
Melihat menantunya berpelukan dengan sang kakak membuat perhatian Nyonya Aida tersita,sembari beramah tamah pada beberapa tamu undangan kedua mata Nyonya besar itu sesekali mencuri pandang pada interaksi dua bersaudara itu. Sang kakak kini terlihat menyeka air mata menantunya dan dari tempat berbeda anak lelakinya tengah menatap dua bersaudara itu sama seperti dirinya. Sungguh pemandangan yang ironi. Di hari yang harusnya bahagia ini justru pemeran utamanya sedang menangis,dan Nyonya Aida tahu betul itu bukanlah air mata bahagia seperti mempelai pada umumnya.
Ia pun memutuskan meninggalkan tamunya dan berjalan mendekati Adrian. Ada sedikit rasa kesal saat melihat putranya itu malah diam mematung padahal istrinya sedang terisak dalam pelukan sang kakak.
" Apa kau menikmati sebuah pertunjukan? " tanya Nyonya Aida setelah berdiri di samping putranya. Adrian pun hanya diam bingung bagaimana harus menjawab ibunya.
" Bawa Elea naik ke dalam,aku akan mengurus kakaknya " tegas Nyonya Aida kemudian berjalan anggun mendekati Bian dan Elea,Adrian pun mengikuti langkah sang ibu.
" Sayang .. istirahatlah ke dalam kau sudah terlalu lama berdiri dan menemui tamu " ucap lembut Nyonya Aida kepada menantu barunya.
" Adrian bawa istrimu ke dalam " imbuhnya kemudian dengan sigap dan lembut Adrian menunduk mengusap pundak Elea untuk bangkit. Awalnya Elea ragu dan masih duduk di tempatnya,namun melihat sang kakak menganggukkan kepala ia pun setuju dan meraih uluran tangan suaminya.
Dengan perasaan yang bercampur aduk tak menentu Bian melihat punggung adiknya yang semakin menjauh,ada rasa tak tega dalam dirinya harus meninggalkan Elea kepada keluarga baru yang mungkin saja belum menerimanya sepenuhnya. Mengingat latar keluarga Adrian yang tergolong konglomerat dan latar belakang keluarganya yang hanya golongan orang biasa ada kemungkinan keluarga Adrian menerima Elea hanya karena adiknya itu kini sudah terlanjur hamil.
" Kau tidak perlu khawatir Tuan Bian,kami akan menjaga Elea seperti putri kami sendiri " ucap Nyonya Aida dan suaminya menyetujui dengan senyuman dan anggukan kepala. Sementara Bian memaksakan tersenyum menanggapi perkataan Nyonya Aida.
" Nikmatilah pestanya aku dan suamiku akan menemui beberapa tamu lain " Nyonya Aida menepuk pelan pundak Bian kemudian berlalu diikuti oleh suaminya.
" Kau sepertinya benar-benar menyukai menantu baru kita " ujar sang suami ketika mereka sudah agak menjauh dari Bian.
" Memangnya aku harus bagaimana,putraku yang bodoh sudah terlanjur membuatnya hamil,lagi pula secara tidak langsung menantu kitalah yang berhasil membawa putra kita kembali ke rumah " jawab Nyonya Aida panjang lebar tanpa menghentikan langkah anggunnya.
Tuan Haliandra pun tak terlalu ambil pusing dengan pilihan putranya untuk menikah,yang penting menantunya adalah gadis yang baik dan tidak memiliki latar belakang yang buruk. Pada saat Adrian bersama Delia pun Tuan Haliandra tidak terlalu ikut campur walaupun sebenarnya ia tidak terlalu setuju karena Delia adalah artis yang memiliki banyak scandal kala itu.
Sementara Elea kini sudah berada di dalam kamar Adrian.
" Istirahatlah,aku kan meminta pelayan untuk menemanimu " ucap Adrian pada Elea yang terlihat belum terbiasa dengan ruangan tersebut. Elea tak menjawab ia hanya diam mengamati kamar besar yang mungkin seukuran dengan apartemennya itu.
" Atau kau ingin akau memanggil Irina kemari? " pertanyaan itu sukses membuat tatapan Elea teralih pada kedua mata hazel milik Adrian. Ada ketulusan dalam sorot mata itu,senyuman pun tersungging lembut di bibirnya yang merah alami. Tapi bukan itu yang menjadi fokus Elea,tawaran Adrian yang memanggil Irina sepertinya cukup menyita perhatiannya,ia tidak ingin sendiri di dalam kamar besar nan sunyi itu. Tapi Elea merasa tidak enak ia takut Irina mungkin saja lelah karena ini sudah hampir malam dan beberapa tamu undangan pun tadi sudah ada beberapa yang pamit pulang.
" Kau yakin? " Elea hanya mengangguk.
" Baiklah,aku akan menemui Bian dan beberapa tamu lain,aku akan segera kembali " ucap Adrian mengelus lembut bahu Elea.
" Oh.. ya kalau kau membutuhkan apa-apa tekan saja tombol merah di atas tempat tidur,pelayan akan segera datang ke kamar " imbuh Adrian sebelum benar-benar keluar dari pintu,dan Elea sekali lagi hanya mengangguk untuk menjawab Adrian.
Sepeninggal suaminya Elea berjalan mendekat kearah jendela besar yang masih tertutup tirai itu,pemandang di luar sungguh indah saat ia membuka tutup tirainya. Pemandangan kelap kelip lampu kota dan beberapa gedung tinggi terlihat begitu menawan,apalagi langit sore yang mulai menggelap terlihat begitu cerah dan dihiasi beberapa bintang yang sinarnya masih sedikit redup.
Kemudian pandangannya teralih pada ruangan yang di dominasi warna coklat kayu dan cat warna cream itu. Terlihat begitu elegan dengan cahaya lampu temaram yang tidak menyilaukan. Kedua matanya tertuju pada ranjang putih dengan hiasan kelopak mawar merah di atasnya,terlihat indah dan romantis khas kamar pengantin di malam pertama.
Tapi mungkin malam pengantinnya tidak akan seromantis pasangan pengantin baru pada umumnya dan Elea sama sekali tak mengharapkan keromantisan itu. Dirinya masih merasa ini adalah mimpi dan ia ingin segera bangun kemudian menghapus semua ingatannya hari ini. Ingatan tentang ijab kabul yang diucapkan Adrian dengan begitu lancarnya,ingatan tentang tangisannya dalam pelukan Bian dan sekarang dirinya berada dalam kamar seorang pria yang pernah menjadi kekasih sahabatnya. Dan pria itu kini adalah suami sahnya ayah kandung dari calon anaknya.
" Maafkan aku Delia " gumam Elea yang merasa bersalah mulai menghantam dirinya,rasa bersalah karena seharusnya Delialah yang berada di kamar ini dan menikmati indah dan romantisnya kamar pengantin ini,Delia yang seharusnya menjadi menantu keluarga besar ini menjadi istri Adrian pria yang begitu dicintai Delia. Tak terasa mata Elea mulai panas dan buliran bening lolos menetes di pipinya.
Saat Elea berkutat dengan pikiran dan tangisnya terdengar pintu kamar diketuk dari luar. Elea tak menjawab karena ia pikir itu mungkin Irian yang diminta Adrian untuk menemaninya. Tapi dugaan Elea salah karena detik berikutnya dua orang pelayan masuk,seorang diantaranya membawa nampan besar yang penuh dengan makanan dan juga beberapa minuman.
" Permisi Nona,Tuan Adrian meminta kami membawakan makanan untuk anda " ucap seorang pelayan tanpa berani menatap kerah mata Elea.
" Terima kasih kau bisa meletakkannya di sana " jawab Elea dengan pandangan matanya yang tertuju pada meja kaca di tengah sofa yang tak jauh dari jendela kamar. Pelayan itupun meletakan nampannya disana.
" Tuan Adrian juga berpesan agar anda segera meminum vitamin Nona,kami sudah menyiapkannya beserta susu khusus untuk anda " imbuh pelayan muda itu,dengan intonasi dan suara yang begitu lembut dan sopan.
" Baiklah aku akan segera meminumnya "
" Anda bisa memanggil kami jika membutuhkan sesuatu Nona " ucap pelayan itu kemudian menunduk hormat dan meninggalkan kamar Adrian setelah melihat anggukan kepala Elea.