
" Siall.... " Umpat Delia memukul kemudi mobilnya. Beberapa kali menelepon Adrian tapi tak ada respon darinya.
Beberapa kali bahkan Delia sempat mencari di setiap sudut resto tapi tak juga menemukan Adrian. Sampai akhirnya ia putuskan untuk mencari diluar dan akhirnya menemukan bahwa mobil Adrian sudah tidak ada.
Sekali lagi ia mencoba menghubungi Adrian namun nada panggilannya tetap sibuk. Entah sudah berapa puluh pesan yang ia kirimkan tapi tak ada respon sama sekali,bahkan dibaca pun tidak.
" Sudahlah Delia..pulang..istirahatlah " Rio melongo dari kaca jendela mobil. Sedari tadi memang Rio terus mengikuti Delia,ia khawatir artisnya itu akan bertindak yang aneh-aneh lagi.
" Semua gara-gara kau..." Sentak Delia penuh emosi.
" Andai saja kau tidak menghentikanku aku pasti sudah bersama Adrian sekarang "
"Pefft..percaya diri sekali kau,mengangkat teleponmu saja dia tak mau apalagi menghabiskan waktu bersamamu " Rio tak dapat menahan tawanya mendengar apa yang diucapkan Delia barusan.
' Sudah tau diabaikan tetap keras kepala ' batin Rio dalam hati. Sebenarnya ia kesal menunggui Delia dengan sikap menyebalkannya itu. Ini sudah hampir dini hari dan dirinya belum bisa istirahat dengan tenang.
" Pulanglah dan istirahat besuk kau ada jadwal take pukul 11 " ucap Rio lagi namun Delia tetap diam sembari mengotak-atik ponselnya.
" Aku harus ke apartemen Adrian " Delia langsung menghidupkan mesin mobilnya,dia yakin Adrian pasti kembali ke apartemen. Mengingat obat yang ia berikan pada Adrian tadi pasti sekarang sudah bereaksi,dan ia yakin Adrian butuh pelampiasan hasrat sekarang. Ya,Delia memilih cara kotor itu untuk menjerat Adrian,dia membayar seorang pelayan untuk membubuhkan obat laknat itu ke dalam anggur yang ia berikan pada Adrian. Ia lebih memilih cara kotor dan menjadi tersangkanya dari pada harus ditinggalkan kekasihnya begitu saja.
" What!! apa kau bilang?" pekik Rio,sebenarnya ia dengan jelas mendengar apa yang dikatakan Delia,namun oria itu tak percaya di malam yang hampir dini hari ini Delia akan pergi ke apartemen Adrian.
" Jangan gila Delia "
" Ya..aku memang gila,sekarang minggirlah atau kau akan terluka " Delia langsung tancap gas mengemudikan mobilnya,meninggalkan Rio yang sepertinya masih meneriakkan namanya. Sudah pasti Rio akan mengoceh luar biasa besok,tapi itu bukan masalah besar bagi Delia.
Mungkin hanya lima belas menit yang dibutuhkan Delia untuk sampai ke apartemen Adrian,setelah memarkirkan mobilnya Delia segera menuju lantai dimana unit apartemen Adrian berada. Entah mengapa hatinya berdebar hebat membayangkan apa yang akan ia temukan nanti. Akankah Adrian tengah bercumbu dengan seorang wanita untuk memuaskannya,ataukah nanti Adrian akan langsung menerkamnya saat ia masuk. Membayangkan bagaimana dirinya dan Adrian akan bergulat panas malam ini membuat gurat rona merah terlihat di pipi mulusnya.
" Honey ... " lirih Delia memangil Adrian saat dilihatnya apartemen itu
kosong dan sepi. Delia memang bisa keluar masuk apartemen Adrian dengan mudah karena ia mengetahui sandi pintunya. 120725 barisan angka yang digunakan Adrian untuk menjadi sandi dipintu apartemennya begitu mudah diingat Delia,sebuah perpaduan angka yang terdiri dari tanggal lahirnya,tanggal lahir Adrian dan tanggal jadian mereka berdua.
Dilihatnya kamar Adrian kosong,ranjangnya pun nampak masih rapi seperti belum disentuh sama sekali.
' Apakah Adrian tidak pulang?lalu dimana dia sekarang ' batin Delia yang kini menuju kamar mandi,dan disana pun sama kosong tanpa siapapun di dalamnya.
' Harusnya obat itu sudah bereaksi bukan,lalu kemana Adrian sekarang?apakah ia mencari perempuan di luaran sana untuk menuntaskan hasratnya? ' bayangan Adrian yang tengah bercumbu mesra dengan wanita lain membuat tangan Delia terkepal penuh emosi.
Delia sangat tahu pengaruh obat itu pasti memaksa Adrian untuk segera menuntaskan gejolak hasratnya dengan seorang wanita,namun wanita itu harus dirinya,karena dirinyalah yang memiliki ide gila itu,karena dirinyalah yang secara tidak langsung membubuhkan obat itu kedalam minuman Adrian,kenapa wanita lain yang malah mendapat nikmatnya.
Kesal karena tak mendapatkan apa yang ia inginkan Delia kemudian meninggalkan apartemen Adrian. Sekarang sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Dimanakah Adrian sekarang,haruskah ia mencarinya di semua hotel di kota sebesar ini??.
' Apakah Adrian kembali ke mansion orang tuanya??tapi tidak mungkin karena hubungan mereka belum membaik ' pikiran Delia masih dipenuhi pertanyaan-pertanyaan akan keberadaan Adrian sekarang,bahkan sampai ia memasuki mobilnya pun pikirannya masih berkecamuk kemana-mana.
Kelelahan dan rasa pusing luar biasa membuat Delia akhirnya tak kuat dan menyerah,memilih kembali ke apartemennya,mungkin Rio ada benarnya,dia harus segera beristirahat walaupun dia yakin tak akan bisa tidur malam ini,bayangan Adrian yang mungkin tengah bercumbu mesra dengan wanita lain tak akan mungkin bisa membuatnya memejamkan mata.
Mungkin juga Adrian tidak akan melakukannya,karena kekasihnya itu adalah dokter siapa tahu sekarang ia sedang menemui rekannya sesama dokter untuk meminta obat yang dapat menurunkan hasratnya,sehingga Adrian tak harus repot-repot mencari perempuan asing hanya untuk memuaskannya. Ia sangat tahu Adrian bukan tipe pria yang mudah menyentuh wanita lain apalagi wanita yang baru ia kenal.