
" Terimakasih Bian akhirnya kau mengizinkan- " Adrian sudah berbinar penuh semangat namun Bian segera memotong ucapannya dengan nada dingin.
" Jangan senang dulu,aku mengizinkanmu menikahi adikku bukan berarti aku mengikhlaskan adikku kepadamu " kini Adrian menatap calon kakak iparnya itu dengan penuh tanda tanya.
" Apa maksudmu? " tanyanya kemudian.
" Aku mengizinkanmu menikah hanya karena tidak tega melihat Elea menanggung semua ini sendirian,dan aku juga tidak sampai hati membiarkan keponakanku lahir tanpa ayah,walaupun Elea bersikeras untuk menolak pertanggung jawaban darimu " hening. Bian terdiam dan Adrian belum bereaksi ia masih berusaha mencerna maksud dari perkataan panjang Bian.
" Jadi kalian hanya akan menikah sampai Elea melahirkan anak kalian,setelah itu berpisahlah " ujar Bian dengan tegas kemudian hendak berlalu tanpa menunggu reaksi Adrian.
" Maaf aku tidak bisa " balas Adrian yang seketika menghentikan langkah Bian.
" Apa?! apa maksudmu tidak bisa?! "
" Aku tidak bisa mempermainkan pernikahan,untuk apa menikah jika akhirnya akan bercerai? "
" Kau tidak sedang dalam posisi untuk bisa menentangku Adrian,terima keputusanku atau lupakan tentang anakmu " ucap Bian dengan enteng tanpa memikirkan pikiran Adrian yang tengah berkecamuk.
" Bagaimana dengan anak kami jika akhirnya kami bercerai?! kau tentu tahu bukan keluargaku tidak akan melepaskan jika akhirnya Elea akan membawanya,keluargaku akan melakukan segala cara untuk menahan keturunannya agar tetap bersama kami " Adrian terpaksa menggunakan keluarganya untuk mempengaruhi pikiran Bian. Adrian yakin Bian tahu tentang nama besar keluarganya dan apa yang bisa dilakukan keluarganya jika itu menyangkut ahli waris mereka.
Kini Bian terdiam,dia tidak memikirkan ini sebelumnya. Yang ia tahu anak berusia dibawah lima tahun hak asuhnya akan otomatis jatuh pada sang ibu bila kedua orang tuanya bercerai. Ia tidak berfikir bagaimana dengan keluarga Adrian yang mungkin saja akan melakukan segala cara untuk mempertahankan ahli warisnya.
" Anak dibawah lima tahun hak asuhnya sudah pasti jatuh kepada ibunya,dan itu sudah jelas dimata hukum "
" Oke .. tapi kau tahu bukan di negri ini hukum bisa di beli,dan keluargaku bisa membeli berapapun agar bisa merebut ahli waris mereks,aku hanya tidak ingin memisahkan anakku dari ibunya " lagi-lagi Adrian menggunakan keluarganya sebagai senjata karena hanya itulah yang mungkin bisa merubah keputusan Bian.
" Dan apa kau lupa aku juga seorang pengacara hebat,aku juga bisa melakukan segala cara untuk membela adikku " Bian mulai geram dan menyesali keputusannya untuk menerima pertanggung jawaban Adrian. Adrian sendiri paham dia tidak akan menang saat berdebat dengan seorang pengacara. Akhirnya ia memilih mengalah dan mencoba membuat kesepakatan dengan Bian.
" Baiklah aku akan menceraikan Elea setelah anak kami lahir,tapi bagaimana kalau Elea yang tidak mau bercerai? " Adrian berusaha memancing Bian dan sepertinya itu berhasil.
" Tentu saja dia bersedia bercerai,sekarang saja dia pasti menolak menikahimu " emosi Bian mulai terpancing oleh perkataan Adrian yang menurutnya konyol.
" Masih ada waktu kurang lebih sembilan bulan di masa pernikahan kami,kau tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi kedepannya,mungkin saja Elea akan berbalik jatuh cinta dan mulai nyaman bersamaku " Adrian tersenyum penuh keyakinan,berbeda dengan Bian yang terlihat bersungut-sungut.
" Ya .. aku memang lelaki yang tak pantas mendapatkan cinta Elea,tapi bila itu terjadi apa kau mau merelakan adikmu padaku dan tidak ikut campur lagi dengan pernikahan kami? "
" Kau pikir aku akan jatuh ke perangkapmu dan menyetujui kesepakatan bodoh denganmu " Adrian mendengus kesal mendengar ucapan Bian,dalam hati ia merutuki kenapa Elea harus memiliki kakak keras kepala seperti Bian. Merekapun berdebat beberapa lama sampai akhirnya Adrian mau tidak mau menyetujui keputusan Bian untuk menikah sempai Elea melahirkan. Ia terpaksa mengalah dari pada memancing kemarahan Bian dan membuat pria itu membatalkan izinnya untuk menikahi Elea. Namun dalam hati ia tetap tidak akan menceraikan Elea setelah kelahiran buah hati mereka,ia tidak mau kehilangan Elea ataupun buah hati mereka. Adrian akan berusaha untuk merebut hati Elea dan menahan wanita itu untuk tetap bersamanya.
💙
" Aku tidak mau kak " tolak Elea saat Bian mengatakan keputusannya untuk menikahkan Elea dan Adrian.
" Kakak tidak menerima penolakan Ele " dalam hati Bian sebenarnya tidak tega memaksa adiknya menikah apalagi dengan pria yang telah memperkosanya,tapi semua demi kebaikan Elea. Bian tidak tega jika adiknya harus menjalani kehamilan dan melahirkan tanpa seorang suami. Ia pun tidak sampai hati melihat keponakan pertamanya lahir tanpa seorang ayah.
Walaupun tidak yakin namun Bian bisa melihat ketulusan dalam diri Adrian,selama beberapa hari ini dia selalu datang dua kali sehari meski mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari dirinya dan Elea.
" Bukankah kakak membenci dokter Adrian?kenapa sekarang ingin aku menikahinya? " tanya Elea khawatir mungkin saja ada seseorang dari pihak Adrian yang melakukan sesuatu hingga mau tidak mau kakaknya setuju dan menerima Adrian.
" Karena sekarang kau sedang hamil,dan bayi itu adalah milik Adrian " jawab Bian jelas. Elea mulai menangis karena kesal. Memang benar bayi yang ia kandung adalah darah daging Adrian,tapi bagaimana mungkin dirinya bisa menikah dengan kekasih sahabatnya sendiri,walaupun mungkin sekarang Delia sudah tidak menganggapnya sahabat lagi.
" Maafkan kakak Elea,tapi ini yang terbaik untukmu dan calon anakmu " hati Bian melunak melihat Elea menangis perlahan ia mendekati sang dan duduk berjongkok dihadapannya.
" Apa kau tega melihat anakmu lahir dan tumbuh besar tanpa ayahnya?dia akan dicap sebagai anak haram yang lahir diluar nikah Elea,aku tahu berat untukmu tapi jika kau jika ingin mempertahankannya maka pikirkan juga dirinya " Bian menyentuh dan mengusap lembut perut Elea yang masih datar. Elea sendiri tak bereaksi,ia tahu apa yang diucapkan kakaknya ada benarnya. Walaupun hubungannya dengan Adrian begitu rumit namun anaknya tetap butuh seorang ayah.
" Belajarlah menerima Adrian,aku yang akan bicara pada Delia " seketika pandangan Elea langsung tertuju pada kedua mata bening sang kakak.
" Apa maksudmu kak? "
" Aku tahu selain karena tidak mencintai Adrian kau merasa berat menikah dengannya karena ada Delia diantara kalian bukan " Bian seolah bisa membaca pikiran adiknya yang selalu menolak Adrian.
Elea terdiam,sekali lagi apa yang dikatakan kakaknya memang benar adanya. Ia menolak Adrian karena tidak adanya cinta diantara keduanya dan Elea tidak mungkin membangun rumah tangganya diatas kehancuran yang Delia rasakan sekarang.
" Istirahatlah,aku dan Adrian akan mengatur semuanya " ucap Bian berdiri sembari mengelus lembut pucuk kepala Elea.