
Delia mengerjapkan matanya,cahaya matahari yang menyorot langsung kearahnya membuatnya silau dan menutup mata kembali.
Walau kepalanya terasa pusing dan hampir pecah ia mencoba bangun,mencoba mengingat kepingan kejadian semalam. Ia mengarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan,dan ia tahu kini ia tengah berbaring di kamarnya.
Tapi bagaimana ia bisa sampai disini?sekali lagi ia coba mengingat walau kepalanya terasa berputar-putar.
" Kau sudah bangun? " suara itu menyapa indra pendengarannya,suara yang sangat familiar baginya,suara itu adalah milik Rio sang manager.
" Minumlah,ini akan mengurangi rasa pusing mu " ucap Rio meletakkan nampan dengan sebuah pil dan air putih diatasnya. Delia hanya menuruti meminum pil tersebut.
" Bukankah aku semalam di Galaxy Club "
" Tentu saja,Adrian yang membawamu kemari "
" Adrian " Delia mencoba mengingat lagi apa yang terjadi semalam,dan akhirnya ia ingat kalau Adrian memang yang membawanya keluar dari Galaxy Club. Tapi setalah itu ia tak ingat apa-apa lagi dan sekarang entah dimana pria itu.
" Apa Adrian marah padaku Rio? "
" Mana aku tahu,dia segera pulang setelah aku sampai disini,dia berpesan agar kau tak memasuki tempat itu lagi " jelas Rio menyampaikan pesan Adrian semalam.
" Oh...Ya Tuhan kenapa aku bodoh sekali " Delia merutuki kebodohannya semalam,Delia sangat tahu Adrian sangat membenci tempat-tempat malam seperti club diskotik dan sebagainya. Dan sekarang pria itu sudah pasti kesal pada dirinya.
" Rio,,bagaiman syutingnya kemarin? "
" Memangnya bisa berjalan lancar kalau tak ada dirimu " jawab Rio ketus. Karena kesalahan aktrisnya semua yang ada di lokasi syuting harus ikut menanggung akibatnya.
" Maafkan aku Rio.." Delia perlahan turun dari ranjangnya merangkul tangan Rio.
" Mandilah...kita bicarakan pekerjaan nanti "
" Tapi aku harus menemui Adrian..."
" Adrian lagi...??" Rio yang hampir keluar dari kamar kini kembali menoleh pada Delia.
" Bukankah seharian ini aku sudah ijin break,kau tak lupa kan nanti malam Vania tunangan "
" Oke..oke...tapi untuk apa kau menemui Adrian? "
" Tentu saja aku harus menemuinya,aku akan datang dengan Adrian nanti malam "
" Kau pikir dia mau??setelah apa yang kau perbuat kemarin malam" Kalimat Rio membuat Delia terdiam.
" Tidak mau,,aku harus datang dengan Adrian,aku akan mengenalkannya dengan Elea dan Irina "
" Mengenalkan sebagai apa? "
" Tentu saja sebagai..."
" Mantan pacar??" Rio memotong ucapan Delia.
" Rio...!!! " sentak Delia tak terima,bagaimana pun hubungannya dengan Adrian tetap saja mereka belum ada kata berpisah.
" Delia dengarkan aku.." Rio terdiam menjeda kalimatnya,menarik tangan Delia untuk duduk di sebelahnya.
" Apa yang coba kau cari Delia?apa yang sangat kau inginkan dari Adrian sampai harus merendahkan dirimu seperti ini? "
" Rio aku.."
" Diam dulu..dengarkan ucapanku.." Rio kembali diam menjeda kalimatnya.
" Sudah sangat jelas bagaimana ibunya tidak menerima mu,dan sudah sangat jelas pula sikap Adrian tak seperti dulu,lebih dingin bukan tidak seromantis dulu,tidakkah kau merasa Adrian sudah tidak mencintaimu? " panjang lebar Rio menjelaskan dan Delia hanya terdiam. Sepertinya ia merasa ucapan Rio benar adanya.
" Masih banyak pria lain di luar sana yang akan menerima mu mencintaimu dan perduli padamu,masih banyak yang lebih baik dari Adrian Delia..kau masih muda cantik terkenal kenapa kau diam saja dianggap rendah oleh Adrian dan keluarganya??jika memang Adrian dan keluarganya tidak menerima mu maka tinggalkan mereka,hiduplah dengan apa yang membuatmu bahagia " dengan tulus Rio mengucapkan kalimatnya,dari lubuk hati yang terdalam dia sangat perduli pada Delia,tapi entah mengapa hanya ada Adrian didalam pikiran aktrisnya itu.
" Tapi aku mencintainya Rio.." ucap Delia lirih menatap Rio dengan tatapan sendu.
" Jangan bodoh hanya karena cinta..jika itu hanya sepihak bukanlah cinta namanya "
Delia terdiam,perlahan butiran bening lolos dari kelopak sudut matanya. Delia mengakui semua yang diucapkan Rio memang benar,tapi bagaimana bisa dia hidup tanpa Adrian.
Rio memeluk Delia mencoba menguatkan gadis itu,walaupun tak ada ikatan darah pada mereka tapi Rio menganggap Delia sudah seperti adiknya sendiri.
" Tapi Rio,,aku harus menemui Adrian sekali ini saja,kalaupun aku harus berpisah dengannya maka harus dengan cara baik-baik " Delia mengurai pelukannya,mengusap air matanya,mencoba menetralisir perasaannya.
" Terserah kau saja,mandilah dulu kemudian makan,aku sudah memesankan makanan untukmu " jawab Rio kemudian meninggalkan kamar Delia.
" Mana mungkin aku berpisah baik-baik sementara ibumu mengibarkan bendera perang honey " Delia bergumam memandangi foto besar dirinya dan Adrian yang tergantung didinding kamarnya.
Sepeninggalnya Rio,Delia membuka laci di nakas dekat ranjangnya. Delia mengeluarkan bungkusan kecil yang sudah lama tersimpan disana.
" Aku tidak akan melepaskan mu Adrian,aku tidak akan kalah dari ibumu,aku tetap akan menjadi menantunya,akulah Delia Halindra hanya aku Nyonya Delia Halindra " ucap Delia memandangi bungkusan itu dengan tatapan ambisius. Dia yakin malam ini tak akan gagal lagi,ia terpaksa harus memberikan obat itu pada Adrian,tak apalah harus dengan cara menjebak yang penting dirinya bisa mendapatkan Adrian.