One Night With You

One Night With You
PART 64



Sudah satu minggu lebih Elea dirawat dirumah sakit dan sekarang sudah empat hari ia kembali pulang ke apartemennya. Hubungannya dengan Adrian pun sama saja tetap stuck tanpa adanya kejelasan. Namun jika awalnya Bian menolak pria itu sekarang sikapnya sudah melunak,bahkan ia menerima kedatangan Adrian saat pria itu datang berkunjung. Walaupun Elea masih dingin dan menjaga jarak dengannya Adrian tetap tak pantang menyerah dan selalu datang setiap harinya. Siang ini pun begitu dokter muda itu memutuskan pulang lebih awal untuk menemui Elea.


' Apa kau ingin makan sesuatu?mau aku bawakan apa? '


Adrian mengirim pesan text pada Elea sebelum meninggalkan ruangannya,karena memang ia selalu membawa sesuatu saat datang ke apartemennya. Entah itu buah,susu ibu hamil atau apapun yang baik untuk dikonsumsi ibu hamil.


Sementara Elea sendiri hatinya merasa hangat saat membaca pesan dari Adrian. Adrian selalu menunjukkan perhatian padanya walaupun hanya bentuk pesan text yang ia kirimkan,karena Elea memang tak pernah mengangkat telepon dari Adrian. Sebenarnya ia tidak mau terlalu dekat pada ayah biologis dari bayinya itu. Tapi seolah berseberangan dengan pikirannya yang menolak,hati dan tubuhnya seolah merasa nyaman saat bersama Adrian. Setidaknya rasa mual dan tidak nyaman seolah hilang saat melihat dan merasakan aroma Adrian yang menenangkan. Entah itu bawaan kehamilannya atau apa Elea masih berusaha menolaknya,karena semakin ia merasa nyaman dengan Adrian maka ia semakin merasa bersalah pada Delia. Apalagi setelah kejadian malam itu Delia kembali menghilang entah kemana,nomor teleponnya pun sudah tidak aktif lagi.


' Atau mau aku bawakan buah persik atau jeruk untuk meredakan mual? '


Adrian kembali mengirimkan pesan saat tak mendapat balasan dari Elea.


' Aku mau apel,atau belimbing '


Secara reflek Elea membalas pesan Adrian mengikuti kata hati dan lidahnya yang memang ingin makan buah belimbing yang terasa segar dan bisa menghilangkan mual yang sering ia rasakan.


Mata Elea membulat sempurna saat menyadari apa yang ia lakukan.


" Kenapa aku membalasnya,oh.. ya tuhan sudah di read " gumam Elea saat menyadari pesan yang ia kirimkan sudah berubah tanda menjadi biru.


" Elea ... memangnya dia siapamu ..?! " Elea merutuki dirinya sendiri sembari memukuli keningnya dengan ponsel.


Adrian yang membaca balasan dari Elea menarik ujung bibirnya dengan sempurna,membentuk senyuman bahagia luar biasa. Selama ini Elea tak pernah menghiraukan pesan atau telepon darinya dan sekarang wanitanya itu membalasnya,bahkan meminta buah untuknya. Sungguh hati Adrian berbunga dan matanya berbinar penuh kebahagian. Mungkin ini hal yang sangat sepele,tapi sangat berarti untuk Adrian mengingat Elea yang sangat dingin dan tak pernah menganggapnya kini bersedia membalas pesan darinya.


Dengan cepat Adrian mengemasi barang-barangnya,ia ingin segera menuju apartemen Elea dan membawakan apa yang ia inginkan.


" Sedikit demi sedikit Elea,aku pasti akan meluluhkanmu " gumamnya sembari menatap layar ponsel dengan wallpaper foto Elea itu.


Sebelum Adrian melangkah meninggalkan ruangannya terdengar suara pintu dibuka dari luar dan betapa terkejutnya Adrian saat dua orang memasuki ruang pribadinya. Orang itu adalah Nyonya Aida sang ibu dan Henri assisten pribadinya.


" Mama..?! " seru Adrian saat wanita tengah baya itu sudah berada dihadapannya.


" Kenapa terkejut,kau tidak merindukan mamamu? " tanya Nyonya Aida berjalan dengan anggun kemudian duduk disofa besar di tengah ruangan.


" Untuk apa mama kemari? " dengan ketus Adrian membalas pertanyaan Nyonya Aida dengan pertanyaan pula. Tatapannya datar bahkan penuh selidik kepada ibunya.


" Untuk apa?rumah sakit ini milik papamu dan putraku satu-satunya bekerja disini,jadi kau masih bertanya untuk apa mama kemari? "


" Sudahlah ma,aku sibuk sekarang katakan apa yang mama inginkan " Adrian berjalan mendekat dan duduk di hadapan ibundanya.


" Sibuk?dokter Rusdi bilang kau sering ijin bahkan sering cuti mendadak " sesaat Nyonya Aida menghentikan kalimatnya,dilihatnya Adrian yang membuang muka seakan menghindari kontak mata dengan ibunya.


" Apa ini karena wanita itu?siapa namanya Henri?Elea .. ya Elea,apakah karena dia? " Adrian tidak kaget saat ibunya menyinggung tentang Elea,dia yakin ibunya juga sudah tahu semua hal yang menghubungkan dirinya dengan Elea,karena selama ini sang ibu memang diam-diam mengawasi dirinya.


" Apakan dia juga yang membuatmu meninggalkan Delia? "


" Cukup ma "


" Apa dia sangat istimewa sehingga kau meninggalkan Delia dan memaksa wanita itu mengandung anakmu?" Nyonya Aida masih menerocos dengan ekspresi tanpa bersalah sedikitpun,seolah menggoda Adrian yang terlihat tak nyaman dengan obrolan mereka.


Sekali lagi Adrian tidak kaget mendengar ibunya sudah mengetahui perihal kehamilan Elea.


" Tentu saja,mama bahkan tahu sekarang kau akan pergi menemuinya " jawab Nyonya Aida dengan enteng,tidak ada raut wajah sinis dan geram seperti saat mereka membicarakan tentang Delia,bahkan raut wajahnya terlihat tanpa beban.


" Oke .. jika mama sudah mengetahui semuanya bisakah mama berhenti memata-matai aku dan tidak ikut campur semua urusanku? " tanya Adrian yang masih merasa kesal dengan ibunya.


" Apa yang akan kau berikan jika mama melakukannya? "


" What? apa ini transaksi jual beli atau semacamnya? "


" Entahlah .. tapi sepertinya mama tidak perlu terlalu khawatir tentang wanita itu,karena sampai sekarang dia bahkan masih menolakmu " Nyonya Aida bersedekap sembari sesekali melirik wajah putranya yang semakin kesal.


" Aku pasti akan menikahinya " jawab Adrian dengan kesal karena menyadari kebenaran perkataan ibunya.


" Cih .. memangnya mama merestuimu untuk menikah dengannya? "


" Dengan atau tanpa restu dari mama Adrian akan tetap bertanggung jawab dan menikahi Elea "


" Ya .. ya .. ya .. lakukan semaumu,memangnya kau pernah perduli dengan mama?! " kini Nyonya Aida juga terbawa emosi dan mulai kesal dengan putranya.


Hening tak ada suara dari keduanya,bahkan mereka saling membuang muka dengan rasa kesal yang sama.


" Bukankah mama pernah bilang aku boleh menikahi siapapun asalkan bukan Delia? " Adrian menagih ucapan ibunya dahulu saat Adtian masih bersama Delia.


" Oke .. anggap saja mama tidak akan melarangmu bersamanya,tapi apakah dia mau menerimamu?kakaknya bahkan berniat menuntutmu "


" Aku akan melukuhkan hatinya,suatu hari nanti pasti mereka menerimaku " ucap Adtian dengan kilatan tajam di sorot matanya.


" Atau .. mama bisa membantu mu,jika mama berhasil kau harus .. "


" Aku tidak mau kembali ke rumah " potong Adrian dengan cepat seperti sudah tahu apa yang ada dalam pikiran ibunya. Nyonya Aida sendiri hanya menatap putranya dengan kesal.


" Aku tidak mau mama ikut campur "


" Sudahlah .. mama semakin kesal kalau berdebat denganmu " ucap Nyonya Aida berdiri dan melangkah meninggalkan Adrian.


" Apa papa sudah tahu? " pertanyaan Adrian membuat langkah ibunya terhenti dan menoleh kearahnya.


" Walaupun sudah tahu dia tidak akan perduli,yang penting baginya hanyalah membuat gurita bisnisnya semakin membesar " jawab Nyonya Aida kemudian kembali melangkah.


" Oh iya sayang .. jangan lupa membawakan apel dan belimbing " ucap Nyonya Aida dengan seringai lebar sebelum akhirnya keluar dari ruangan Adrian.


" Oh ... ya Tuhan mama .. dia bahkan menyadap ponselku " Adrian memijit pangkal hidungnya merasakan kelakuan sang ibu,tapi sejenak kemudian matanya membuat sempurna menyadari apa yang baru saja terjadi. Ibunya tidak menunjukkan penolakan sama sekali,bahkan sebelum ia pergi berpesan untuk membawakan apa yang diinginkan Elea.


" Apakah mama setuju?apakah mama benar-benar menerima Elea? "gumam Adrian dengan perasaan bingung kemudian berubah menjadi perasaan lega dan bahagia sekaligus.


Jika ibunya memang tidak menolak maka hanya dua hal lagi yang harus ia perjuangkan,yakni restu Bian dan meluluhkan hati Elea. Seketika bibirnya tersenyum dan hatinya merasa bahagia sekaligus lega luar biasa.


" Sedikit lagi Elea,aku akan berusaha meluluhkan hatimu " gumamnya kemudian segera beranjak untuk pergi ke apartemen Elea.