One Night With You

One Night With You
Menebus Kesalahan



" Maafkan aku Bian .. aku sangat menyesal " dengan tulus Adrian memohon pengampunan dari seorang kakak yang adiknya telah ia nodai,namun pria itu hanya diam,jarinya memijit pangkal hidung dan tangan yang lain berkacak pinggang.


" Apa memaafkan mu dapat mengubah keadaan?apa penyesalanmu bisa mengembalikan Ele yang dulu?! " sentak Bian dengan nafas naik turun karena emosi dan juga kelelahan setelah memukuli Adrian dengan brutal. Adrian terdiam mendengar pertanyaan Bian yang sudah sangat jelas jawabannya.


" Aku .. aku akan bertanggung jawab" Bian tersenyum ironi mendengar ucapan Adrian.Dengan mudahnya dia mengucapkan kata maaf,penyesalan dan tanggung jawab seolah yang ia lakukan hanyalah membuat Elea menangis dan akan dengan mudah mendiamkan tangisannya. Dia tidak tahu penderitaan macam apa yang harus Elea alami,bahkan adiknya itu masih sering mimpi buruk sampai saat ini.


" Jika Elea bersedia aku akan menikahinya .. " Adrian terdiam melihat tatapan tajam nan menusuk di mata Bian.


" Aku juga akan menerima jika Elea melayangkan tuntutan hukum padaku " walau bibirnya terasa sakit dan kepalanya terasa pening namun Adrian tetap memaksakan dirinya bernegosiasi dengan Bian.


" Hukum kau bilang?dengan hanya penjara dua belas tahun atau bahkan lebih ringan menurutmu bisa menghapus luka yang kau berikan pada adikku?!!" nada bicara Bian kembali meninggi. Setiap kata yang keluar dari bibir Adrian seolah bagai percikan api yang dengan mudah membakar emosinya. Irina yang sedari tadi hanya diam diantara mereka berdua langsung mendekati Bian dan mencengkram lengannya,ia takut Bian akan kembali dikuasai emosi.


" Lalu apa yang harus kulakukan agar kau percaya bahwa aku benar-benar menyesal dan ingin menebus kesalahanku? " kini Bianlah yang terdiam,memandang wajah Adrian dengan tatapan menelisik,mencari setitik kejujuran di wajah Adrian yang penuh lebam itu.


" Kau menyesal bukan?kau ingin menebus kesalahan mu? " Bian bertanya setelah sesaat terdiam masih dengan tatapan menelisik yang kentara. Adrian hanya menjawabnya dengan anggukan pelan.


" Pergilah dari kehidupan Ele,jangan pernah menampakkan batang hidungmu di depan adikku! " mata Adrian melotot mendengar keinginan Bian,dia memang menyesal dan akan melakukan apapun agar Elea memaafkannya tapi bukan dengan cara seperti ini.


Adrian menggeleng lemah .. " Tidak Bian .. aku tidak bisa meninggalkannya,,bagaimana aku bisa meninggalkan Elea dalam keadaan sepeti itu " terangnya kembali mengusap sudut bibirnya yang masih berdarah.


" Lepaskan Irina aku akan membunuh pria tak tahu malu ini " Bian meracau penuh emosi saat tubuhnya dapat dipisahkan dari Adrian,dengan seluruh kekuatannya Irina menarik Bian agar menjauh dari Adrian.


" Ayo kak Bian ,, kau harus menenangkan dirimu dulu " Irina berusaha terus menarik tubuh kekar dan tinggi milik Bian untuk menjauh sejauh mungkin dari Adrian,karena jika tidak dipisahkan Bian akan terus dikuasai emosi.


" Adrian kau pergilah .. " teriak Irina sebelum memasuki lift.


" Jangan pernah datang lagi kesini atau kau hanya tinggal nama " imbuh Bian kemudian sosok Adrian tak terlihat karena terhalang pintu lift yang tertutup.


" Hufftt ... kenapa kau seperti ini kak Bian ... " seru Irina mulai melepaskan cengkeramannya pada lengan Bian,karena mereka sudah berada di dalam lift dan tidak mungkin Bian akan kembali menerkam Adrian lagi. Baru kali ini Irina melihat Bian yang kesetanan seperti itu,memang Bian adalah type pria dingin hampir tanpa senyum diwajahnya namun Irina tidak pernah melihat Bian sangat emosi dan memukuli seseorang dengan begitu brutal. Walaupun alasannya sangatlah logis namun Irina tahu Bian bukan type pria yang menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan.


" Kau yang kenapa?! kenapa menyembunyikan ini dariku?kau memihak pria brengsek itu? " bentak Bian dengan tatapan tajam kini diterima Irina,membuat gadis itu mendelik disudut lift.


" Maaf .. " ucap Bian singkat padat dan jelas saat menyadari dirinya dengan kasar malah membentak Irina,membuat gadis itu ketakutan dan menjauh darinya.


" Kak .. Bian tahu kan kalau ..kalau aku tidak mungkin lebih berpihak pada Adrian dari pada Ele " dengan ucapan terbata dan hati-hati Irina mulai berani menatap ke arah Bian. Bian hanya menatap Irina tanpa jawaban atau sekedar anggukan kepala,namun tatapannya kali ini bukanlah tatapan emosi dan tatapan tajam seperti sebelumnya.