
" Maaf tuan kami tidak menemukan tanda-tanda keberadaan nona Elea,apartemennya pun kosong dan mobilnya masih diarea restoran tadi " laporan seorang anak buah Barra kepada Mateo. Barra sendiri kini sudah dalam keadaan mabuk berat di bar kecil di mansionnya.
" Kerahkan lebih banyak anak buahmu untuk melakukan pencarian " titah Mateo dan pria tinggi besar itu undur diri setelah menunduk hormat pada Mateo.
" Tunggu dulu..." tiba-tiba saja Mateo mengingat sesuatu.
" Periksa data penumpang yang melakukan penerbangan ke Bali untuk malam ini sampai besuk,dan segera laporkan padaku" sambung Mateo,ia ingat Elea memiliki seorang kakak yang tinggal Bali,bukan tidak mungkin Elea akan pergi ke Bali untuk menghindari Barra.
" Baik tuan " jawab lelaki itu kemudian undur diri meninggalkan Mateo. Mateo adalah kepala sekertaris dan orang kepercayaan Barra,jadi dengan posisinya sekarang semua anak buah Barra menghormati dan patuh padanya layaknya menghormati dan patuh pada Barra.
Apa yang ditakutkan Mateo akhirnya terjadi,dimana Barra akan menyesal sudah mengkhianati Elea dan malam ini Mateo melihat sendiri bagaimana hancurnya Barra. Tuannya itu memang sering mabuk untuk melampiaskan amarah atau rasa kesalnya namun malam ini berbeda,Barra begitu mabuk hingga seperti itu.
Mateo tahu betapa Barra mencintai Elea tapi entah mengapa tuannya itu dengan mudah bergonta-ganti wanita hanya untuk memuaskan kebutuhan biologisnya. dan sekarang semuanya sudah terjadi akhirnya Elea mengetahui semuanya,dan penyesalan Barra tidak akan mengubah apapun.
Dan Mateo pun tidak bisa berbuat apa-apa,ia hanya dapat menunggui tuannya yang sedang mabuk luar biasa,beberapa kali ia menggumamkan nama Elea dan kata-kata maaf yang tidak terlalu jelas.
...----------------...
Sementara dirumah sakit sekarang Adrian langsung menyerbu mendekati Liam yang baru saja keluar dari emergency room.
" Bagaiman Liam,dia baik-baik saja bukan? "
" Bukankah sudah aku bilang dia akan baik-baik,and she's okay now " Adrian memejamkan matanya,kelegaan luar biasa mulai membanjiri hatinya.
" Aku memberikan obat penenang untuknya,jadi biarkan dia istirahat " pandangan Liam mulai menelisik ekspresi Adrian,sahabat baiknya ini tampak sangat lega mendengar wanita itu baik-baik saja,jadi apa hubungan keduanya.
" Tapi ada hal serius yang harus kau tahu " raut wajah Liam tampak serius,dan Adrian yang semula reda kembali dilanda kecemasan lagi.
" Ikutlah keruangan ku Adrian " pinta Liam dan merekapun menuju ruang kerja Liam yang letaknya tidak begitu jauh dari emergency room.
" Ada apa Liam,apakah ini berhubungan dengan kesehatannya?apakah ada banyak air yang masuk ke paru-parunya? " Adrian mulai memberondong pertanyaan pada Liam,tapi dokter yang setahun lebih tua darinya itu tampak santai duduk di kursi kerjanya.
" Who is she?your girl friend?how about Delia?" Melihat banyaknya kissmark disepanjang leher wanita itu Liam curiga itu adalah perbuatan Adrian,dan satu lagi walaupun bukan Liam yang mengganti pakaiannya tapi Liam tentu ingat wanita itu hanya memakai handuk kimono saat sampai disini,tentu saja Liam sangat curiga dengan apa yang terjadi sebelum sebelum Adrian membawanya kemari.
" Kau memintaku ke ruang kerjamu hanya untuk menanyakan itu?? jadi tidak ada sesuatu yang serius??" Adrian ikut duduk di sofa besar di tengah ruang kerja Liam. Adrian menatap heran pada sahabatnya yang tadinya tampak tegang dan serius kini berubah menjadi raut wajah tengil yang menjengkelkan.
" Tentu saja serius Adrian,pasienku datang dengan nafas yang hampir hilang,denyut nadinya sangat lemah and soo... many hickey in her neck,kau kah pelakunya??" senyum smirk terlihat di wajah Liam yang sepertinya menikmati ekspresi Adrian yang salah tingkah.
" it's not your business " Adrian hendak berdiri meninggalkan ruang kerja Liam namun terhenti saat Liam menyuarakan kembali kalimatnya.
" Ingat Adrian wanita itu pasienku sekarang,jadi sudah pasti aku harus mengetahui tentangnya dan apa hubunganmu dengannya bukan,karena sepertinya kau bukanlah keluarganya " Liam terkekeh ringan. Adrian lebih memilih keluar dan tidak peduli dengan kekehan panjang dari sahabatnya itu.
" Heyy...kekasih barumu dirawat di VVIP 02 " teriak Liam yang masih terdengar jelas oleh Adrian.
Adrian berjalan cepat menuju ruang perawatan VVIP no. 2,ia ingin cepat-cepat mengetahui kondisi Elea sekarang. Namun setelah sampai didepan pintu ruangan yang dimaksud Adrian terdiam dan ragu. Entah apa yang akan dilakukannya setelah masuk nanti,sudah pasti ia tidak akan sanggup menatap mata Elea. Apa yang sudah ia lakukan benar-benar tak termaafkan bahkan mereka tidak terlalu dekat bagaimana Adrian bisa setega itu pada Elea.
Dengan langkah pelan Adrian memaksakan kakinya memasuki ruang perawatan Elea yang tampak sunyi. Diatas brankar yang lebih lebar dari biasanya itu terlihat Elea terbaring lemah dengan selang infus dan selang oksigen. Matanya tertutup rapat begitu damai,walaupun bibirnya sudah tidak terlihat membiru namun wajahnya masih terlihat pucat.
Adrian tak berani melangkah lebih dekat,ia khawatir akan membangunkan Elea. Rasanya sudah cukup melihat Elea yang sekarang sudah mendapat penanganan dan bukankah Liam bilang wanitanya itu sudah baik-baik saja. Jadi tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.
Dengan perasaan lega Adrian menjatuhkan tubuhnya di sofa besar yang tersedia disana,rasa lelah mulai melingkupinya. Ia memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa pining di kepalanya. Semakin lama rasa kantuk semakin menjatuhkannya ke alam bawah sadar.