
" Adrian...??" Sentak Irina saat sudah dihadapkan dengan Adrian yang menunggunya di paviliun.
" Jadi kau yang memerintahkan preman-preman ini untuk menculik aku??" Nafas Irina masih turun naik karena emosi yang belum juga mereda. Bagaimana tidak,tiba-tiba saja tiga orang pria menyerbu masuk ke apartemennya. Dua diantaranya langsung membekuk Irina tanpa aba-aba apapun. Dan seorang lagi tampak memandang kinerja anak buahnya dengan tatapan datar dengan raut wajah tak terbaca.
Walaupun sepanjang perjalanan Irina diperlakukan dengan baik namun tetap saja tindakan ketiga orang yang ternyata suruhan Adrian itu termasuk penculikan.
' Tapi kenapa Adrian menculik ku? Apakah dia tertarik padaku setelah pertama kali bertemu malam itu? ' tiba-tiba saja rona merah terlihat di pipi Irina. Irina menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran itu,mana mungkin Adrian menyukainya karena pria itu adalah milik Delia.
" Jadi kenapa kau menculik ku?jika kau menginginkan tebusan maaf saja orang tuaku tidak akan memberikannya " dengan santai Irina duduk didepan Adrian walau dirinya belum dipersilahkan.
" Pffhh..." kedua anak buah Max yang tadi membawa Irina menutup mulutnya menahan tawa yang hampir keluar,menurutnya apa yang diucapkan Irina sangatlah konyol,bagaimana mungkin seorang Adrian Haliandra menculik seseorang hanya untuk meminta tebusan.
Menyadari tatapan Max dan Adrian yang begitu dingin kedua body guard tinggi tegap itu langsung mendelik kehilangan nyali.
" Aku ingin meminta bantuanmu " ujar Adrian setelah beberapa saat terdiam seolah sedang menyusun kata-kata untuk diucapkan.
" Bantuanku??" Irina menunjuk dirinya sendiri.
Adrian memberi kode pada Max agar ia ditinggalkan sendiri bersama Irina,dan Max oun mengerti segera keluar diikuti oleh dua anak buahnya.
......................
" Selamat pagi tuan " Mateo membungkuk memberi hormat saat melihat Barra yang sudah tampak segar keluar dari ruang kerjanya.
" Bagaimana?" Tanya Adrian dengan tatapan dingin dan aura mengintimidasi yang luar biasa. Jika saja Mateo belum lama bekerja dengan Barra mungkin dia akan memilih pergi dan mengindari tatapan Barra yang begitu mengerikan.Namun Mateo sudah bertahun-tahun bekerja sebagai assisten Barra dia tahu tuannya ini hanya tampak dingin dan keras diluar tetapi sesungguhnya dia adalah atasan yang baik dan tidak akan meluakainya.
" Sepertinya nona Elea belum meninggalkan kota ini tuan,saya sudah memeriksa semua data penumpang yang meninggalkan Jakarta,khususnya penerbangan menuju Bali,tapi nama nona Elea tidak ada di antara semua daftar penumpang tuan" walaupun laporannya tidak menyenangkan Barra sama sekali namun Mateo mengucapkan kalimatnya dengan tenang dan tanpa perasaan gugup sedikitpun.
" Selidiki tentang dia,dan apa hubungannya dengan Elea " Barra memberikan sebuah amplop besar berwarna coklat. Mateo segera membukanya dan alangkah terkejutnya Mateo saat menemukan foto Adrian yang ternya ada didalam amplop itu. Lengkap dengan data singkat tentang sang dokter beserta beberapa fotonya bersama Elea.
" Adrian??kenapa dia bisa terlibat dengan tuan Barra " ucap Mateo yang hanya disuarakan dalam hati.
" Kenapa diam?kau kenal dia?" pertanyaan Barra begitu pas,seakan tahu apa yang dipikirkan Mateo.
" Tidak tuan,hanya saja saya merasa pernah bertemu dengannya " Mateo lebih memilih tak memberitahukan bahwa Adrian adalah teman lamanya,dia akan diam-diam menemui Adrian dan menanyakan hubungannya dengan Barra dan Eea secara baik-baik.
......................
Plaakk.. " ini untuk Elea " suara tamparan Irina di pipi Adrian terdengar nyaring memenuhi ruang paviliun yang tampak sepi dan hanya ada dua orang didalamnya. Rasa emosi langsung melingkupi Irina saat Adrian menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan Elea,dan permintaan Adrian untuk membantunya menemani Elea selama masa perawatan. Bersamaan dengan tamparan itu Liam memasuki ruangan dan langsung melihat adegan yang membangunkan jiwa keponya.
'Ada apa kagi dengannya,setelah memperkosa seorang gadis cantik,kini ada gadis cantik lainnya yang menamparnya,apakah gadis cantik yang tampak marah ini adalah selingkuhannya?' batin Liam yang langsung menghentikan langkahnya dan memilih menguping pembicaraan keduanya.
" Baiklah...aku pantas mendapatkannya,tapi bisakah kau membantuku? " sebenarnya Adrian kesal mendapat tamparan dari Irina apalagi ia melihat Liam tengah terkekeh disudut ruangan.
" Bantuan kau bilang??kau yang dengan bejat memperkosanya,kenapa aku yang harus menemani perawatan Elea?? "
" Sudah kukatakan bukan,Elea histeris saat melihatku dan dia butuh seseorang untuk membuatnya tenang " Bara terdiam memberi jeda pada kalimatnya.
" Bukankah Elea tak punya keluarga di Jakarta,dan sahabat yang bisa membantunya hanyalah dirimu Irina "
" Baiklah aku akan menelepon Kak Bian agar dia menuntut perbuatan mesum mu"
" Oke...aku siap dipenjarakan,tapi yang lebih penting sekarang adalah menyembuhkan Elea " entah mengapa ucapan Adrian terasa menyentuh Irina,dia yang semula membuka ponsel mencari kontak Bian kini terdiam seketika.
' Sepertinya dokter tampan ini menyesali perbuatannya ' batin Irina mencoba mencari kebohongan dimata Adrian,namun sebuah kilat ketulusan terlihat di mata hazel yang menawan itu.
" Aku sedang menyelidiki dan memeriksa semua cctv di restoran itu,aku yakin ada yang memberikan obat itu padaku " ucap Adrian penuh keyakinan,dan dia juga sudah memerintahkan Max dan anak buahnya untuk memeriksa semua cctv malam itu,dia yakin akan menemukan pelakunya.
" Bukankah kau dokter,harusnya kau bisa mencari obat untuk menghilangkan efek obat itu,kenapa malah berbuat sejahat itu pada Elea??" Adrian terdiam,apa yang diucapkan Irina memang benar,harusnya ia bisa meminta Liam untuk membawakan obat yang bisa menghilangkan efek perangsang itu,namun keadaanya tidak semudah dan sesimpel yang diucapkan Irina.
" Yaa..aku memang salah,sangat salah,kau boleh mencelaku marah atau bahkan memukulku lagi,tapi aku mohon jagalah Elea selama perawatannya,aku yakin dia akan segera bangun " melihat Adrian yang tertunduk lesu dan pasrah membuat Irina luluh dan menyanggupi permintaan Adrian.
" Baiklah..aku akan bersamanya sampai sembuh,tapi bagaiman dengan Delia?"
" Delia urusanku,lagi pula malam itu sebenarnya kita memang sudah berakhir,aku datang bersamanya karena itu adalah permintaan terakhirnya "
" Cih..kau hanya beralasan untuk menutupi tindakan mesummu "
" Diam kau Liam..." sentak Adrian mulai terbawa emosi saat melihat Liam yang terkekeh dan menertawainya dari tadi. Bukan membelanya didepan Irina tapi malah tertawa riang tanpa perasaan.
" Apa dia komplotan mu juga?" tanya Irina dengan tatapan penuh selidik.
" Tentu saja bukan..aku adalah pria baik-baik yang sangat menjunjung tinggi kehormatan wanita " Liam langsung menyela dengan seringai lebar dan dengan tanpa tahu malu duduk disebelah Irina. Tentu saja itu membuat Irina risih dan sedikit bergeser.
" Tenang saja nona,aku sudah dijinakkan bukan lelaki buas seperti dia " Liam memasang senyuman seindah mungkin tanpa perduli dengan tatapan Adrian yang begitu tajam kepadanya.
"Namaku Liam Davies aku adalah dokter yang merawat nona Elea,dan kita pasti akan sering bertemu demi kesembuhan nona Elea,jadi bersediakah kau memberitahukan siapa namamu?" " Irina " jawab Irina sembari menjabat singkat jemari Liam.
Kalau saja Liam bukan dokter yang merawat Elea sudah pasti Adrian akan menendang sahabat tak tahu malu ini.