
Malam berat telah dilalui Elea dengan susah payah,dan saat pagi menyapa pun tetap tidak menghapus duka malam tadi. Harusnya hari ini adalah hari luar biasa untuknya.
Siang nanti dia akan menandatangani kontrak dengan penerbit,dan malam harinya Vania akan bertunangan. Harusnya setelah menandatangi kontrak dia akan makan siang dengan Barra,kemudian memilih kado untuk Vania dan bersiap menuju ke pertunangan Vania dengan ditemani Barra kekasih tercintanya. Tapi itu semua mungkin tak akan terjadi sesuai yang ia inginkan.
Meski rasanya tak ada nafsu makan Elea memaksakan memakan selembar roti tawar untuk mengisi perutnya. Barulah ia keluar untuk membeli beberapa perlengkapan yang ia butuhkan di kantor penerbit nanti.
Namun matanya membulat melihat pemandangan didepannya. Barra dan asistennya tengah duduk dedap pintunya apartemennya. Dilihat dari penampilan kedua lelaki itu sepertinya tidak pulang dari tadi malam. Memang Elea mendengar suara Barra tengah malam tadi tapi ia memilih tidur dan tak menghiraukannya. Dia pikir pria itu akan pulang setelah lelah memanggil namanya,namun dugaannya ternyata salah,kekasihnya itu masih tetap menunggunya lengkap dengan assisten setianya.
" Barra.." Elea mengguncang pundak Barra agar pria itu terbangun.
" Sayang akhirnya kau mau membuka pintu " Eela mundur selangkah saat Barra berusaha menggapai tangannya. Selain karena aroma alkohol yang kuat dari Barra Elea juga belum bisa memaafkan kekasih ya itu.
Suara Barra turut membangunkan Mateo yang tertidur tak jauh dari pintu.
" Sayang tolong dengarkan penjelasanku,aku mohon " selangkah Barra mencoba mendekat maka selangkah pula Elea mundur menjauh. Tentu saja itu menyakiti hati Barra,gadis yang selalu menebar senyum saat bersamanya itu kini seakan merentangkan jarak padanya.
" Ako mohon Elea,sekali saja tolong dengarkan penjelasanku " Barra memohon kembali namun Elea tetap diam.
" Tapi aku tidak punya waktu lama,aku harus ke kantor penerbit " ucap Elea setelah terdiam sesaat.
Mereka pun masuk,lebih tepatnya Barra dan Elea karena Mateo memutuskan untuk menunggu di mobil,membiarkan sepasang kekasih itu menyelesaikan masalah mereka.
Elea terdiam tanpa menatap Barra yang kini sudah duduk didepannya. Sementara Barra sendiri bingung dari mana ia harus memulai penjelasannya.
" Elea..apa yang kau lihat di mobilku memang benar adalah milikku " Barra memulai kalimatnya,ia memilih jujur mengungkap semuanya atas saran Mateo. Menurut Mateo Barra harus jujur dan terbuka dia yakin Elea akan menerimanya kembali jika Barra benar-benar berubah.
Elea tak bergeming mendengar ucapan Barra,meski kalimat itu rasanya seperti sembilu kasat mata yang menusuk jantungnya,namun ia mencoba bersikap tenang.
Satu persatu Barra menjelaskan perangainya dibelakang Elea,dari dirinya yang gemar mabuk-mabukan sampai dirinya yang kerap gonta ganti wanita untuk memuaskan kebutuhan biologisnya. Itu semua demi menjaga dirinya agar tak khilaf sampai memaksa Elea untuk berhubungan badan dengannya,begitulah yang Barra ucapkan.
Barra terdiam tak mampu mengucapkan kata-katanya saat melihat Elea terisak dan bercucuran air mata,tangannya menutup mulut untuk menahan suara tangisnya.
" Aku tahu aku sangat kotor sayang,tapi aku mohon beri aku satu kesempatan " Elea tak dapat berkata-kata memilih menarik jemarinya.
" Jika perlu aku akan ke Bali sekarang,aku akan meminta restu pada Kak Bian untuk menikahi mu sayang,agar..agar kamu tahu bahwa aku benar-benar serius dan hanya mencintaimu " Elea masih terdiam isak tangisnya tak jua mereda.
" Tak pernah ada cinta saat aku melakukannya dengan wanita-wanita itu sayang,percayalah..."
" Bagaimana kalau itu terjadi padaku? " kalimat itu yang keluar dari mulut Elea,kalimat yang membuat Barra bingung apa maknanya.
" Bagaimana kalau aku yang bergonta ganti pasangan dan tidur dengan banyak pria Barra?apa kamu masih mau menerimaku?? " pertanyaan itu bagai belati yang langsung menembus jantung Barra,membuatnya terdiam kelu.
" Aku sangat sangat mencintai kamu Barra sampai aku bingung bagaimana meyakinkan kakakku untuk menerimamu,tapi apa yang kamu lakukan kamu tak perduli dengan perasaanku dan memilih bersenang-senang dengan wanita lain " rentetan kata-kata Elea benar-benar menjatuhkan Barra didasar yang terdalam,membuat pria itu bahkan tak mampu memandang sang gadis.
" Sekarang tidak ada lagi yang tersisa diantara kita,lebih baik kamu pulang karena aku tak mau mendengar apa-apa lagi " Elea beranjak tapi Barra menarik tangannya membawa Elea dalam pelukannya.
" Tidak Elea aku mohon aku tidak mau kita berpisah seperti ini " walaupun Elea menangis dan meronta Barra tetap mendekap erat Elea. Bahkan ia berusaha mencium Elea dengan paksa.
" Lepaskan aku Barra.." Elea meronta sekuat tenaga melepaskan Barra. Tangannya reflek mengayun dan menampar Barra sekuat tenaga. Rasanya pria itu bukanlah Barra yang ia kenal,bukan Batara yang selalu lemah lembut kepadanya. Bukan Batara yang selalu memperlakukannya seperti ratu.
" Elea maafkan aku.." tamparan Elea menyadarkan Barra betapa bodohnya sikapnya tadi. Namun Elea benar-benar sudah muak dan mendorong Barra keluar dari apartemennya. Tubuhnya langsung luruh merosot ke lantai sesaat setelah menutup pintu. Dadanya terasa sesak penuh himpitan. Suara Barra yang meneriakkan namanya seakan menambah gemuruh badai di hatinya saat ini.
Impian rumah tangga bahagia yang ia bangun bersama sang kekasih telah luluh lantah. Cinta yang dulu bersemi indah kini hancur tak berbentuk. Menyisakan lubang besar di hati Elea,membuatnya terpuruk dalam kesedihan tak terhingga.
Sementara Barra sendiri hanya bisa menyesali kebodohannya. Membuat sang kekasih yang sangat ia damba pergi dengan luka menganga di hati. Luka yang mungkin tak akan sembuh walau dirinya bersimpuh memohon maaf padanya. Mimpi hidup bersama dan menua bersama dengan yang tercinta kini dia hancurkan dengan tangannya sendiri.
Jika ia sangat terluka maka ia tak dapat membayangkan seperti apa perasaan Elea sekarang.
Barra berteriak frustasi tubuhnya turun luruh melemas jatuh terduduk,tangannya meremas dan menarik rambutnya dengan sangat keras. Baru kali ini lelaki itu menangis,tangis penyesalan dan kehancuran hati dan perasaanya.
Dua orang pecinta yang gagal kini tengah tertunduk dengan tangis masing-masing. Bersandar pada pintu yang sama namun disisi yang berbeda.