepo dan kesal karena sepertinya Vania dan Elea sudah tahu siapa gerangan kekasih Delia yang selama ini selalu ia tutupi identitasnya.


" Belum bisa dibilang ngelamar sih,dia cuma ngajakin kawin tapi gue gak yakin "


" Napa gak yakin,lu udah mulai tua Dell.."


" Irina..." Sentak Vania dan Elea bersamaan membuat pemilik cafe itu terdiam.


" Dia ngajak gue nikah tapi dengan syarat gue harus meninggalkan dunia akting dan model,makanya gue gak yakin "


" Mungkin karena peran lu yang nyebelin kali Del,elu sih jadi pelakor juga mau " Irina.


" Trus gimana akhirnya?" Elea.


"Oh..ya tadi pagi gue nebeng sama lakik lu loh Del " seketika tiga sahabatnya menatap Elea.


" Kok bisa?? " Vania dan Delia bersamaan.


" Emang sapa sih lakiknya??" Irina.


" Ceritanya panjang,gak sengaja pokoknya..trus-trus gimana tadi lanjutan lamarannya?"


" Yah gitulah belum berlanjut dan belum ada kepastian " Delia.


" Gue do'ain cepet-cepet nyusul gue yah.." Vania memeluk Delia menyalurkan semangat pada artis cantik itu.


" Gak mau do'ain gue sama Barra juga " Elea mulai mendrama,dia juga ingin cepat-cepat ke jenjang yang lebih serius lagi.


" Iya-iya sini.." ucap Vania kemudian mereka bertiga saling berpelukan.


" Nah..gue gimana yang gak laku-laku " Irina menunjuk dirinya sendiri.


" Gue do'ain juga lah sini donk " mereka berempat pun berpelukan erat,dengan perasaan bahagia.


Lama mereka berbincang dan bersenda-gurau sore ini mengeluarkan semua keluh kesah cerita suka duka selama beberapa saat mereka tak dapat berkumpul ria seperti sekarang ini.


Sampai tak terasa malam sudah makin larut dan sudah beberapa kali Delia mendapat panggilan dari Rio. Begitupun dengan Elea yang dari tadi sibuk membalas chat dari Barra.


" Kayaknya manager gue mulai rewel deh gaes " Delia mulai memunguti barang-barangnya pertanda gadis itu sudah bersiap pulang.


" Bapaknya anak-anak juga mulai berisik gaes " Elea ikut-ikut beberes.


" Gaya lu bapaknya anak-anak,buat juga belum " Irina.


" Emang lu tahu..??" Ucap Vania,merekapun saling menatap Elea secara bersamaan.


" Belum lah...gue masih ori..." Elea melemparkan kentang goreng dihadapannya pada Vania. Dan Vania hanya tertawa.


" Makanya jangan sok-sokan lu pake panggilan bapaknya anak-anak,kalo hamil beneran gimana " Irina ikut melempar kentang pada Elea.


" Amiin..tapi nanti setelah sah secara agama dan negara " Elea menjawab dengan ucapan yang yang tulus,membayangkan hubungan yang sah dan memiliki anak-anak bersama Barra membuat hatinya menghangat.


*


*


*


Delia kini sudah meninggalkan Blue Orchid,diikuti dengan Elea dan Vania. Tinggallah Irina disana menatap tempat yang baru saja mereka gunakan. Begitu berantakan,kentang goreng berserakan dimana-mana,ada saus cabe di gelas bekas orange jus dan lain sebagainya.


" Kalian tetap sama saja " gumam Irina tersenyum mengingat kelakuan keempat sahabatnya itu tak pernah berubah. Masih sama seperti saat kuliah dulu.


" Tolong bersihkan ... " ucap Irina pada tiga karyawannya yang dari tadi menunggu perintah pemilik cafe.