
Langit masih gelap dan jam di atas nakas masih menunjukkan pukul empat lebih seperempat saat Elea terbangun dan mengerjapkan matanya. Pandangan matanya terhenti pada sosok Adrian yang tertidur di sofa,tanpa selimut ataupun bantal.
' Sejak kapan dia tidur di sana? ' batin Elea sembari menyingkap selimutnya. Seperti biasa Elea bangun dan merapikan tempat tidurnya kemudian menuju kamar mandi.
Mendengar bunyi suara air gemericik membuat Adrian ikut terbangun,reflek ia melihat ranjang yang ternyata sudah rapi tanpa Elea diatasnya. Adrian segera bangkit dan menuju kamar mandi,ia mulai khawatir mungkin saja Elea kembali mual dan muntah lagi.
" Ele .. " panggil Adrian sembari mengetuk pintu beberapa kali.
" Elea kau baik-baik saja? " Adrian kembali memanggil nama istrinya. Tak lama Elea pun keluar sembari mengelap bibirnya.
" Kau muntah lagi? " tanya Adrian karena melihat wajah istrinya pucat. Elea hanya menggeleng.
" Kau mau makan sesuatu? " tanya Adrian sembari mengekori langkah istrinya menuju ranjang,dan sekali lagi Elea hanya menggeleng.
" Atau kau mau tidur lagi? " Elea masih diam dan hanya menggeleng
" Lalu kau mau apa sayang? " tanya Adrian dengan lembut sembari menggenggam jemari sang istri,membuat Elea seketika terperanjat kaget dengan sentuhan tiba-tiba dari Adrian.
" Kenapa? " tanya Adrian saat Elea menarik tangannya dari genggamannya.
" Tidak bolehkah aku menunjukkan rasa sayangku pada istriku sendiri? " Elea menunduk dan merasa risih dengan kalimat yang diucapkan Adrian.
' Sayang dia bilang? ' batin Elea sedikit bergeser menjauh dari Adrian.
" Baiklah aku akan menjauh jika kau tidak nyaman " ujar Adrian berdiri kemudian berjalan menuju kamar mandi. Ia tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi.
" Maaf jika kau merasa tidak nyaman Elea,tapi aku akan tetap berusaha mendekat dan meraih hatimu " gumam Adrian dengan tekad yang tulus di hatinya,mungkin pernikahannya hanya berlangsung singkat karena Bian hanya memberinya waktu sampai Elea melahirkan,tapi Adrian yakin selama waktu yang singkat itu ia bisa memiliki raga dan jiwa Elea. Adrian yakin akan meluluhkan dan menawan hati Elea pada dirinya,masalah restu dari Bian ia akan pikirkan nanti.
...****************...
" Kenapa berpaling? " tanya Adrian tiba-tiba sudah duduk tepat dihadapan Elea,bahkan jarak mereka sangat-sangat dekat hingga Elea dapat mencium bau nafas Adrian yang harum dan segar.
" Dokter Adrian aku-" Elea seketika langsung berdiri dan berusaha menjauh tapi dengan cepat Adrian mencekal dan menarik tangannya hingga tubuh Elea menabrak dada bidang Adrian.
" Sudah berapa kali aku katakan,aku suamimu bukan doktermu " ucap Adrian setengah berbisik tepat didepan Elea. Wajah mereka sangatlah dekat hingga hidung keduanya saling bersentuhan. Mungkin sebelumnya Adrian tidak berani melakukan kontak fisik sedekat itu dengan Elea karena memang ia merasa bersalah dan mereka belum sah sebagai suami istri,tapi sekarang ceritanya sudah berbeda ada ikatan sah yang membuat Adrian berani sedekat bahkan seintim itu dengan Elea,karena selain Elea memang sudah sah menjadi istrinya tekad Adrian yang ingin lebih dekat dan meluluhkan Elea membuatnya berani dan nekat mendesak sang istri.
Dan Elea sendiri,walaupun ia merasa tidak nyaman dengan kontak fisik yang sedekat itu namun ia hanya pasrah karena sekarang salah satu tangan Adrian sudah melilit di pinggangnya membuat ruang geraknya semakin terbatas. Lagi pula entah apa yang merasukinya mencium wangi alami Adrian membuat rasa mualnya seolah menghilang begitu saja. Adrian serasa menenangkan perutnya yang tadinya bergejolak luar biasa.
Beberapa saat kedua pasang mata itu saling bertatapan. Ada getaran aneh yang sesaat merasuki hati Elea. Ia pun menggelengkan kepalanya dan meronta saat sadar tengah berada dalam dekapan Adrian suami yang dulu pernah menjadi kekasih sahabatnya.
" Panggil aku dengan benar,maka akan aku lepaskan " ucap Adrian dengan senyuman menggodanya.
" Add..adr,,,Adrian lepaskan aku "
" Apa?aku tidak mendengar ucapanmu? " goda Adrian semakin mendekatkan wajahnya.
" Adrian.. aku mual!! " Elea setengah berteriak,bukan karena ia benar-benar mual tapi karena kesal dengan tingkah jahil suaminya. Mendengar istrinya mengucap kata 'mual' membuat Adrian langsung melepaskan dekapannya seketika Elea langsung mendorong tubuh Adrian dan mundur menjauh.
" Maaf .. maafkan aku,apa aku terlalu erat memelukmu? " dengan raut wajah menyesal Adrian mendekati Elea tapi justru membuat Elea semakin mundur menjauh.
" Aku .. aku mau mandi dulu " dengan cepat Elea menjauhi Adrian,memilih masuk ke kamar mandi dari pada harus mendapat perlakuan seperti itu lagi dari suaminya.
Setelah berada di dalam kamar mandi pun Elea hanya berdiri menyandarkan tubuhnya pada pintu yang sudah tertutup rapat. Tangannya mendekap dada berusaha menetralkan nafasnya yang naik turun tak karuan. Hanya berada dalam pelukan Adrian saja membuat jantungnya berdegup bagai genderang,apalagi jika Adrian melakukan hal yang lain.
Ingatan Elea tiba-tiba kembali pada malam panas yang membuatnya mengandung benih Adrian,Elea masih ingat bagaimana tubuh Adrian mengg*gahinya malam itu.
" Sadar Elea .. pria itu yang menghancurkan hidupmu,,Adrian adalah pria milik Delia .. ingatlah itu bodoh " Elea menggelengkan kepalanya dengan cepat,menyadarkan dirinya yang merasakan desiran saat berada dekat dengan Adrian. Walaupun itu entah karena hormon kehamilannya atau apa yang jelas ia tidak boleh merasa nyaman dengan sentuhan dari Adrian. Meski mereka sudah menikah tapi Elea masih bertekad untuk menjaga jarak dari Adrian,ia tetap harus menjaga perasaan Delia,walaupun entah dimana sahabatnya itu sekarang.