
" Maaf .. maafkan aku " hanya itulah yang akhirnya dapat Adrian ucapkan dengan susah payah. Mendengar jawaban Elea barusan seolah dirinya tertampar kembali. Memang benar apa yang telah terjadi pada Elea adalah aib dan menuntut dirinya sama juga mengumbar aibnya.
' Kenapa aku telat menyadarinya ' gumam Adrian dalam hati.
Tiba-tiba saja ekspresi wajah Elea menjadi aneh,seolah menahan sesuatu,wajahnya menjadi pucat dan kedua matanya berkaca-kaca.
" Ada apa Ele? " Adrian refleks memegang pundak Elea yang kini mendekap mulutnya.
" Kau mau muntah? " Elea mengangguk cepat menjawab pertanyaan Adrian,segera saja pria itu membantu Elea turun dari ranjang dengan hati-hati,namun belum sampai di kamar mandi Elea sudah memuntahkan isi perutnya,dan sialnya lagi ia muntah tepat mengenai kemeja Adrian,bahkan seluruh bagian depan tubuhnya hampir terkena muntahan Elea.
Tapi bukanya marah atau jijik Adrian tetap memapah Elea sampai ke kamar mandi,dengan telaten dan sabar Adrian membantu Elea membersihkan diri walaupun dirinya juga kotor karena ulah wanitanya.
" Maafkan aku dokter Adrian " dengan sendu Elea menatap pria yang tengah membersihkan kemejanya.
" Tidak masalah,bagaimana kau masih mual? " Elea hanya menggeleng.
" Ayo aku bantu kembali ke kamar " Adrian mengulurkan tangan untuk memapah Elea namun wanita itu bergeser menolak.
" Aku bisa sendiri,kau .. kau bersihkan saja kemejamu .. Em.. mungkin ada baju kak Bian yang bisa kau pakai " setelah mengucapkan kalimatnya Elea segera keluar dari kamar mandi,meninggalkan Adrian yang masih mematung di depan wastafel.
Mengingat kata-kata Elea yang akan mencarikan baju ganti untuknya membuat hati Adrian menghangat, walaupun hanya hal kecil rasanya Adrian menganggap itu sebagai bentuk perhatian Elea untuknya.
' Aku rela kau muntahi setiap saat asal bisa tetap disini menjaga dan melihatmu Elea ' batin Adrian menatap pantulan dirinya dalam cermin yang tergantung di hadapannya.
❤️
" Dokter Adrian apakah kau sudah selesai? " tanya Elea setelah mengetuk pintu beberapa kali. Namun saat pintu itu terbuka Elea refleks menutup matanya dan segera berbalik badan. Adrian keluar dengan bertelanjang dada karena ia sudah melepas kemejanya yang benar-benar basah. Walaupun kini sudah menutup mata dan tidak ingin melihatnya namun sepersekian detik mata Elea sudah ternodai dengan penampakan dada bidang Adrian yang dihiasi dengan bulu-bulu lembut yang kontras dengan warna kulitnya. Apalagi ukiran yang terlihat bagai roti sobek di perutnya membuat pemandangan indah itu sangat sayang untuk dilewatkan,namun tidak bagi Elea melihat Adrian seperti itu membuatnya bergidik dan kembali mengingat malam itu,malam dimana tubuh polos Adrian tengah berpacu diatas tubuhnya.
" Ma .. maaf Elea,kemejaku basah dan kau bilang akan mencari baju ganti,jadi aku melepasnya " Adrian pun salah tingkat,khawatir Elea akan kembali takut dan traumanya kembali datang.
" Inn ..ini baju dan celana kak Bian,pakailah " Elea menyerahkan baju ditangannya namun tanpa memandang Adrian. Setelah Adrian menerima dua potong pakaian yang ia berikan Elea segera melangkah menjauh dari pintu kamar mandi.
Dengan cepat Adrian memakai baju yang diberikan Elea. Kedua pakaian itu terasa pas di tubuhnya karena memang postur tubuhnya dan Bian tidak jauh berbeda,hanya saja Adrian lebih berisi dari pada Bian,jadi kaos putih polos yang diberikan Elea terasa agak ketat saat menempel di badannya hingga memperlihatkan otot lengannya.
" Kau masih mual? " Elea hanya menggeleng tanpa menatap Adrian.
" Mau makan sesuatu?oh .. ya bukannya tadi kau ingin apel atau belimbing?mau aku kupaskan? " Elea masih diam dan hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. Rasanya Adrian seperti membujuk seorang anak kecil yang sedang merajuk.
' Apakah Elea marah karena peristiwa tadi? ' pikir Adrian dalam hati.
" Dokter Adrian kau tidak pulang?sudah dari tadi siang kau disini,dan ini sudah hampir gelap " ujar Elea seperti mengusir Adrian secara halus.
" Aku akan pulang setelah Bian datang "
" Kak Bian mungkin pulang malam,dia barusan menghubungiku,karena aku sudah baik-baik saja sebaiknya kau pulang "
" Masuklah,angin malam tidak baik untukmu " Adrian menarik pelan lengan Elea,mencoba mengalihkan pembicaraan yang membuatnya tidak senang
" Berbaringlah " pinta Adrian setelah Elea duduk di ranjangnya,aku akan keluar bila kau tidak nyaman.
" Dokter Adrian kau harus .. "
" Aku akan tetap disini Elea,setidaknya sampai Bian kembali " Adrian bersikukuh,dan segera berlalu tanpa menunggu kalimat sanggahan Elea.
Adrian mendengar suara bel pintu sesaat setelah meninggalkan kamar Elea.
" Katanya pulang malam,kenapa sekarang sudah kembali " gumam Adrian melangkah mendekati pintu.
Namun setelah pintu terbuka bukanlah sosok Bian yang ia lihat,tapi seorang pria yang wajahnya tidak asing,pria itu kini tengah menatapnya dengan heran sekaligus marah. Pria itu adalah Barra,Barra yang sampai detik ini masih memperjuangkan. Pria itu seperti menilai penampilan Adrian dari ujung kaki sampai ujung kepala. Adrian yang hanya mengenakan kaos dan celana rumahan membuat Barra berfikir lelaki itu sudah tinggal di apartemen Elea. Pikiran itu seketika membuat otaknya mendidih dan hatinya bergemuruh penuh emosi.
" Sedang apa kau disini?! " seru Barra dengan kilatan emosi di matanya.
" Kau sendiri sedang apa di sini? " walaupun Barra terlihat sangat emosi namun sebaliknya dengan Adrian. Ia menjawab pertanyaan Barra dengan santai bahkan ada binar terang di wajahnya,seolah dirinya tengah menikmati kobaran emosi di mata rivalnya itu.
" Berani-beraninya kau tinggal di sini " Barra langsung mencengkram kaos Adrian dan mendorongnya walaupun tak sampai terjatuh namun tubuh Adrian mundur beberapa langkah karena dorongan tiba-tiba itu.
" Kau sudah merusak Elea ku dan sekarang kau tinggal di tempatnya?!ternyata kau benar-benar tak punya malu " kali ini kata-kata Barra berhasil mematik emosi Adrian, ' merusak Elea ' sebuah kenyataan yang selalu berhasil menghantam Adrian . Membuatnya terkadang emosi dibuatnya dan terkadang merasa bersalah yang tak terkira.