
" Adrian hasil lab Elea sudah keluar,aku akan membawanya ke ruanganmu " Adrian membaca pesan text yang dikirimkan Liam padanya.
Sesaat Adrian berpikir kemudian mengetikkan sesuatu untu membalas pesan Liam.
" Bawa saja ke ruang perawatan Elea,aku akan menyusulmu kesana " Adrian memutuskan agar hasilnya diberikan pada Elea lebih dulu,bagaimana pun Elea lebih berhak tahu dari pada dirinya.
Segera saja Adrian melangkah pergi untuk menuju ruang perawatan Elea,ia berjalan cepat seirama detak jantungnya yang berdegup kian cepat pula. Ada perasaan takut,cemas dan setitik rasa haru yang membuncah dan bercampur dalam hatinya,perasaan takut jika Elea hamil dalam kondisi psikis yang seperti itu mungkin akan berdampak bagi kesehatan janin dan juga Elea sendiri. Rasa cemas bila Elea memang hamil tapi dia tetap menolak pertanggung jawabannya dan malah pergi menjauh darinya. Dan perasaan haru nan bahagia hadir dihatinya membayangkan ternyata benihnya darah dagingnya kini sedang mencoba tumbuh di dalam rahim wanita yang ia dambakan selama ini.
Setelah sampai di depan ruang perawatan Elea Adrian terdiam sejenak dengan tangan yang sudah memegang handle pintu. Ada sedikit perasaan ragu yang tiba-tiba dia rasakan.
" Bagaimana jika Elea menolakku kembali? " batin Adrian menatap handle pintu yang masih ia pegang. Namun setelah beberapa saat berfikir akhirnya Adrian berani memutar handle pintu dan perlahan membukanya,ia pun melangkah masuk walau masih ada perasaan ragu dalam hatinya.
Langkahnya terhenti tak jauh dari ranjang pasien dimana Elea terlihat menangis dalam pelukan Irina sembari memegang sebuah kertas di tangannya,disekitar ranjang terlihat dokter Liam dan dokter Alex yang saat ini memandang Adrian dengan tatapan simpatinya,dan disisi ranjang yang lain terlihat Bian tengah menatapnya pula,namun berbeda dengan tatapan dokter Liam dan dokter Alex,saat ini Bian menatap dirinya dengan tatapan tajam yang langsung menusuk ke relung hatinya.
Bian sebenarnya ingin menyerbu melampiaskan amarahnya pada Adrian,lelaki yang telah menghamili adiknya. Ya .. hasil tes lab menunjukkan bahwa kini Elea positif hamil dengan usia kandungan hampir tiga minggu. Dan sudah dapat dipastikan bahwa Adrianlah ayah dari janin kecil yang sedang mencoba tumbuh itu. Bian mengepalkan tangannya dengan erat,rahangnya pun mengeras menahan amarahnya,namun ia diam tak melakukan apapun,karena sebelumnya dokter Liam sudah meminta bahkan memohon kepada Bian untuk menahan emosinya,untuk menyelesaikan semuanya secara baik-baik tanpa adanya kekerasan sedikitpun,dan memohon pada Bian agar mengizinkan Adrian berbicara empat mata dengan Elea,agar masalah ini cepat selesai dengan keputusan terbaik yang mereka sepakati,semua demi kebaikan dan kesehatan Elea dan bayinya. Demi ketenangan dan kebaikan mereka semua.
Dokter Liam mendekati Adrian dan menepuk pelan pundaknya,menuntunnya sedikit menjauh dari yang lain.
" Bicaralah dengannya saat dia sudah tenang,kami akan meninggalkan kalian berdua " seketika dahi Adrian berkerut menatap dokter Liam.
" Bian tidak akan menolak atau melarang mu,setidaknya untuk saat ini " ucap dokter Liam seolah mengerti arti dari tatapan heran Adrian. Tanpa menunggu jawaban Adrian dokter Liam melangkah mendekati ranjang pasien,ia mengangguk pelang sembari menatap Irina dan dokter Alex secara bergantian,memberikan isyarat untuk keluar dan meninggalkan calon orang tua yang sama sekali tak sejalan itu. Irinapun mengerti maksud dokter Liam,ia perlahan mengurai pelukannya pada Elea,menghapus air mata sahabatnya itu kemudian dengan tatapan tulus ia mengangguk pelan tepat di depan wajah Elea.
" Semua akan baik-baik saja " ujarnya kembali menghapus sisa-sisa air mata di wajah Elea. Elea mengangguk menandakan dia siap menghadapi semuanya.
" Ayo kak Bian " ajak Irina menggandeng lengan Bian,walaupun awalnya ia menolak namun akhirnya ia pasrah saja saat Irina menariknya dengan paksa melangkah keluar diikuti dokter Liam dan dokter Alex.
Dan tinggallah mereka berdua dalam ruangan itu,hanya hening yang tersisa tak terdengar suara apapun kecuali denting jam dinding dan sesekali suara isakan Elea.
Adrian melangkah mendekat,menarik satu kursi tunggal untuk lebih dekat dengan ranjang Elea. Ia masih diam beberapa detik memperhatikan Elea yang menunduk seolah tak ingin menatapnya. Ada perasaan rindu luar biasa saat berada di dekat wanita tercintanya itu. Ingin rasanya memeluk mendekap tubuh rapuhnya,namun sekuat tenaga ia tahan ia tak mau Elea lebih membencinya karena hal itu.
" Elea aku .. aku .. maafkan aku " dengan terbata Adrian menyuarakan kalimatnya. Hening tak ada jawaban,Elea masih menundukkan pandangannya seakan tak ingin melihat ayah dari bayi yang kini tumbuh di rahimnya,kedua jemarinya terjalin dan saling meremas merasa tak nyaman dengan keadaanya saat ini.
" Aku tahu kamu tidak menginginkan kehamilan ini,dan aku ,, aku tidak akan memaksamu mempertahankannya " Adrian mengakhiri kalimatnya dengan rasa sakit luar bisa di hatinya menyadari konsekuensi dari kalimat yang baru saja dia ucapkan. Seketika pandangan Elea terangkat menatap lelaki yang kini juga sedang memandangnya dengan tatapan teduh nan tulus.