One Night With You

One Night With You
PART 69



Barra kini mencengkeram kaos Adrian dan siap menghantamkan pukulannya namun dengan sigap Adrian berhasil menangkisnya. Dan kejadian selanjutnya sudah pasti terjadilah baku hantam antar keduanya. Elea yang mendengar suara ribut-ribut pun terganggu dan menajamkan telinganya. Sekilas ia mendengar suara Barra yang sepertinya mengumpat dan mengerang begitupun dengan suara Adrian.


" Barra? " gumam Elea segera melompat dari ranjangnya. Sesampainya di ruang depan ia melihat Adrian dan Barra tengah adu pukul dengan posisi Adrian dibawah kungkungan Barra. Bukannya kalah menghadapi Barra yang bertubi-tubu memukulnya namun Adrian pasrah karena memang ia yang bersalah,kata-kata 'merusak Elea' dari Barra benar-benar berhasil membuatnya merasa sebagai tersangka dan patut untuk di adili. Dari lubuk hatinya ia juga merasa bersalah pada Barra karena telah menghamili kekasihnya.


" Ya tuhan .. Barra lepaskan..!! " Elea berusaha menarik mantan kekasihnya itu untuk menjauh dari Adrian,dengan usaha sekuat tenaga dan susah payah akhirnya Elea berhasil membuat Barra berdiri dan melepaskan Adrian dari kungkungannya.


" Kau membelanya?! membela lelaki b*ngsat ini?! " nafas Barra naik turun karena luapan emosi. Elea sampai tersentak mendengar ucapan Barra yang memekakkan telinganya. Adrian yang tak terima wanitanya dibentak dengan kasar langsung menarik lengan Elea kemudian menyembunyikannya dibelakang tubuhnya.


" Berani-beraninya kau menyentuhnya lagi!! " untuk kesekian kalinya Barra hampir memukul Adrian namun kali ini Adrian menangkisnya.


" Aku terima jika kau membentakku,mencela atau memukulku sekalipun,tapi aku tidak akan diam saja jika kau berani membentaknya "


" Ck .. sok pahlawan sekali kau,tidak sadarkah kau sudah melecehkannya,sudah merusak hidupnya?! " suara Barra masih lantang dengan penuh emosi.


" Hentikan Barra " ucap Elea lirih namun masih terdengar oleh dua pria itu. Entah sejak kapan ia menangis tapi air matanya kini sudah membasahi pipi.


" Elea .. sadarlah .. si brengs*k ini sudah- "


" Cukup!! " sentakan suara berat Bian yang kini sudah berada dibelakang mereka. Ia memandang adiknya yang beruraian air mata dibelakang Adrian. Dilihatnya wajah Adrian yang lebam membiru dengan rembesan darah disudut bibirnya,Adrian mengalihkan pandangannya menghindari kontak mata dengan Bian,ia merasa tidak becus menjaga Elea,sebelumnya ia berjanji untuk menjaganya saat Bian pergi,namun ketika calon kakak iparnya itu kembali malah kejadian tak menyenangkan ini yang dilihatnya. Tatapan Bian kini beralih pada Barra dengan nafasnya yang naik turun penuh emosi. Entah siapa yang memulai namun Bian merasa sangat marah pada dua pria yang sama-sama mengejar adiknya itu,bisa-bisanya mereka membuat keributan di situasi seperti ini.


" Ayo Ele " Bian perlahan merengkuh adiknya dari Adrian dan membawanya masuk.


" Kalian semua masuklah,ada sesuatu yang harus diperjelas disini "Ucap Bian sejenak berhenti dan kembali melangkah masuk tanpa menunggu reaksi kedua pria itu.


Adrian dan Barra masih mematung saling pandang kemudian mengikuti Elea dan Bian menuju ruang tengah.


Beberapa lama mereka saling terdiam dalam pikiran masing-masing. Suasana hening tanpa suara dari keempat orang disana. Satu persatu Bian menatap adik dan dua orang pria yang saling pandang penuh kilatan emosi.


" Barra .. " suara berat ya memecahkan keheningan. Dan si empunya nama seketika menatapnya.


" Elea sekarang sedang mengandung,mengandung darah daging Adrian jadi kau tak mungkin tetap mengejarnya bukan "


" Aku tak perduli,aku mencintai Elea dan semua yang ada dalam dirinya,jadi tidak masalah siapa ayah biologis bayi itu,aku akan tetap menerima Elea dan calon anaknya " dengan tegas Barra menyanggupi untuk menerima apapun keadaan Elea,ucapan Barra tentu saja mendapat reaksi kaget dari Elea dan juga Adrian. Dan tentu saja ucapan Barra berhasil mematik emosi di hati Barra,membuat rahang tegasnya langsung mengeras merasa menahan gejolak emosi. Sementara Bian hanya tersenyum ironi.


" Apa kau gila?! akulah ayah dari anak itu dan aku yang akan bertanggung jawab " Adrian merasa tak terima jika harus melepas Elea dan calon anaknya.


" Tapi Elea mencintaiku,kau tahu bukan kita berdua sudah hampir menikah tapi kau menghancurkannya "


" Cukup!! terimakasih jika kau masih mau menerima adikku Barra,tapi adikku hanya akan menikah dengan Adrian,dengan ayah biologis dari bayi yang ia kandung " walau tersenyum penuh kepuasan dan kemenangan namun dalam hati Adrian merasa tak percaya akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Bian. Entah apa yang sudah terjadi pada pria itu yang jelas sekarang ia sudah mendapat lampu hijau untyk menikahi Elea.


" Tapi kak- " Elea mengelak,namun Barra sudah lebih dulu menggeleng tak ingin keputusannya mendapat sanggahan.


" Masuklah ke kamarmu Ele " pinta Bian dan dengan terpaksa Elea menuruti untuk meninggalkan ketiga pria itu.


" Kau lihat kak Bian,Elea bahkan menolaknya,dia tidak ingin menikahi pria brengs*k itu " protes Barra tetap tak terima dengan keputusan Bian.


" Yah .. dia memang brengsek akupun sangat membencinya,tapi apa boleh buat semua sudah terjadi bukan,dan pria brengsek ini harus bertanggung jawab " walaupun ucapan Bian terdengar mencelanya terang-terangan namun Adrian tidak tersinggung sama sekali,ia malah tersenyum puas merasa menang dari Barra.


" Aku bersedia bertanggung jawab kak Bian,aku akan menerima Elea dan anaknya,aku akan menganggap anaknya seperti anakku sendiri " Barra tetap kekeh memperjuangkan wanita yang pernah menjadi kekasihnya.


Bian tak menjawab malah mengeluarkan ponselnya,menunjukkan sebuah foto yang membuat mata Barra melotot hampir keluar. Foto itu adalah gambar dirinya dengan seorang wanita,pose yang begitu intim dan seronok membuatnya seolah kehilangan nyali dan kepercayaan diri yang sebelumnya diujung puncak,bahkan ia tak berani lagi menatap Bian. Adrian sendiri melongok mengintip ponsel Bian yang langsung membuat nyali Barra mengkerut.


" Kau lihat tanggalnya? foto ini diambil saat Elea tengah jatuh dan hancur sehancur-hancurnya,dan kau yang katanya sebagai kekasih malah menghianatinya?! bagaimana mungkin kau bisa menerimanya dan menganggap anaknya sebagai anakmu sendiri?? " dengan panjang lebar Bian mengucapkan kalimatnya. Barra pun siap memberikan sanggahan namun dengan cepat Bian kembali berucap.


" Apa bukti ini kurang jelas untukmu?kau mau aku memutar videonya juga? " Barra terdiam,semua kata yang siap ia lontarkan seakan tercekat dalam tenggorokannya,seingatnya ia tak pernah mengambil video apapun saat bersama wanita lain selain Elea,namun ucapan Bian yang tegas dan lantang sudah jelas bahwa pria itu benar-benar memiliki video tentang dirinya.


" Sekarang silahkan pergi dari sini dan jangan berusaha menemui Elea lagi " Bian secara halus mengusir Barra,dengan terpaksa Barra pun berdiri dan melangkah meninggalkan apartemen Elea,walau dalam hati ia tidak akan menyerah dan masih menyimpan dendam pada Adrian.