
Sesampainya di bengkel Elea meminta Adrian untuk meninggalkannya selain mobilnya sudah siap dipakai Elea juga tidak enak membuat dokter itu meninggalkan pekerjaannya terlalu lama. Adrian pun menurut dan meninggalkan Elea menuju rumah sakit.
Elea sendiri segera menuju kantor editor untuk mengurus beberapa naskah novel yang harus direvisi. Elea sibuk mengurus urusan pernovelannya sehingga melewatkan jam makan siang. Ia baru merasakannya setelah perutnya berbunyi menandakan harus segera diisi.
Namun baru keluar dari kantor editor dirinya dibuat kaget karena tiba-tiba saja Barra sudah berada di dekat mobilnya.
" Barra??kenapa kau.." belum sempat Elea menyelesaikan kalimatnya Barra sudah menarik tangan Elea memasuki mobil. Sementara Elea hanya terbengong menatap sang kekasih yang sepertinya sedang emosi itu.
" Siapa dia Ele?" Barra menunjukkan foto Elea dan Adrian di ponsel Barra,sepertinya foto itu diambil saat Elea berada di bengkel mobil tadi.
" Kenapa kau bisa satu mobil dengan pria lain Elea??" belum sempat Elea menjawab Barra sudah mengajukan pertanyaan lain.
" Bukankah seharusnya kau mengantar kak Bian?kenapa kau bersama pria ini??" lagi-lagi Barra mengajukan pertanyaan sebelum Elena menjawab. Karena setahu Barra tadi pagi saat berkirim pesan Elea sedang perjalanan menuju bandara untuk mengantar Bian,namun kenapa gadisnya itu malah berakhir dengan pria lain??.
" Sudah bolehkan aku menjawab??" dengan tenang Elea mengucapkan kalimatnya setelah melihat Barra mulai terdiam dan mulai tenang.
" Dia adalah Adrian,dokter yang menangani aku saat aku dirawat,dan kenapa aku bisa berakhir dengannya,karena ban mobilku kempes,kebetulan dokter Adrian lewat dan menawarkan untuk mengantar,karena kak Bian juga terburu-buru maka kita setuju untuk diantar dokter Adrian " satu persatu Elea menjawab rentetan pertanyaan Barra,namun sepertinya pria itu tidak puas dengan jawaban Elea.
" Kenapa kau tidak menelpon ku?aku bisa mengantar kalian ke bandara bukan"
" Kau pikir kak Bian akan setuju??" Barra terdiam.
" Apakah kamu dan dokter itu cukup dekat sampai dia mau repot-repot mengantar kalian?"
" Tidak,kebetulan dokter Adrian adalah kekasih Delia,mungkin karena merasa aku adalah sahabat kekasihnya jadi dia merasa harus membantu " Barra kembali terdiam,sesaat kemudian ia meraih tubuh Elea dan membawanya dalam pelukannya. Hatinya merasa lega karena mendengar pria yang bernama Adrian itu ternyata kekasih dari Delia.
" Tapi tunggu dulu...dari mana kau dapat foto itu,kau mengikuti ku??" Elea mulai mengurai pelukan mereka.
" Aku...aku dapat dari..dari temanku yang kebetulan berada di bengkel itu " jawab Barra bohong,karena memang selama ini diam-diam Barra memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi Elea. Dan selama itu pula dia merasa aman karena Elea tidak pernah terlibat dengan pria lain yang mencurigakan.
" Apa sekarang kepercayaanmu padaku mulai berkurang?" Elea mengucapkannya dengan tatapan sendu pada sang kekasih
" Bukan seperti itu sayang,aku hanya takut saat melihatmu bersama pria lain " kini Barra menggenggam erat jemari Elea.
" Tidak ada pria lain,hanya Bataraku tercinta " ucap Elea membawa jemari Barra dan menangkupkan di pipinya. Jelas saja itu membuat hati Barra menghangat dan dipenuhi kebahagiaan. Membuatnya memeluk sang kekasih dengan erat.
" Berjanjilah sayang,hanya aku yang akan bersamamu " ucap Barra mengecup pucuk kepala Elea dan Elea hanya mengangguk menyetujui.
Sebenarnya selain sangat bahagia Barra juga merasa sangat bersalah saat ini. Karena tanpa sepengetahuan Elea dia sudah menduakan kekasihnya itu. Bergonta ganti pasangan untuk memuaskan hasrat biologisnya. Walaupun hanya tubuhnya yang mendua karena di hatinya tidak pernah ada cinta saat melakukan itu namun tetap saja jika Elea tahu sudah pasti wanita itu tidak akan menerimanya.
Suara perut Elea yang protes meminta diisi membuat Barra mengurai pelukannya.
" Kenapa kau tidak bilang sayang,,kita makan siang sekarang " ucap Barra segera menghidupkan mesin mobilnya.
" Tapi mobilku bagaimana? "
" Anak buahku yang akan mengurusnya " Barra segera tancap gas mencari tempat makan yang terdekat. Dia tidak mau kekasih tercintanya itu sampai kelaparan terlalu lama.
Sesampainya sebuah resto yang dirasa pass dengan keinginan kekasihnya,Barra segera memilih meja dan memesan makanan. Sekarang beberapa menu yang sudah dipesan Barra sudah dihidangkan dihadapan mereka.
" Kita hanya berdua,kenapa kau pesan sebanyak ini? " Banyaknya makanan yang dihidangkan pelayan membuat Elea terpana.
" Kau harus banyak makan sayang,sepertinya berat badanmu turun " Bara mengambilkan nasi untuk Elea dan menambahkan beberapa lauk,termasuk ayam dan udang yang terlihat menggoda.
" Tapi aku tak mungkin menghabiskan semuanya kan,mubadzir sayang "
" Sudahlah jangan bicara lagi,makanlah " Barra mengelus pucuk kepala Elea kemudian mengambil sendiri makanan untuknya.
Disela-sela menyantap makanannya Elea teringat sesuatu,ponselnya ia setting mode silent sejak meninggalkan bengkel tadi. Karena memang Elea tidak ingin terganggu notif apapun saat sedang menangani urusan tulis-menulisnya di editor.
Sekarang kakaknya pasti sudah sampai di Bali,dan dia harus memastikan kakaknya selamat sampai tujuan tanpa kendala apapun. Setelah dibuka ternyata banyak panggilan dan pesan dari Barra. Pantas saja kekasihnya itu datang menemuinya,karena pesan dan teleponnya tidak mendapat tanggapan.
" Apa kau sangat cemburu saat aku bersama dokter Adrian? " Elea tersenyum menggoda memperlihatkan banyaknya panggilan tak terjawab dari Barra.
" Kau masih bertanya " Barra sedikit kesal dengan pertanyaan Elea,tiba-tiba ingatannya tertuju pada saat anak buahnya mengirimkan foto Elea tadi pagi,dirinya bagai kebakaran jenggot dan langsung menghubungi sang kekasih. Namun bukannya penjelasan yang ia dapat tapi malah nada telepon yang tak diangkat.
" Tenang saja Bataraku aku tidak akan pernah macam-macam " ucap Elea mencubit pipi Barra.
Segera ia menelepon kakaknya memastikan kakaknya sudah sampai di Bali dengan aman dan selamat.
" Setelah ini kau mau kemana? " tanya Barra saat Elea mengakhiri panggilan teleponnya dengan Bian.
" Pulang,aku merasa ngantuk dan lelah,apalagi nanti sore aku masih ada janji lagi "
" Janji dengan siapa? " Barra mulai posesif dan curiga lagi.
" Dengan teman-temanku sayang,Irina Vania Delia kau tahu mereka kan "
Walaupun tidak mengenal baik sahabat-sahabat Elea tapi sedikit banyak ia tahu tentang tiga nama yang disebutkan Elea tadi. Dari cerita Elea Barra tahu tiga orang itulah teman yang dianggap Elea seperti saudara sendiri.
Setelah selesai dengan sesi makan siang Barra langsung mengantarkan Elea ke apartemen sesuai permintaan wanitanya. Dia juga harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang ia tinggalkan siang tadi.