
Sudah kedua kalinya Adrian membasuh mukanya dengan air di wastafel toilet. Kecamuk amarahnya mulai reda. Entah mengapa ia begitu emosi mendapat ciuman tiba-tiba dari Delia. Mungkin karena dia merasa memang hubungannya sudah berakhir dan mungkin karena tatapan dan sorakan semua orang padanya. Atau mungkin karena tatapan Elea yang bahkan tak terlihat setitik cemburu pun padanya dan bahkan menyunggingkan senyum penuh dukungan.
' Bodohnya aku,kenapa aku mengharapkannya begitu dalam' batin Adrian memandangi pantulan dirinya di kaca besar dihadapannya.
Setelah mengeringkan mukanya dengan sapu tangannya,Adrian tak berniat kembali ke mejanya lagi,dia ingin langsung pulang dan bahkan tak perduli dimana Delia sekarang. Tapi saat keluar dari toilet ia mendengar Elea tengah berdebat melalui sambungan telepon.
' tunggulah diluar..aku segera menemuimu ' samar-samar terdengar suara Elea dengan entah siapa yang baru saja meneleponnya.Namun ada yang aneh,Elea seperti terhuyung dan memegang kepalanya.
" Kau tak apa-apa? " tanya Adrian setelah mendekati Elea.
" Dokter Adrian..kau disini "
" Kau mabuk? " Adrian kembali melangkah membuat posisinya lebih dekat dengan Elea.
" Aku tidak apa-apa dokter hanya minum sedikit " jawab Elea dengan mendekatkan jari telunjuk dan ibu jarinya.
" Oh..ya sebaiknya kau cari Delia dokter,sepertinya dia tadi sedang menangis " imbuh Elea lagi setelah melihat raut wajah Adrian yang terlihat khawatir.
" Kau yakin tidak apa-apa?" Adrian memastikan lagi,dan Elea hanya mengangguk.
" Maaf dokter aku harus..harus pergi sebentar " tanpa menunggu jawaban dari Adrian Elea segera melangkah meninggalkan Adrian yang masih berdiri mematung menatapnya.
Ia harus segera menemui Barra yang menunggunya di depan resto. Sebenarnya Elea juga tak ingin menemui Barra tapi karena mantan kekasihnya itu mengancam akan membuat keributan di acara Vania maka mau tak mau Elea harus keluar menemuinya.
Melihat langkah Elea gontai dan sedikit terhuyung membuat Adrian khawatir dan mengikutinya diam-diam. Elea keluar dari resto menuju sudut sepi disebelah resto tersebut.
Langkah Adrian terhenti saat melihat ternyata Elea menemui seorang pria yang belum ia kenal. Entah siapa pria itu karena kini posisinya membelakangi Adrian.
" Apa maumu Barra?"
' Barra?apakah pria ini Barra kekasih Elea ' batin Adrian sembari masih memperhatikan mereka berdua. Sebenarnya Adrian bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain,api entah kenapa apa yang berhubungan dengan Elea membuat dokter tampan itu tertarik ingin mengetahui lebih dalam.
" Menikahlah denganku Elea,aku berjanji akan berubah aku akan segera menemui kak Bian untuk meminta restu " Barra mencengkram bahu Elea.
" Apa kau gila Barra?hubungan kita sudah berakhir " Elea mencoba melepas cengkraman Barra tapi justru membuat pria itu memeluknya dengan erat.
" Tidak Sayang,tak akan kubiarkan kamu pergi " ucap Barra semakin mempererat dekapannya,walaupun Elea meronta dan mencoba melepaskan diri Barra semakin erat memeluknya bahkan terasa menyakiti Elea.
" Barra lepaskan kau menyakitiku " ujar Elea namun pria itu justru mencoba menciumnya,membuat tangis Elea semakin pecah antara takut dan rasa kecewa karena bukan seperti ini Barra yang ia kenal dulu.
" Kenapa Elea??jika kau tak suka aku melakukannya dengan wanita lain bukankah seharusnya kau menggantikannya,memuaskan kebutuhan lelakiku " sepertinya Barra memang sedang mabuk,apa yang dilakukan bukan lagi rasa posesif pada kekasih tapi seperti pelecehan pada wanita.
Buuugghhtt..
Sebuah tonjokan langsung mendarat di wajah Barra membuat tubuhnya terhuyung jatuh. Adrian segera menarik Elea, menyembunyikan gadis itu dibelakang tubuh kekarnya .
" Siapa kau bangs*t..?" umpat Barra mencoba berdiri. Ia mengusap sudut bibirnya yang ternyata berdarah karena pukulan Adrian. Kemarahannya semakin menjadi tatkala melihat pergelangan tangan Elea yang dipegang erat oleh pria yang baru ia temui itu.
' Ternyata benar,Barra atasan Mateo adalah Barra yang sama dengan kekasih Elea ' batin Adrian saat menyadari pria didepannya ini adalah pria yang sama dengan pria di mobil Mateo malam itu.
Barra mencoba mendekat meraih tangan Elea yang berada di belakang Adrian,namun dengan sigap Adrian berhasil menghentikannya.
" Dia kekasihku brengs*k,kembalikan dia padaku " Barra mulai beringas bagai orang kesetanan. Sorot matanya merah dengan kilat kebencian dan kemarahan yang kental.
" Kau mabuk bung,jika dia kekasihmu seharusnya kau tidak memaksanya bahkan menyakitinya " kalimat Adrian tegas dan diucapkan dengan nada tenang tanpa emosi sedikitpun. Walaupun rasanya Adrian merasa panas di seluruh badannya namun dia yakin ini bukan karena panas emosi.
" Dan apa masalahmu??kau bukan siapa-siapa jangan ikut campur urusanku " Barra mencengkram kerah baju Adrian.
" Hentikan Barra..cukup " Elea mencoba menengahi ,membuat cengkraman Barra mengendor.
" Apakah dia lelakimu??secepat itu kau mendapat penggantiku??" nampaknya kemarahan Barra belum mereda sedikitpun,kini lelaki yang tengah mabuk itu mencengkram rahan Elea dengan kuat,tak perduli walau gadis itu terlihat meringis kesakitan.
Adrian pun tak tinggal diam melihat Elea diperlakukan seperti itu,segera itu menarik punggung Barra dan memberikan tonjokan kedua tepat di hidung pria itu,membuat hidung mancung Barra meneteskan darah segar.
Barra tak tinggal diam,dia yang tadinya tersungkur langsung bangkit dan membalas pukulan Adrian. Sedangkan Adrian yang baru saja menenangkan Elea tak dapat menghindar karena perhatiannya fokus pada Elea.
Pukulan Barra tepat mengenai bibir kanan Adrian membuat sudut bibir tebal nan sensual itu terlihat memerah walau tak sampai mengeluarkan darah. Saat Adrian akan membalas pukulan Barra Elea menarik dan menghalanginya.
" Tolong dokter Adrian,,aku mohon hentikan.." Elea mengucapkan kalimatnya bersamaan dengan isakan tangis. Entah apa yang membuatnya menangis ditengah pergulatan emosi dua pria itu .
Barra kembali merangsek menarik tangan Elea bersamaan itu pula Adrian mempertahankan tangan Elea dalam genggamannya.
" Lepaskan bangs*t..dia milikku.." Barra menarik tangan Elea.
" Takkan kubiarkan kau menyakitinya " Adrian kembali menariknya.
" Cukup...lepaskan...kalian menyakitiku .." sentak Elea melepaskan tangan keduanya. Ia mengayunkan kakinya melangkah meninggalkan dua pria yang kembali daling memukul itu. Namun Adrian berhasil merubuhkan Barra dan meninggalkan Barra yang tersungkur tapi masih dalam keadaan sadar.
Adrian mencari Elea yang tanpa ia sadari sudah menghilang dari pandangannya. Padahal dirinya dan Barra baru beberapa pukulan saja dan Elea sudah tak terlihat.