
" Aku mohon honey..." Delia memohon sembari meremas jemari Adrian,namun pria itu hanya terdiam seolah sedang berpikir.
Disiang yang terik ini Delia memutuskan menemui Adrian,memohon pada pria itu untuk menemaninya menghadiri pertunangan Vania sahabatnya.
Walaupun Delia sudah berhasil merayu Adrian agar mau memaafkan kesalahannya semalam,namun sepertinya merayu Adrian untuk menghadiri pertunangan Vania bukanlah hal yang mudah. Terlihat pria itu masih terdiam tak bergeming walau semua jurus rayuan sudah Delia kerahkan.
" Jika kau ingin berpisah oke fine..tapi hanya untuk malam ini pergilah bersamaku " ucapan Delia sontak membuat Adrian menatap tajam padanya.
Dalam hati Adrian pun merasa aneh,kenapa dengan mudahnya Delia mengucap perpisahan,padahal sebelumnya perpisahan adalah kata haram yang tak akan didengar atau bahkan diucapkan oleh gadis itu.
" Kau tak percaya padaku..?? aku serius Adrian,,aku lelah dengan hubungan kita yang bukan hanya menyakitiku tapi pasti juga sangat membuatmu menderita bukan? " Adrian masih terdiam tak percaya dengan apa yang didengar telinganya.
" Mari kita akhiri semuanya..kita cari jalan cerita masing-masing " tak ada reaksi dari Adrian,tapi tiba-tiba pria itu menempelkan punggung tangannya di kening Delia.
" Apa kau terlalu mabuk semalam? " Delia hanya melotot kemudian menepis tangan Adrian.
" Aku sehat Adrian dan aku sangat sadar " sesaat Delia terdiam memberi jeda pada kalimat yang seakan sulit untuk diungkapkan.
" Aku tahu cintamu tak lagi sama dan aku tak mau terus menjadi beban pikiranmu,jadi kalau kau ingin kita berpisah aku bisa apa "
Adrian menghela nafasnya,entah kenapa ada perasaan aneh yang memenuhi dadanya. Antara rasa lega dan rasa bersalah yang saling menghimpit.
" Maafkan aku jika selama ini sikapku menyakitimu Delia " dengan lirih Adrian mengucapkan permohonan maafnya seraya menatap tulus kearah Delia.
" It's okay..tapi kau harus menebus salahmu "
" Menebus??maksudmu??"
" Temani aku ke pertunangan Vania..nanti malam "
Adrian kembali terdiam. Ia tak ingin pergi tapi ini adalah permintaan terakhir Delia untuk menebus salahnya selama ini.
" Sebelum kita benar-benar berpisah aku ingin teman-temanku mengenalmu sebagai kekasihku "
" Tapi Delia..."
" Please..aku tak ingin apapun darimu,hanya malam ini untukku dan aku akan menjauh darimu " Delia mengucapkannya dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya berharap Adrian menyetujui permintaannya.
" Baiklah...kita berangkat jam berapa?" akhirnya Adrian setuju setelah beberapa saat terdiam mempertimbangkan permintaan Delia.
" Kau benar-benar bersedia menemaniku "
" Maaf..maaf..aku hanya terlalu senang mendengarnya "
" Jadi jam berapa aku harus menjemputmu ?"
" Jam 9 aku pasti sudah siap...kau akan senang bertemu dengan Vania,Irina dan Elea.." Mata Delia berbinar penuh keceriaan,senyumnya mengembang sempurna menandakan hatinya yang tengah berbunga.
Sementara hati Adrian pun berdebar tak menentu mendengar nama terakhir yang disebutkan Delia. Nama Elea Maulana penulis idamannya,gadis manis yang mulai perhatiannya,mulai memasuki ruang terdalam hatinya. Walaupun jarang bertemu dengannya atau berbincang dengannya namun gadis itu telah menjatuhkan hati Adrian dari pertama mereka bertemu.
" Kau harus lebih tampan dari biasanya..aku tak mau sinarmu dikalahkan kekasih-kekasih temanku " ucapan Delia membuyarkan lamunan Adrian.
" Apakah mereka semua bersama kekasih mereka? " Adrian tak mampu membendung rasa penasarannya,karena mungkin saja Elea akan bersama Barra kekasihnya.
" Tentu saja..aku juga ingin tahu apakah Elea datang bersama Barra,karena saat aku di Galaxy Club aku melihat Barra bersama wanita lain " ucapan Delia membuat Adrian mengingat Mateo dan bosnya yang bernama Barra,membuat rasa penasarannya bertambah besar.
Tapi Adrian hanya diam memendam keingintahuannya. Walaupun ia ingin sekali mengetahui semua tentang Elea tapi sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat.
" Baiklah honey..aku harus ke spa,ke salon,ke butik agar penampilanmu lebih bersinar malam ini..jangan lupa menjemput aku jam 9 okeeyy?? " Adrian hanya mengangguk menyetujui dan Delia pun segera meninggalkan ruang kerja Adrian.
Sementara Adrian masih terdiam memikirkan pria bernama Barra yang ia temui bersama Mateo malam itu. Benarkan pria itu adalah Barra yang sama dengan kekasih Elea,tali kenapa gadis lembut seperti Elea bisa berakhir dengan pria seperti Barra?
Di otaknya tiba-tiba terlintas satu nama yang bisa menjawab rasa ingin tahunya.
" Mateo..bisakah kita bertemu?"
" Maaf Adrian..aku sedang sibuk akhir-akhir ini maaf sekali Adrian " suara Mateo terdengar menyesal menolak ajakan Adrian,dan Adrian pun maklum karena memang mereka bukanlah anak kuliahan lagi yang bisa bebas bertemu kapan saja.
" It's okey..maybe next time "
" Baiklah akan ku tutup teleponnya " panggilan mereka pun terputus.
Adrian hanya dapat menyerah dengan rasa penasarannya. Semua yang ingin ia tahu akan terjawab malam ini. Jika memang faktanya Elea mencintai seorang pria pemabuk maka dia hanya dapat menyimpan perasaannya sebagai cinta dalam diam.
Sementara ditempat yang berbeda Mateo yang baru saja menutup panggilan hanya dapat menghela nafasnya kasar. Pandangannya tertuju pada bosnya yang tengah meneguk bir ruang kerjanya.
Tidak pernah sebelumnya Barra minum-minum ditempat kerja,bahkan bossnya itu sudah melewatkan dua meeting penting.
Mateo memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa ngantuk dan pusing yang mulai menyerangnya.