
Entah sudah berapa botol bir yang masuk ke kerongkongan Delia,hingga kepalanya sudah terasa berat dan tak mampu lagi ia topang. Pandangannya sudah entah kemana karena dirinya sudah tak mampu lagi membedakan mana khayalan dan yang mana kenyataan. Disampingnya Rio masih duduk tenang dalam keadaan sadar sepenuhnya,ia hanya dapat menunggu dan memandangi Delia yang hancur luar dalam. Ingin rasanya ia menemui Adrian dan melampiaskan kemarahan Delia padanya namun ia tahu semua bukan salah Adrian namun salah Delia sendiri. Sebelum benar-benar teler Delia sempat meracau ditengah keadaan mabuknya,dia bilang semua rencananya gagal,bahkan rencana kotor tentang obat perangsang itupun turut dijabarkan Delia maka dari itu Rio tahu bahwa Delia lah yang salah atas kehancurannya kali ini. Sesekali Rio membelai lembut kepala Delia merasa iba dengan keadaan artisnya itu. Adrian adalah dunianya dan sekarang Adrian pergi maka hancurlah sudah dunia Delia,entah bagaimana dirinya bisa membantu Delia pulih dari keterpurukan ini namun ia berjanji tak akan meninggalkan Delia. Meski sekarang banyak kontrak kerja yang dibatalkan karena ketidak profesionalan Delia namun Rio tetap sabar dan setia disisi Delia.
Sementara dengan Irina kini tengah menatap ruangan VVIP khusus yang disediakan untuknya,begitu mewah bahkan terasa tinggal di hotel bintang lima dengan fasilitas terbaik. Ruang perawatan yang dipakai Elea saja sudah sangat nyaman untuk penunggu pasien apalagi ditambah dengan yang satu ini,mungkin dia tidak akan merasa tengah menunggu pasien tapi lebih merasa liburan privat dengan fasilitas terbaik. Ya,,Irina memang diizinkan menempati salah satu ruang VVIP khusus dilantai paling atas,tentu saja itu karena perintah dari Adrian. Tak lupa Adrian juga menugaskan seorang supir untuk mengantar Irina bila mungkin perempuan itu ingin sesekali pulang ke apartemennya.
" Bagaimana nona Irina apakah tempat ini kurang nyaman untuk anda? " tanya dokter Liam yang khusus ditugaskan Adrian untuk menemani Irina menuju ruang VVIP khusus tersebut.
" Lumayan,,lagi pula aku tidak akan lama berada disini bukan,aku yakin Elea akan segera sembuh " jawab Irina masih dengan tatapannya yang mengedar mengelilingi ruang mewah itu.
Liam manggut-manggut menyetujui ucapan Irina bahwa mungkin saja Elea akan cepat sembuh.
" Ruang perawatan nona Elea berada satu lantai dibawah raungan ini,kau bisa menggunakan lift khusus untuk menuju kesana " dokter Liam kembali menjelaskan pada Irina saat perempuan itu hanya diam.
" Panggil saja aku Irina dokter Liam,kau tidak perlu bersikap formal padaku " ucap Irina yang kini menatap pada dokter Liam,memberikan senyum ramahnya.
" Baiklah...Irina..apa ada sesuatu yang kau butuhkan karena aku harus kembali ke ruang nona Elea "
" Tidak perlu..kau bisa meninggalkanku dokter Liam " Liam pun segera meninggalkan ruangan itu.
Sesuai dengan perintah Adrian Liam harus segera kembali dan menunggu di depan ruang perawatan Elea untuk berjaga apabila nanti Elea kembali histeris. Dan sekembalinya dokter Liam disana Adrian terlihat termenung dikursi tunggu diluar ruang perawatan Elea.
' Kenapa lagi dia? ' batin dokter Liam seraya mendekati Adrian dan duduk disebelahnya.
" Apakah terjadi sesuatu?nona Elea tidak akan menuntutmu bukan? " tanya dokter Liam dengan mengamati ekspresi Adrian yang tampak kacau. Adrian hanya terdiam tak menjawab dokter Liam,ia mengusap kasar wajahnya seolah tengah memikirkan sesuatu yang berat.
" Hey..." dokter Liam menyenggol pundak Adrian mencoba mendapat respon dari sahabatnya itu.
" Dia ingin aku melupakannya,melupakan kejadian malam itu " jawab Adrian kemudian dengan suara serak seolah dipaksakan keluar dari kerongkongannya.
" Whatt??kenapa nasibmu mujur sekali,setelah mendapatkan yang enak lalu diminta melupakan begitu saja " protes dokter Liam yang langsung mendapat tatapan tajam dari Adrian.
" Mujur kau bilang?! "
" Apa kau gila??repot-repot kau bilang?! " Adrian mulai tersulut emosi,dengan keadaan moodnya yang amburadul wajar bila candaan dokter Liam dianggap serius olehnya.
" Hey..tenang man aku hanya bercanda " tanpa merasa bersalah dokter Liam malah terkekeh melihat respon emosi Adrian.
" Baiklah..baiklah...duduk dulu,bukankah sudah ku bilang bicarakan apapun dengan baik tanpa emosi " imbuh dokter Liam masih dengan seringaian yang tampak menyebalkan bagi Adrian.
" Masuklah..periksalah Elea apakah dia baik-baik saja,dia mungkin masih menangis sekarang " pinta Adrian setelah terdiam beberapa saat dan tanpa mengucap apapun dokter Liam segera memasuki ruang perawatan Elea.
" Selamat malam nona Elea.." sapa dokter Liam saat melihat pasiennya itu masih terjaga.
" Aku akan memeriksa mu terlebih dahulu " imbuhnya kemudian melakukan pemeriksaan ringan guna memastikan kondisi Elea baik-baik saja.
" Kapan aku boleh pulang dokter? " tanya Elea saat dokter Liam menyelesaikan pemeriksaannya.
" Yah..kondisimu memang tidak terlalu serius saat datang kemari dan sekarang sudah lumayan membaik tapi mungkin masih perlu satu atau dua hari lagi untuk memastikan kau benar-benar pulih nona Elea " jawab dokter Liam seraya melipat stetoskopnya.
" Apa kau tidak nyaman disini nona Elea?apa karena dokter Adrian? " Elea terdiam tak menjawab,ia yakin dokter yang menanganinya ini pasti tahu kejadian dirinya dan Adrian tapi dia tidak mau terlalu terbuka dengan pria yang mungkin sahabat Adrian ini.
" Baiklah aku tidak berhak tahu lebih lanjut tapi kau memang harus menjalani pemulihan terlebih dahulu nona Elea " dokter Liam terdiam memberi jeda pada kalimatnya.
" Aku berbicara sebagai doktermu nona Elea,bukan sebagai sahabat Adrian " imbuhnya lagi.
" Terimakasih dokter " jawab Elea dengan senyum tipis yang dipaksakan. Dokter Liam pun segera keluar agar pasiennya itu bisa beristirahat karena memang sudah hampir tengah malam.
Setelah lama terdiam dan menunggu didepan ruang perawatan Elea akhirnya Adrian memberanikan diri memasuki ruangan. Dengan pelan ia langkahkan kakinya mendekati bed pasien. Terlihat nafas Elea turun naik secara teratur pertanda wanita itu sudah lelap dalam tidurnya. Lama ia menatap wajah cantik walau tampa riasan itu,rasa bersalah masih melingkupinya jika melihat wajah manis itu,apalagi melihat tanda kemerahan disisi leher Elea membuat Adrian kembali teringat betapa dirinya sangat menggebu melampiaskan hasrat dan gairahnya pada tubuh Elea,memang terasa begitu nikmat untuknya namun pasti tidak bagi Elea,ia yakin malam itu adalah malam terberat untuk Elea hingga wanitanya itu sangat ingin melupakannya.
Dengan langkah sepelan mungkin Adrian berjalan menuju sofa besar yang tak jauh dari bed Elea. Dia memutuskan untuk istirahat sejenak disana sambil mengawasi Elea. Lama dirinya termenung menatap Ela yang terbaring disana sampai akhirnya ia juga ikut terlelap masuk kedalam alam bawah sadarnya.