One Night With You

One Night With You
PART 59



Siang ini Elea kembali mual dan muntah semua yang ia makan bahkan terasa pahit dan tidak dapat diterima oleh lambungnya. Dokter Liam pun kini sudah selesai memeriksa kondisi Elea yang terlihat pucat dan lemas.


' Sepertinya dugaanku memang benar ' batin dokter Liam seraya menatap nanar pada Elea.


" Ada apa dengannya dokter?mungkinkah ada infeksi di lambungnya,karena jika dia makan selalu memuntahkannya kembali " ungkap Bian mendekati dokter Liam. Liam sendiri bingung bagaimana harus memulainya,jika saja kehamilan ini adalah kasus pada ibu hamil pada umumnya maka dengan senang hati ia akan memberitakan kabar bahagia ini,tapi ini sangat berbeda.


" Kenapa diam dokter,ada apa denganku? " tanya Elea memastikan.


" Nona Elea bolehkan aku bertanya,mungkin ini agak sensitif tapi ini demi kejelasan diagnosamu " Elea hanya mengangguk menanggapi ucapan dokter Liam.


" Kapan terakhir kali kau mengalami menstruasi? "


Degg


Baru mendengar pertanyaan dokter Liam saja Elea sudah tahu kemana arah pembicaraan mereka. Sementara Bian hanya diam menatap Elea dan dokter Liam secara bergantian,jujur saja ia masih bingung memahami maksud dari dokter Liam.


' Terakhir kali adalah beberapa hari sebelum pertunangan Vania,dan di hari itu ... ' batin Elea mengingat periode bulanannya dan mungkin saja kondisinya ini karena dia sedang hamil. Seketika kedua matanya mulai berkaca-kaca. Membayangkan malam kelam itu kini membuahkan hasil di rahimnya.


" Dokter Liam .. mungkinkah aku .. ?? " setetes air mata menetes dari pelupuk matanya.


" Kita harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikannya " jawab Liam dengan setenang mungkin.


" Sebenarnya ada apa dokter Liam?ada apa dengannya? " tanya Bian yang masih belum mengerti. Dokter Liam menariknya agak menjauh dari Elea yang mulai terisak dalam tangisnya.


" Tuan Bian,,diagnosa awal saya nona Elea sedang hamil " ucapan dokter Liam bagai sambaran petir untuk Bian.


" Tapi aku belum bisa memastikan,aku akan meminta dokter obgyn untuk melakukan tes darah agak hasilnya lebih tepat dan akurat " ucap dokter Liam kembali,namun Bian seakan tak mendengar dan larut dalam pikirannya sendiri. Sesaat kemudian pandangannya teralih pada Elea yang masih menangis.


" Dimana pria brengsek itu? " tanya Bian dengan kilatan emosi kembali terlihat di matanya.


" Apa maksud anda tuan Bian? "


" Dimana Adrian sekarang?!! " sentak Bian dengan mencengkeram kerah dokter Liam. Mau tidak mau dokter Liam memberitahukan dimana ruang kerja Adrian,dan sudah pasti sahabatnya itu sedang ada disana. Bukan karena dokter Liam takut dengan kemarahan Bian,namun masalah ini harus memang diselesaikan secepatnya,dengan baik-baik ataupun dengan kekerasan bila perlu.


Dengan rahang mengeras dan mata dipenuhi kilatan emosi Bian segera berjalan keluar dari ruangan itu,namun saat membuka pintu ia langsung berhadapan dengan Irina yang baru saja tiba.


" Kak Bian? " Irina tersentak kaget,apalagi melihat guratan kemarahan di wajah Bian. Tanpa menjawab Irina Bian segera melangkah pergi. Mendengar kemungkinan kehamilan Elea membuat kebencian Bian pada Adrian meningkat beribu kali lipat.


" Irina kau jagalah Elea,sepertinya akan terjadi badai besar " ucap dokter Liam tergesa dan langsung menyusul Bian yang berjalan cepat dan sudah jauh darinya.


" Badai?? " Irina yang masih bingung memilih mendekati Elea dari pada mengikuti dua pria yang bersikap aneh itu.


" Ele?? ada apa denganmu? " Elea tak menjawab dan Irina langsung memeluknya walau masih bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.


Brakk ..


Suar pintu dibuka dengan keras dan kasar,terlihat Adrian yang tengah menerima telepon tersentak kaget melihat siapa yang baru saja membuka pintu ruangannya. Bian langsung menghampiri Adrian dan dengan cepat melabuhkan pukulannya tepat di rahang Adrian,membuat luka lebam yang belum memudar itu mungkin akan kembali membiru.


" Bian kau .. " belum sempat Adrian mengucapkan kalimatnya,Bian sudah berhasil mendaratkan pukulan kedua hingga membuat hidung Adrian mengeluarkan darah,walaupun tidak terlalu banyak.


" Ya Tuhan ... " sentak dokter Liam yang baru saja tiba,ia langsung memisahkan dua pria itu.


" Bisakah diselesaikan dengan baik-baik? " seru dokter Liam menengahi Adrian dan Bian.


" Apa aku harus bersikap baik dengan lelaki bejat seperti dia?! " tatapan emosi itu kini tertuju pada dokter Liam.


" Tuan Bian,,saya tahu anda emosi tapi memukulinya atau bahkan membunuhnya tidak akan menyelesaikan masalah " Bian terdiam,memang benar apa yang dikatakan dokter Liam,tapi dia tidak bisa menahan emosinya yang meluap.


" Tenangkan diri kalian dan bicarakan semuanya dengan kepala dingin "


" Kepala dingin kau bilang?! apa kau mempunyai adik yang diperkosa dan sekarang hamil dengan kondisinya yang menyedihkan?!! " refleks tatapan Adrian langsung tertuju pada Liam sahabatnya.


" Kita belum tahu apakah nona Elea benar-benar hamil tuan Bian,kita harus memastikan dengan .. "


" Persetan dengan pemeriksan-pemeriksaan yang kau bilang!! " Bian kembali berusaha menyerang Adrian,namun dokter Liam segera menghentikannya.


" Tuan Bian!!anda mau adikmu hamil tanpa suami?! " dokter Liam merasa frustasi dengan emosi Bian dan kata-kata itulah yang tiba-tiba saja keluar dari mulutnya. Nyatanya perkataan dokter Liam berhasil menghentikan Bian,walaupun tatapannya masih dipenuhi amarah.


Hening membentang,merekapun kini duduk dengan sisi yang berbeda. Adrian dan Bian duduk berhadapan dengan dibatasi meja didepan keduanya,sementara dokter Liam duduk di sofa yang terletak diantara kedua pria itu.


" Aku akan bertanggung jawab " desis Adrian tanpa ragu sedikitpun.


" Ck .. Apakah hanya itu yang bisa kau ucapkan? " Bian berdecak merasa konyol dengan ucapan Adrian.


" Lalu aku harus bagaimana Bian?kau ingin aku mengembalikan keperawanannya? " tanya Adrian yang tiba-tiba merasa kesal dengan sikap Bian.


" Apa kau bilang?!! "Bian seketika berdiri mendengar pertanyaan Adrian yang sudah pasti jawabannya Tidak .


" Adrian!! bisakah kau tidak memancing kemarahannya?! " sentak dokter Liam kembali memegangi Bian,sementara Adrian hanya diam,begitupun dengan Bian yang kembali duduk.


" Sebaiknya kita melakukan tes darah terlebih dahulu untuk memastikan kehamilan Elea,jika sudah pasti hasilnya baru kalian dibicarakan langkah selanjutnya " usul dokter Liam menatap Adrian dan Bian secara bergantian,Adrian dan Bian masih diam salin menatap.


" Aku akan meminta dokter Alex melakukan tes darah agar hasilnya lebih akurat " dokter Liam berdiri menatap kedua pria yang masih diam itu secara bergantian.


" Jangan sampai saling membunuh saat aku tinggalkan " tambah dokter Liam kemudian pergi meninggalkan dua pria itu