
Hari ini adalah hari besar bagi Adrian,dirinya akan mengucapkan janji suci pernikahan beberapa saat lagi. Pernikahannya akan dilaksanakan di kediaman Haliandra,karena itu adalah permintaan ibundanya. Walaupun pernikahannya di laksanakan di mansion orang tuanya,namun dekorasinya tidaklah sesederhana acaranya. Taman belakang mansion Haliandra yang sangat luas dihias sedemikian rupa layaknya di negri dongeng yang dipenuhi banyak bunga.
Kini tubuh atletis Adrian pun sudah terbalut tuxedo berwarna putih tulang yang membuat penampilannya semakin gagah nan menawan. Jika bertanya apakah Adrian gugup,tentu saja ia sangat gugup walaupun tak banyak tamu undangan yang hadir tetap saja ini adalah kali pertama dan terakhir dirinya meminang seorang wanita.
Adrian sekarang sudah duduk di depan penghulu disebuah meja khusus untuk mengucapkan ijab kabul,beberapa tamu undangan pun sudah duduk manis di kursi yang sudah disediakan,Adrian dapat melihat Liam yang tengah menatapnya dengan seringaian lebar yang terlihat menyebalkan.
" Calm down ini hanya pernikahan,bukan peperangan " Adrian masih mengingat gurauan Liam beberapa saat yang lalu,saat menggoda dirinya yang sedang nervous berat.
Beberapa kali Adrian menarik nafas dan menghembuskan nafasnya untuk mengurangi rasa gugup.
❤️
Sementara Elea yang berada di ruangan yang tak jauh dari tempat Adrian mengucapkan ijab kabul memejamkan matanya,seiring jatuhnya buliran bening dari kedua matanya. Sah .. kini dirinya sah menjadi istri Adrian,istri dari kekasih sahabatnya. Melihat itu Irina yang sedari tadi menemani Elea mendekat dan mengusap lembut bahu Elea. Ia berusaha menguatkan sahabatnya itu. Miris memang,dihari pernikahannya Elea malah tak terlihat bahagia sama sekali. Bagaimana ia bisa bahagia saat pernikahannya menyakiti Delia sahabatnya. Vania bahkan kini juga tidak hadir karena merasa simpati pada Delia. Yah .. sejak adanya masalah ini hubungan Elea dan Vania terasa merenggang. Sahabatnya yang satu itu merasa Delia lah korbannya,walau ia juga setuju bukanlah Elea penyebab semua kerumitan ini.
" Sabarlah Ele .. ini semua demi kebaikanmu dan calon bayimu " ucap Irina memeluk Elea. Sahabatnya itu bukannya diam malah semakin terisak dalam pelukannya.
" Hapuslah air matamu,kita harus segera keluar " imbuh Irina mengurai pelukannya. Dengan lembut ia menghapus air mata Elea karena sudah saatnya dirinya keluar membawa mempelai wanita yang sudah sah sebagai Nyonya Muda Haliandra.
Dengan langkah perlahan Irina merangkul lengan Elea berjalan mendekati altar pernikahan dimana Adrian sudah berdiri menunggu disana. Sepanjang jalannya menuju altar Elea hanya menunduk tak ingin memandang siapapun yang ada disana termasuk Adrian suami sahnya. Sementara Adrian terlihat berkaca-kaca melihat istrinya berjalan dan semakin mendekat. Elea begitu mempesona dimatanya,gaun pengantin putih yang ia kenakan begitu pas ditubuhnya. Kehamilannya yang baru tujuh minggu belum terlihat sama sekali di perutnya yang masih datar. Make up tipis-tipis dan tatanan rambut yang simple malah membuat aura kecantikan Elea terpancar secara alami. Adrian begitu bersyukur akhirnya bisa memiliki wanita pujaannya dan dengan bangga menyebutnya istriku.
Sekarang wanita cantik itu sudah berada dihadapannya. Walau masih menunduk dan tak mau melihatnya namun itu bukanlah sesuatu yang mengganggu Adrian,ia tahu Elea belum sepenuhnya menerima pernikahan ini,jadi ia tak mengharapakan adanya senyuman dan pancaran kebahagiaan di wajah istri barunya itu. Namun dalam hati Adrian berjanji untuk membuat Elea menjadi wanita paling bahagia setelah menjadi istrinya. Dalam hati Adrian berjanji akan menjadi suami terbaik bagi Elea,ia akan memberikan dunia baru yang membuat Elea melupakan luka yang pernah ia torehkan di masa lalu.