
" What ..??? " pekik Liam tak percaya dengar apa yang baru saja ia dengar. Seorang Adrian Haliandra memperkos@ sahabat dari kekasihnya sendiri??. Jika ia mendengarnya dari orang lain sudah pasti ia tak akan percaya sedikitpun,tapi sekarang dia mendengar langsung dari tersangka utamanya dan sudah pasti Adrian tidak sedang main-main,jadi pendengarannya sudah pasti tidak salah.
" Are you serious?? " Liam masih mencoba mencari kebohongan dimata pria itu,namun yang didapat adalah sorot penyesalan dan kecemasan.
" Jadi sekarang aku sedang menangani korban pemerkosaan??" Imbuh Liam lagi.
" Ya Liam dan aku tersangkanya..kau boleh melaporkanku jika kau mau " Adrian mulai kesal dengan sahabat ya itu,bukan memberi solusi yang mungkin menenangkannya malah menanyakan pertanyaan-pertanyaan konyol yang sudah pasti jawabannya.
" Dan Delia??apa dia tahu? "
Pertanyaan konyol kesekian kalinya keluar dari bibir Liam dan Adrian hanya diam menatap Liam dengan tatapan jengah luar biasa.
" Oke..oke.. ku anggap saja Delia tidak tahu,tapi kenapa kau melakukannya Adrian?dan korbannya adalah sahabat kekasihmu??are you kidding me?? " rasanya memang janggal dan aneh mendengar seorang Adrian yang sangat sopan dan hangat bisa melakukan sesuatu yang sangat merendahkan wanita,apalagi wanita itu adalah sahabat kekasihnya.
" Yahh...aku memang bodoh dan menjijikkan tapi sepertinya aku dalam pengaruh obat atau apalah yang membuatku tak bisa menahan nafsuku " ucap Adrian dengan rasa sesal yang mulai menyesakkan dadanya.
" Jadi menurutmu ada seseorang yang sengaja memberi sidenafil or something like that agar kau bisa memperkosanya?? "
" Liam!!!.." sentak Adrian yang mulai habis kesabarannya karena lagi-lagi pertanyaan Liam sangatlah konyol.
" Karena ceritamu memang aneh Adrian..mana mungkin ada seseorang tanpa alasan memberikan obat perangsang kepadamu?? "
Adrian terdiam dia pun tidak tahu siapa sebenarnya yang memberikan obat itu,karena seingatnya dia hanya meminum anggur dari Delia tapi mungkinkah Delia yang memberikan obat itu padanya?.
" Atau kau memang menaruh hati pada wanita yang siapa tadi namanya?ya Elea,apa kau memang sudah menyukai Elea sebelumnya?"
Walaupun kali ini pertanyaan Liam tidaklah konyol dan memang benar dirinya menyukai Elea namun Adrian memilih diam dan tidak menjawabnya.
" Bukankah tadi sudah kubilang,hubunganku dan Delia sudah berakhir sebelum malam itu terjadi "
" Oke baiklah..anggap saja kau sudah lajang saat malam itu terjadi,tapi apa yang akan kau lakukan selanjutnya? "
" Entahlah...bahkan Elea sangat takut saat melihatku,apa menurutmu dia depresi atau trauma?" Adrian menatap serius pada Liam.
" Reaksi seperti itu wajar terjadi pada korban pemerkosaan,tapi karena depresi atau tidak aku belum tahu " Liam terdiam memberi jeda pada kalimatnya.
" Tapi sebaiknya jangan menemui Elea dulu,walaupun wajahmu cukup tampan untuk dilihat tapi tetap saja kau tersangka pemerkosaannya " imbuh Liam dengan seringai lebar menikmati ekspresi Adrian yang sangat frustasi.
" Baiklah aku harus kembali bekerja,,oh..ya aku sudah mengatakan pada dokter Rusdi kalau kau mengambil cuti mendadak dan dia sudah mengizinkan " ucap Liam mukai beranjak dari tempat duduknya,dokter Rusdi adalah dokter senior sekaligus direktur rumah sakit ini,mengingat Adrian adalah putra dari pemilik rumah sakit tentunya dokter Rusdi dengan mudah memberikan izin cuti mendadak untuk Adrian.
Sepeninggalnya Liam Adrian masih terdiam di ruang kerjanya. Pikirannya masih kalut bagai benang kusut yang sulit untuk diuraikan. Vibrasi ponsel mengagetkan Adrian.
Max Calling
" Aku sudah membawanya tuan,kami dalam perjalanan menuju rumah sakit " suara Max diseberang sana terdengar tegas dan membuat Adrian lega. Akhirnya Max dengan cepat menemukan Irina.
" Langsung bawa dia ke paviliun ku dilantai paling atas " perintah Adrian dan dia pun segera menuju paviliunnya.
" Dan ingat jangan kasar ataupun menyakitinya sedikitpun " imbuh Adrian lagi.
" Baik tuan " Max kemudian menutup sambungan teleponnya.
Max memang selalu bisa diandalkan,dia sudah seperti kaki tangan Adrian. Adrian mengenal Max saat masih tinggal di mansion keluarganya. Max adalah putra dari assisten ayahnya,dan mereka berdua pun melanjutkan pendidikan di universitas yang sama. Dan karena jasa kedua orang tua Adrian kepada keluarganya Max tanpa ragu membantu dan melaksanakan apa saja perintah dari Adrian.