
Malam harinya Delia sudah berdandan sangat cantik,karena sore tadi Adrian mengajaknya makan malam disebuah restaurant yang terkenal privat dan sangat romantis.
" Mungkin Adrian sudah menyadari kesalahannya bukan " batin Delia sembari berputar beberapa kali memastikan gaun yang ia pakai terlihat bagus dan elegan saat bertemu Adrian nanti.
Dan tak lama terdengar bel pintu apartemennya,dengan senyum sumringah ia segera berlari menuju pintu untuk membukanya,bahkan Delia tak mengintip door view terlebih dahulu. Dia yakin Adrian sudah berdiri didepan pintunya dengan penampilan gagah. Namun senyum sumringahnya langsung menghilang tatkala membuka pintu dan bukanlah Adrian yang berdiri disana.
Seperti membeku Delia sekarang karena tamu yang berdiri didepannya adalah Nyonya Aida Halindra ibunda Adrian bersama dengan dua body guard yang berdiri tegap dengan wajah datar tanpa ekspresi.
" Sepertinya kau akan pergi,aku akan kembali lain waktu " Nyonya Aida hampir melenggang pergi namun ditahan oleh Delia.
" Tunggu tante...masuklah " Nyonya Aidapun memasuki apartemen Delia diikuti dua body guard nya.
" Duduklah tante akan kubuatkan minum "
" Tidak perlu akan hanya sebentar " setelah mengedarkan pandangannya pada ruang tamu Delia Nyonya Aida pun duduk dengan elegan. Begitupun dengan Delia yang kemudian duduk didepan Nyonya Aida.
" Ini mengenai Adrian,kau kalian masih sering bertemu bukan " Delia tak menjawab,dia yakin ini bukan pertemuan saling mengenal antara calon mertua dan menantu.
" Berpisahlah dengan Adrian,aku akan memberikan apapun yang kau mau " kalimat ibunda kekasihnya ini sukses membuat Delia bagai tersambar petir.
" Aku akan menjanjikan karir keartisanmu lancar sampai kepuncak,tak akan ada yang menghalangimu,sebagai gantinya aku meminta kebebasan putra ku " Delia hanya menatap Nyonya Aida dengan tatapan emosi yang masih ia tahan.
" Aku tahu apa yang coba kau lakukan pada putraku,walaupun kau hamil aku tak akan pernah menerimamu sebagai menantuku Delia "
" Anda sudah selesai tante?" kini Nyonya Aida yang terdiam.
" Jika anda sudah selesai tolong tinggalkan apartemen saya,anda tahu bukan dimana pintunya " Delia beranjak meninggalkan calon mertuanya itu.
" Jika kau tidak bisa diperingatkan secara halus,maka terpaksa aku akan menggunakan cara kasar "
" Cara apapun yang anda pakai,tidak akan bisa memisahkan cinta kami "
" Cih..cinta kau bilang??kau yakin Adrian masih mencintaimu? " pertanyaan retoris Nyonya Aida bagaikan tamparan untuk Delia mengingat bagaimana acuhnya sikap Adrian akhir-akhir ini.
" Kau diam?jadi benar bukan apa yang aku katakan "
" Saya diam karena apapun yang akan saya katakan tidak akan anda dengar,jadi sekarang tolong tinggalkan tempat ini karena ada seseorang yang sedang saya tunggu " Delia tidak mau Adrian melihat perdebatannya dengan sang ibu bila lelaki itu datang.
" Kita tunggu saja,siapa yang akan dipilih oleh Adrian,aku atau kau " ucap Nyonya Aida seakan mengibarkan bendera perang pada Delia.
Sepeninggal Nyonya Aida Delia hanya dapat menangisi apa yang baru saja terjadi,bagaimana hubungannya dengan Adrian bisa berlanjut kejenjang yang lebih serius kalau calon mertuanya itu terang-terangan menentangnya. Namun bagaimana dirinya bisa hidup bila tanpa Adrian.
" Aku tidak akan kalah Nyonya Aida Halindra,aku akan menjadi Delia Halindra menantumu satu-satunya " gumam Delia sembari menghapus air matanya. Ada kilat amarah dan ambisi di netranya yang memerah karena menangis.
Tak ingin berlama-lama memikirkan tentang apa yang baru saja terjadi,Delia segera menuju kamarnya,memperbaiki makeup yang berantakan karena tangisannya. Dia tak mau Adrian melihatnya dengan keadaan sembab seperti ini. Bagaimanapun malam ini harus menjadi malam romantis yang akan berdampak baik bagi hubungan cintanya dengan Adrian.
Dan yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang,tak lupa mengintip terlebih dahulu siapa tamunya kali ini. Tidak seperti sebelumnya yang harus berperang dingin dengan Nyonya Aida calon mertuanya.
" For you " ucap Adrian menyerahkan sebuket bunga mawar itu. Entah mengapa Adrian mersa bersalah pada Delia sore tadi,dan akhirnya memutuskan mengajaknya makan malam,tak kupa ia bawakan bunga untuk wanitanya itu. Mungkin juga dia merasa bersalah karena perasaanya yang tak lagi sama namun tak dapat mengakhiri semuanya.
" So sweet ... " Delia kemudian mengecup bibir Adrian,hanya kecupan singkat yang bahkan tak dibalas oleh Adrian.
" Kau habis menangis?" Adrian baru menyadari mata wanitanya itu terlihat sembab walaupun tersamarkan oleh makeup.
" No..mungkin karena kurang tidur "
" Baiklah lebih baik kita berangkat sekarang " ajak Adrian kemudian merekapun meninggalkan apartemen Delia.
Diperjalanan menuju restaurant mereka hanya saling diam,walaupun sudah bersama Adrian namun Delia tidak bisa mengusir bayangan Nyonya Aida yang menginginkan dirinya berpisah dengan Adrian. Bagaimana dirinya bisa menjalani hidup bila tak ada Adrian didalamnya. Sementara dengan Adrian dia bingung apa yang harus ia bicarakan karena memang tak ada topik yang dapat ia bahas dengan Delia.
Dan tak terasa merekapun sampai di sebuah restaurant bergaya itali yang sangat mewah. Tak menunggu lama mereka menuju meja yang sudah dipesan,sebuah meja khusus yang tak terlalu dekat dengan pengunjung lain. Menu pun sudah dihidangkan setelah beberapa saat mereka menunggu.
" Kau suka.." Adrian melihat binar bahagia pada Delia,menularkan senyum yang sama padanya.
" Tentu saja,apalagi ada kau bersamaku " Delia menggengam jemari Adrian,rasanya sudah sangat lama mereka tidak sedekat dan seromantis ini.
Banyak yang mereka bahas malam ini termasuk tentang Elea yang dan pertemuan tak sengaja tadi siang.
" Jadi nona Elea adalah temanmu?" tanya Adrian sembari memotong steaknya.
" Ehemm...kita berteman sejak kuliah "
" Lalu kenapa kau tidak menjenguknya saat dia sakit?"
" Kalau aku tahu pasti aku menjenguknya,,Oh iya saat aku masuk ruanganmu,kau terlihat akrab dengan Elea apa kalian pernah mengenal sebelumnya?"
" Kita pernah bertemu ditoko buku saat peluncuran novelnya,dan kebetulan aku sering membaca karya-karyanya " Adrian memang sering membeli novel-novel karya Elea,karena menurut Adrian novel karya Elea tidak membosankan,banyak kisah yang diangkat bukan hanya tentang cinta dan keromantisan.
" Apa dia punya kekasih atau sudah menikah?" Adrian memberanikan diri untuk bertanya setelah sebelumnya terdiam menyusun kalimatnya.
" Kenapa kau bertanya?" bukannya menjawab Delia malah balik bertanya, Tentu saja pertanyaan Adrian membuat Delia sedikit curiga.
" Karena saat dia dirawat hanya kakaknya yang merawatnya,tak ada keluarga lain ataupun sahabatnya " jawaban Adrian membuat lega,setidaknya pertanyaan tadi bukan karena Adrian tertarik dengan Elea.
" Karena kedua orang tua mereka sudah meninggal,dan hanya Kak Bian saudara Elea satu-satunya,tapi seharusnya ada Barra bukan,biasanya dia selalu disamping Elea "
" Barra??"
" Kekasihnya..mungkin kak Bian yang melarangnya masuk,ahh..sudalah kenapa kita malah membahas Elea,bukankah malam ini khusus untuk kita berdua " Delia mulai tak nyaman membicarakan tentang Elea. Adrian sendiri tak mau bertanya lebih lanjut tentang Barra yang disebut sebagai kekasih Elea,walaupun sebenarnya dia penasaran dengan pria bernama Barra itu.
Tak dapat dipungkiri Adrian tertarik dengan Elea jauh sebelum mereka bertemu,Adrian jatuh cinta dengan novel karya Elea kemudian tertarik dengan penulisnya setelah mereka bertemu. Tak disangka takdir mempertemukan mereka kembali sebagai pasien dan dokternya,namun fakta bahwa Elea dan Delia berteman membuat Adrian ragu apakah ketertarikannya akan berlanjut atau tetap ia pendam. Apalagi novelis cantik itu jelas-jelas sudah memiliki pasangan walaupun bukan pasangan yang sah.