One Night With You

One Night With You
PART 65



Siang ini Bian memutuskan untuk pulang setelah menyelesaikan persidangannya. Walaupun sudah berhasil memenangkan kasus yang ia tangani namun perasaan Bian masih bergejolak tak tenang. Elea kini sedang sendirian di apartemen dengan keadaanya yang baru sembuh dan belum sepenuhnya pulih. Apalagi adiknya itu masih sering mual, tidak berselera makan dan bahkan sering memuntahkan isi perutnya. Dengan keadaan seperti itu Bian tentu saja tak tega berada jauh dari adiknya. Tapi seolah keadaan tak mendukungnya,ketika harus selalu dekat dan menjaga adiknya kini Bian dihadapkan pada pilihan antara adiknya dan karirnya. Ada satu client penting memintanya menangani kasus perusahaanya yang berada di Singapore sehingga mengharuskan Bian segera terbang ke Singapore. Ingin rasanya Bian menolak kasus itu,namun clientnya kali ini bukanlah orang biasa,menolak keinginannya sama saja menghancurkan karir bahkan hidupnya sendiri. Keadaan seperti itu tentu saja membuat Bian benar-benar dilema bagaimana harus menentukan pilihan,dia tidak mungkin pergi dan meninggalkan adiknya dengan keadaan seperti itu,tapi dia juga tak mungkin membawa serta Elea.


Tak terasa kini mobilnya sudah berada di area parkir apartemen,sebelum keluar dari mobil Bian melihat Adrian keluar dari mobilnya dengan membawa beberapa bungkusan. Wajah pria itu terlihat berbinar dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


" Adrian " panggil Bian keluar dari mobilnya,Adrian yang mendengar suara Bian pun langsung menoleh dan menghentikan langkahnya.


" Bian .. bukankah hari ini kau ada sidang? " tanya Adrian dengan senyuman yang belum menghilang dari wajahnya.


" Kau kemari lagi?tidak bosankah kau selalu datang dan selalu diabaikan pula? " bukannya geram atau marah Adrian justru tersenyum mendengar kalimat Bian.


" Bagaimana aku bisa bosan jika aku akan menemui calon anakku dan ibunya " seringaian lebar terlihat di wajah Adrian. Sementara Bian hanya berdecih mendengar ucapan Adrian yang tak tahu malu.


Pengacara itu kemudian melangkah menuju lantai dimana unit apartemen Elea berada. Adrian mengikutinya,menyeimbangkan langkahnya hingga kini ia sudah bejalan bersisihan dengan Adrian.


Tak ada yang mereka bicarakan selama perjalanan menuju apartemen Elea,keduanya hanya diam dan hanya terdengar hentakan kaki seirama dari keduanya.


Dalam hati Bian berfikir haruskah ia meninggalkan dan mempercayakan Elea pada Adrian selama ia pergi. Namun segera ia mengusir pikiran itu,walaupun akhir-akhir ini Adrian menunjukkan perhatiannya pada Elea namun tetap saja Adrian pernah hilang kendali dan menyebabkan semua masalah rumit ini. Bian tidak mau mengambil resiko dengan menitipkan Elea pada dokter tampan itu. Elea sendiri pasti juga akan menolak,karena sampai detik ini Elea belum bisa menerima Adrian.


" Bian .. bolehkah aku bertanya sesuatu? " celutuk Adrian memecah keheningan.


" Tidak " jawab Bian singkat padat dan sangat jelas pria itu tak mau berbasa-basi dengan Adrian.


" Apa kau masih membenciku?masih marah padaku? " Adrian tetap bertanya walaupun Bian sudah menolak pertanyaannya yang bahkan belum ia ucapkan.


" Kalau kau masih membenciku masih marah padaku,kenapa kau mengizinkan aku menemui Elea? "


" Kalau begitu aku tak akan mengizinkanmu lagi " ujar Bian menghentikan langkahnya yang memang sudah sampai di depan unit apartemen Elea.


" Bukan begitu maksudku Bian ... "


" Jangan datang lagi atau muncul di hadapan adikku" dengan cepat Bian memotong ucapan Adrian dan tangannya sudah memegang handle pintu apartemen Elea.


" Pergilah ... " hardiknya kemudian memutar kenop pintu,Adrian sudah siap mengucapkan bantahannya namun ketika pintu itu terbuka suara Elea yang tengah memuntahkan isi perutnya langsung membungkam Adrian.


Huuueekk...hooekks..


Suara itu langsung membuat Bian berlari mencari adiknya,begitupun dengan Adrian yang menerobos masuk tanpa permisi dan tidak mengindahkan perkataan Bian sebelumnya.


" Elea .. " Bian langsung menyerbu merengkuh adiknya yang masih duduk dilantai kamar mandi. Kepala bersandar pada closet yang sudah tertutup.


Adrian pun tak kalah khawatir,ia langsung duduk berjongkok di hadapan dua kakak beradik itu.


Bian segera menggendong sang adik menuju kamarnya,wajah Elea yang pucat dan sinar matanya yang meredup membuat Bian dan Adrian khawatir setengah mati.


" Akan aku telepon Alex " ujar Adrian setelah Bian membaringkan Elea di ranjangnya. Bian hanya mengangguk menyadari keadaan adiknya tidak memungkinkan dirinya untuk mendebat Adrian.