One Night With You

One Night With You
PART 71



Bibir Adrian tak henti-hentinya mengukir senyuman semenjak keluar dari apartemen Elea sampai sekarang sudah hampir memasuki apartemennya sendiri. Beban yang begitu berat kini berangsur-angsur menghilang. Sebentar lagi ia akan hidup bersama seorang wanita yang begitu ia dambakan,dan yang lebih membahagiakan lagi akan ada malaikat kecil diantara mereka,janin kecil yang terbentuk dari dua puluh tiga kromosomnya dan dua puluh tiga kromosom Elea kini tengah tumbuh di rahim sang wanita pujaan. Hal itulah yang membuat langkah Adrian begitu ringan malam ini. Yaa walaupun bayi kecil itu hadir karena kesalahan dirinya dan rasa pedih yang Elea rasakan namun Adrian tak menyesalinya. Dia hanya menyesali perbuatannya yang salah namun tidak menyesali hadirnya kehidupan di rahim Elea.


Adrian kini sudah memasuki apartemennya dan berjalan menuju ruang tengah,menuju ke dapur dan mengambil air mineral di lemari pendinginnya. Walau ia berjalan namun mata dan tangannya fokus pada ponsel dimana sekarang ia tengah ber chatting ria dengan Alex dan Liam. Adrian mengabarkan kebahagiaan yang baru saja ia rasakan,dimana ia sudah mengantongi izin dari Bian dan akan segera melepas masa lajangnya. Kedua sahabatnya itu harus tahu,terutama Liam yang selama ini selalu mengejeknya dengan kata-kata dokter mesum sama seperti yang selalu Irina katakan dulu.


Bibir Adrian tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya saat melihat balasan chat dari Liam yang mengatakan Adrian berhasil mendapatkan wanita pujaannya karena trick licik yang tidak ramah wanita. Entah dari mana sahabatnya ini mendapat kata-kata aneh itu tapi cukup menghibur untuknya.


Saking asiknya membalas chat dari kedua sahabatnya Adrian sampai tak menyadari ada dua pasang mata tengah mengawasi dirinya. Dua orang itu adalah Nyonya Aida Haliandra dan assisten setianya. Jangan tanya bagaimana Nyonya Aida bisa masuk ke dalam apartemen Adrian,dia bahkan bisa masuk dan mengetahui pikiran dan isi hati Adrian.


Melihat senyuman yang terus terukir di wajah putranya membuat Nyonya Aida ikut tersenyum. Entah sudah berapa lama senyuman itu tak ia lihat,setelah Adrian memutuskan tinggal sendiri saat itu pula Nyonya Aida seakan kehilangan sosok Adrian. Dunia Adrian mulai dipenuhi oleh Delia,karena Nyonya Aida yang tak merestui hubungan keduanya Adrian seakan lebih menjauh dan menjaga jarak dari keluarganya sendiri,itulah yang membuat sang ibu memutuskan untuk memantau dan memata-matai Adrian. Karena rasa sayang dan takut kehilangan cinta kasih putranya membuat Nyonya Aida bersikap over protektif walaupun dilakukan secara diam-diam.


" Sepertinya hatimu sedan senang " suara sang ibu mengagetkan Adrian dan langsung mengedarkan pandangannya mencari sumber suara. Seketika ruang tengah yang tadinya temaram berubah menjadi terang dan memperlihatkan sosok ibunya yang duduk elegan di sofa depan televisi,dan Henri asistennya berdiri tegak disamping sofa yang di duduki Nyonya besarnya.


" Mama .. " seru Adrian hampir tak bisa berkata-kata,perasaan kaget dan kesal bercampur jadi satu. Dirinya seperti tak punya privasi di rumahnya sendiri,kalau bukan Delia pasti ibunya yang kelakuannya hampir sama. Tiba-tiba sudah duduk manis di dalam apartemennya.


" Apa kau tidak ingin membagi kebahagiaanmu dengan mama? " tanya Nyonya Haliandra berdiri kemudian berjalan mendekat ke arah Adrian.


" Bisakah mama masuk kesini dengan ijinku? " Adrian malah balik bertanya.


" Kau belum menjawab pertanyaan mama,tidak maukah membagi kebahagiaanmu dengan mama? " Adrian terdiam,ia yakin ibunya pasti sudah tahu perihal Bian yang mengizinkannya menikahi Elea.


Degg


Adrian mulai mencurigai ibunya yang mungkin saja mengancam Bian untuk menerima dirinya.


" Apakah mama dibalik berubahnya sikap Bian? " tanya Adrian dalam hati sembari menatap ibunya penuh selidik.


" Atau .. kau ingin berterima kasih pada mama mu ini? " tanya Nyonya Haliandra lagi,sepertinya ia menyadari tatapan mata putranya yang seolah menaruh kecurigaan padanya.


" Mama yang memaksa Bian?dengan apa mama memaksanya?mama melakukan kekerasan? " rentetan pertanyaan mulai keluar dari mulut Adrian plus dengan tatapan mata kesal.


" Melakukan kekerasan apa?memangnya mama bisa melawan kekuatan pria seperti Bian? " Nyonya Haliandra mulai ikut kesal,bukanya mendapat reaksi hangat atau terimakasih tapi malah seolah menjadi calon tersangka dengan pertanyaan interogasi dari putranya.


Adrian terdiam sejenak,kalau dipikir-pikir benar juga,bila memang ibunya yang memaksa tentu saja Bian tak akan menikahkan adiknya hanya sampai Elea melahirkan.


" Kenapa diam? " tanya Nyonya Aida melambaikan tangan membuyarkan lamunan Adrian.


" Apa maksudmu? "


" Kenapa mama mendukungku bersama Elea? "


" Kau masih bertanya? " sebuah sentilan keras Nyonya berikan di kening Adrian.


" Auuw .. sakit ma " pekik Adrian.


" Benar kata Liam,dekat dengan Elea membuatmu kehilangan fokus,kehilangan kepercayaan diri,kehilangan mood bagus mu,kehilangan kontrol kau benar-benar mulai gila hanya karena seorang wanita " omel Nyonya Aida kembali duduk dan bersedekap.


" Bagiku Elea bukan wanita biasa ma " jawab Adrian mengikuti sang ibu dan duduk dihadapannya.


" Ya .. dia juga sama anehnya denganmu,sudah dalam keadaan hamil tetap menolak pertanggung jawabanmu,menolak untuk menuntutmu,mama jadi bingung apa yang dia inginkan " Nyonya Aida kembali mengomel dan tidak sadar putranya kini menatapnya dengan heran. Ya .. Adrian heran ternyata ibunya sudah mengetahui sejauh itu. Entah sudah berapa intel dan mata-mata yang disewa ibunya tapi yang jelas itu membuat perasaan kesal mulai dirasakan Adrian kembali.


" Bian sudah mengizinkanku menikahi Elea,dan ia memastikan Elea juga akan menerimaku " pungkas Adrian kemudian.


" Dan kau tidak ingin berterima kasih pada mama soal itu? " tanya Nyonya Aida dengan senyum yang aneh.


" Memangnya kenapa aku harus berterimakasih pada mama? bukan mama yang memaksa Bian untuk menikahkan adiknya denganku bukan? "


" Memang,,tapi secara tidak langsung mama yang membuat Bian mau tidak mau harus menerimamu sebagai calon suami adiknya "


" Maksud mama?apa yang mama lakukan pada Bian?! "


" Tenang saja,mama tidak melakukan sesuatu yang membahayakan calon kakak iparmu,mama malah memberikannya proyek besar yang akan membuat karirnya semakin cemerlang " jelas Nyonya Aida masih dengan senyum kepuasan di bibirnya. Adrian sendiri masih terdiam seolah mencerna kalimat penjelasan sang ibu.


" Kau ingat Tuan Hong bukan?mama merekomendasikan Bian untuk menangani kasus di. perusahaan Tuan Hong "


" Bukankah Tuan Hong-"


" Yah..Tuan Hong sekarang berada di Singapura,dan Bian harus segera ke Singapura untuk menangani kasus Tuan Hong,jadi mau tidak mau dia harus meninggalkan adiknya bukan " tutur Nyonya Aida dan perlahan Adrian mulai mengerti dan paham kenapa Bian mengizinkannya menikahi Elea,dia tidak tega harus meninggalkan adiknya dengan kondisinya yang hamil muda dan masih rentan. Dan kebetulan mereka tidak punya kerabat lainnya,jadilah Bian terpaksa menerimanya karena dia ingin Adrian menjaga Elea dan bayinya. Tapi tidak apa-apa walaupun Bian terpaksa yang terpenting dirinya bisa bersama Elea dalam keadaan sah dimata hukum dan agama.