One Night With You

One Night With You
22. Malam Yang Salah 2



Adrian kini telah mengunci Elea dalam kungkungannya. Bibirnya kini beralih menyapu daerah leher Elea yang begitu mulus putih bersih dan menguarkan aroma alami tubuh Elea yang membuat Adrian terlena,dengan lembut dan menuntut Adrian memberikan kecupan-kecupan lembut hingga meninggalkan beberapa bekas kemerahan disana. Tangannya pun tak tinggal diam masuk menelusup kedalam dress Elea memberikan sentuhan-sentuhan lembut nan sensual kemanapun hasrat menginginkannya.


Entah setan apa yang merasuki Adrian sekarang,pertahanan dirinya yang sebelumnya sangat baik kini benar-benar jebol oleh gelora nafsu yang luar biasa. Apalagi yang sekarang di sentuhnya dengan intim adalah gadis yang selama ini ia dambakan dalam diam. Adrian seakan tak perduli dengan resiko yang akan ia terima nanti,yang ia pikirkan saat ini adalah memiliki Elea walau hanya satu malam.


Elea sendiri yang belum sadar sepenuhnya benar-benar hanyut oleh sentuhan dan kecupan lembut Adrian. Pengaruh wine yang tadi ia minum membuat dirinya tak dapat membedakan antara mimpi dan alam sadarnya. Apa yang dirasakannya kini seolah bagai mimpi oleh Elea.


Namun rasa sakit dan perih di bagian intinya membuat Elea membuka mata. Beberapa kali mengerjapkan matanya mencoba menyakinkan bahwa pria yang ada diatasnya kini benar-benar dokter Adrian.


" Dokter Adrian apa yang kammh.." ucapannya tertahan saat bibir Adrian kembali membungkamnya dengan ci*man yang menggebu.


Sekuat tenaga Elea mendorong dada bidang Adrian,namun tubuh Adrian tak bergeser sedikitpun,malah lebih erat mendekapnya. Tangan Elea mencakar dan memukul Adrian namun pria itu justru mengunci kedua tangannya keatas kepala Elea.


Tangis Elea semakin pecah merasakan tubuhnya yang berguncang oleh tindakan Adrian. Rasa sakit itu bukan hanya di sekujur tubuhnya tapi juga hatinya merasa tersayat perih menyadari kesuciannya telah direnggut paksa oleh Adrian. Entah apa yang terjadi sebelum ia sadar sampai dirinya harus berakhir dibawah kungkungan Adrian yang menikmati tubuhnya tanpa permisi.


" Adrian..aku mo..hon..hentikan..." suara lirih Elea diantara isakan tangis yang begitu menyayat hati. Tentu saja tangis pedih Elea menjadi pukulan hebat untuk Adrian,membuatnya sesaat menghentikan gerakannya. Membelai lembut wajah Elea,mengusap air mata yang semakin deras membasahi wajah ayunya.


" Aku mohonn Elea..jadilah milikku malam ini " desis Adrian dengan rasa perih yang sama dihatinya. Dikecupnya mata Elea yang terpejam erat. Adrian tahu dirinya salah dan penyesalan benar-benar menyesakkan dadanya saat ini,namun tidak mungkin dirinya berhenti setelah semua yang telah terjadi. Lagi pula dirinya sudah terlanjur merenggut kesucian Elea menjatuhkan kehormatan wanita yang ia cintai hingga ke dasar yang tak terlihat. Bila konsekuensinya tetap dibenci oleh wanitanya bukankah lebih baik menuntaskannya hingga sampai pelepasan dirinya. Setidaknya Adrian bisa meninggalkan benihnya di rahim Elea,mungkin dengan begitu dia dapat menjerat Elea agar tetap disisinya.


Sedangkan Elea sendiri tak dapat berbuat apa-apa,runtuh dan hancurlah sudah harapannya untuk berbagi masa depan indah berumah tangga dengan lelaki yang ia cintai. Bagaimana ia akan menjelaskan pada suaminya kelak bahwa keadaanya sudah tidak suci lagi. Tubuhnya hanya terdiam kaku melayani setiap gerakan Adrian diatasnya. Tangannya meremas seprei sekuat tenaga,berusaha menahan rasa sakit di hati dan ditubuh bagian bawahnya . Walaupun ia memberontak dan menolak pun tak ada gunanya,tenaganya yang semakin lemah tidak ada apa-apanya dibanding kekuatan dan nafsu Adrian yang semakin bergelora. Rasa sakit,kecewa dan amarah bercampur jadi satu membuat air matanya terus menetes deras walau matanya tertutup rapat berharap mimpi buruk nan pedih ini segera berakhir.


Akkhh... lenguh@an panjang Adrian setelah mencapai pelepasan yang begitu dahsyat. Berkali-kali ia memnyemburkan cairan cintanya ke dalam rahim Elea. Tubuhnya ambruk memeluk tubuh Elea yang masih kaku tak sudi menyentuhnya.


Perlahan Adrian bangkit menatap Elea dengan nafasnya yang naik turun.


" Aku akan bertanggung jawab Elea..aku berjanji akan menikahi mu " wajah Adrian begitu dekat dengan Elea saat mengucapkan kalimatnya. Bahkan dahi dan hidung keduanya saling menempel,namun tetap saja Elea tak mau menatap Adrian malah memalingkan mukanya menghindari tatapan mata Adrian yang sebenarnya sangat tulus.


Adrian perlahan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.Namun Elea malah menarik tubuhnya menjauh dan beringsut memunggungi Adrian.Bahu Elea masih sedikit berguncang pertanda wanitanya itu masih terisak dalam tangisnya. Adrian mendekat mengusap lembut pundak basah Elea,namun justru Elea semakin menggeser tubuhnya seolah tak sudi disentuh oleh Adrian.


Menyadari penolakan dari wanitanya Adrian segera bangkit,meraih dan memakai handuk kimono yang tergeletak dibawah.


" Akan ku ambilkan minum" Adrian beranjak mengambil segelas air putih di atas meja yang tak jauh dari ranjangnya. Adrian meletakkan segelas air putih itu di nakas dekat ranjang,walaupun ia tahu Elea pasti tak akan mau meminumnya.


Walau matanya terpejam Adrian tahu Elea tidak sedang tertidur,bahkan sesekali Elea masih terisak. Dengan lembut ia membelai pucuk kepala Elea,mendekatkan wajahnya ke wajah Elea.


" Maafkan aku Elea .. maafkan kebodohanku " dengan tulus Adrian mengucapkannya,hatinya juga sakit luar biasa,penyesalan dan amarah bergemuruh di dadanya,sesal karena tak dapat menahan hasratnya,marah pada dirinya sendiri yang tega merenggut kesucian wanita yang sangat ia dambakan.