
Adrian menutup panggilan teleponnya dengan sang ibu. Ia mengacak rambutnya kasar mengingat apa yang baru saja dibicarakan sang ibu di telepon.
' Bagaiman mama tahu aku disini dengan seorang wanita?apakah mama masih mengawasi ku diam-diam' gumam Adrian masih memikirkan kata-kata ibunya.
' Aku mengizinkan kau meniduri siapapun asal bukan Delia,tapi ingat jangan sampai ada anak sebelum pernikahan' jelas sekali ultimatum yang diucapkan sang ibu. Tapi bukan itu poin penting yang ia pikirkan sekarang.
Adrian membuang semua pikiran-pikiran tentang ibunya,ia memilih kembali ke kamar hotel,karena tadi ia memang sengaja keluar hanya untuk menerima telepon agar tidak mengganggu Elea yang sepertinya tertidur. Ya,sepertinya Elea benar-benar tertidur karena kelelahan menangis dan tentu saja kelelahan karena dengan paksa melayani nafsu Adrian.
Namun yang didapati Adrian hanyalah ranjang kosong tanpa Elea diatasnya. Indra pendengarannya menangkap suara gemercik air dikamar mandi,mungkin saja Elea sedang membersihkan diri.
Hatinya terasa ditusuk oleh belati tak kasat mata saat melihat bercak darah di sprei putih itu. Adrian memang masih dilanda sesal oleh perbuatan bodohnya,namun saat melihat bercak darah yang pasti dari Elea itu membuat sesal dan amarah makin melingkupinya.
Apa yang akan diucapkannya setelah Elea keluar dari kamar mandi nanti,haruskah ia bersujud dikakinya untuk memohon setitik saja maaf dari Elea,haruskah ia menangis meraung menyesali nafsunya yang telah sangat menyakiti Elea.Perasaan sakit dan sesak dihatinya membuat setitik air bening lolos begitu saja dari matanya.
Sudah tiga puluh menit Adrian mondar mandir di depan pintu kamar mandi namun Elea tak juga keluar. Perasaan cemas dan khawatir mulai melingkupinya. Bukan tidak mungkin Elea akan melakukan tindakan bodoh untuk menyakiti dirinya sendiri,mengingat betapa pedih peristiwa yang baru saja ia lalui.
" Elea ... " panggil Adrian namun tak terdengar sahutan dari dalam,hanya gemericik air yang tenang.
" Elea..buka pintunya..." Adrian mulai dilanda perasaan cemas luar biasa.
" Elea..come on .." tetap hening hanya gemericik suara air yang tak berubah ritmenya.
Rasa cemas mulai berubah menjadi ketakutan akan keselamatan Elea,membuat Adrian terpaksa mendobrak pintu untuk masuk ke kamar mandi.
" Ya Tuhan..Elea.. " sentak Adrian langsung menyerbu meraup tubuh Elea dari dalam bathtub.
" Elea bangun.." Adrian mengguncang tubuh Elea yang begitu dingin bahkan bibirnya sudah sedikit membiru. Tanpa pikir panjang lagi Andrian segera menyambar handuk kimono yang tergantung dikamar mandi untuk menutupi tubuh Elea. Segera ia menggendong Elea untuk dibawa ke rumah sakit. Beberapa staf hotel mengikuti langkah cemas Adrian yang tengah menggendong wanita dalam keadaan pingsan itu.
Setelah menidurkan Elea di kursi belakang Adrian segera tancap gas menuju rumah sakit. Langkah pertama yang ia lakukan adalah menelepon Liam yang merupakan sahabatnya sekaligus salah satu dokter terbaik di rumah sakit itu. Sesekali pandangannya tertuju pada kaca rear vision yang memperlihatkan tubuh Elea yang masih dalam kondisi tak sadar.
Beberapa kali Adrian hampir menabrak mobil yang lain karena fokusnya benar-benar kacau. Rasa ketakutan luar biasa mulai menjalari hatinya. Dirinya bergidik ngeri membayangkan kalau sampai nyawa Elea tak terselamatkan,sudah pasti ia tak akan memaafkan kebodohannya malam ini. Namun ia yakin Elea masih bernafas saat di hotel tadi walaupun lambat-lambat. Dia yakin masih merasakan denyut nadi Elea walaupun sangat lemah.
Tak sampai setengah jam akhirnya Adrian sudah sampai di plataran rumah sakit. Jalanan memang tidak terlalu ramai saat dini hari sehingga Adrian dapat mengemudikan mobilnya dengan lebih cepat tanpa halangan. Begitu pintu mobil terbuka petugas rumah sakit segera mengambil alih tubuh Elea dan memindahkannya di atas ranjang dorong rumah sakit yang sudah dipersiapkan. Tubuh Elea yang semakin memucat segera didorong menuju ruang emergency khusus yang tersedia bagi para petinggi dan pemilik rumah sakit.
Adrian sendiri mengikuti disamping Elea menatap perempuan itu dengan wajah penuh kekhawatiran. Liam dan beberapa dokter yang sedari tadi sudah berada diruang emergency segera menyambut dan melakukan tindakan kepada Elea. Adrian memang seorang dokter dan dia juga bisa menangani Elea namun kondisinya yang sekarang dilingkupi rasa panik dan khawatir tidak memungkinkan untuk melakukan tindakan medis apapun.Dirinya hanya bisa diam menunggu para dokter yang berusaha menyelamatkan wanitanya itu.
Adrian terduduk di kursi tunggu yang masih berada didalam ruang emergency. Kedua tangannya menutup dan mengusap kasar wajahnya,tak pernah ia merasakan rasa takut yang luar biasa seperti ini. Rasa penyesalan itu semakin menyesakan dadanya tatkala melihat para dokter berusaha menyelamatkan Elea. Mengingat betapa dingin dan pucatnya wajah Elea tadi membuat Adrian merasa tak bisa hanya duduk diam tanpa melakukan apapun. Ia mendekat berusaha meraih pergelangan tangan Elea namun Liam segera menahannya membawanya keluar agar membiarkan para dokter lebih fokus dalam penanganan Elea.
" Liam aku mohon..selamatkan dia..lakukan apapun agar nyawanya bisa tertolong " mohon Adrian terbata-bata dengan mencengkram bahu Liam.
" Tenang Adrian..tenanglah...dia akan baik-baik saja..okee.." walaupun Liam sendiri bingung siapa gadis itu dan kenapa bisa Adrian membawanya di dini hari seperti ini namun Liam lebih memilih tak menyuarakan pertanyaannya lebih dulu. Apalagi melihat kondisi Adrian yang sepertinya sedang kacau balau karena mengkhawatirkan perempuan itu. Liam memilih untuk lebih bijak dengan menenangkan Adrian,karena menurutnya kondisi perempuan itu tidak terlalu parah dan dia yakin masih bisa diselamatkan.
" Tunggulah disini,,aku akan berusaha menyelamatkannya " dengan tenang Liam mengucapkannya kemudian meninggalkan Adrian dan kembali memasuki ruang penanganan.
Adrian sendiri menurut dan terpaku diluar ruangan. Jemari Adrian menarik keras rambutnya,rasa khawatir,cemas,takut dan sesal benar-benar membuatnya pening tak terkira. Detik demi detik rasanya terlewat begitu lama saat menunggu Liam keluar dan mengabarkan kondisi Elea. Jangankan hanya duduk diam menunggu,berjalan mondar mandir pun sama sekali tak meredakan kecemasan Adrian.