
Tak terasa hari pernikahan Vania telah tiba,pagi tadi akad nikah sudah dilangsungkan dengan khidmat disebuah ballroom hotel mewah di pusat kota ini. Walau hatinya membuncah bahagia luar biasa namun ada sedikit kesedihan yang mengganjal disudut hatinya,yaitu ketidakhadiran dua sahabatnya yaitu Delia dan Elea. Vania memang sudah tahu semua cerita tentang kejadian rumit yang menimpa mereka berdua,Irina sudah menceritakan semuanya sebelum hari pernikahan Vania datang,biar bagaimana pun Vania pasti akan tahu semuanya,dan akan lebih baik jika Vania tahu lebih cepat.
Berbeda dengan Irina yang merasa simpati dengan Elea,Vania malah merasa simpati dan tidak tega dengan Delia,dia menganggap hal yang terjadi dengan Adrian dan Elea pasti sangat mengguncang batin Delia hingga membuat artis cantik itu menghilang entah kemana.Irina sedikit kecewa dengan reaksi Vania,seolah sahabatnya yang satu itu tidak merasakan kepedihan yang juga dialami Elea. irina mengerti Delia juga hancur tapi di sisi lain Elea juga menderita dengan apa yang ia alami. Namun Irina tak dapat memaksakan apa yang ia rasakan juga harus sama dengan yang Vania rasakan,yang terpenting Vania sudah tahu masalahnya dan akan memaklumi ketidakhadiran semuanya.
" Ele berjanji malam nanti akan datang " ucap Irina yang melihat wajah murung sang pengantin wanita.
" Harusnya kalian bertiga ada disini ikut bahagia bersamaku " lirihnya dengan genangan air mata yang hampir menetes.
" It's okay .. semua akan kembali seperti semula " jawab Irina kemudian memeluk Vania. Walau lisannya berkata seperti itu namun hati Irina tidak yakin semuanya akan baik-baik saja setelah ini,terutama untuk persahabatan mereka.
Malam yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba,malam dimana resepsi pernikahan Vania dilangsungkan. Kedua mempelai tengah berdansa romantis di atas panggung dengan diiringi musik romantis pula,sang mempelai pria tampak gagah dengan setelan jas tiga lapis warna hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu. Dan mempelai wanita tampak sangat cantik nan anggun dengan gaun putih tulang yang dihiasi dengan manis berkilau yang begitu elegan dan menawan.
" Kau tidak apa-apa Ele? " tanya Irina yang khawatir melihat wajah risau Elea,bahkan di dahinya mengeluarkan keringat. Tapi Elea hanya menggeleng dan mengukir senyum kaku di wajahnya.
' Apakah dia masih trauma? ' batin Irina sembari masih melihat ekspresi wajah Elea yang tampak tegang. Sesekali ia mencoba tersenyum saat menyadari Irina yang memperhatikan dirinya.
Setelah kejadian malam itu baru kali inilah Elea berani keluar dan bertemu orang lain,ada rasa takut dan cemas yang entah kenapa ia rasakan. bagaimanapun kejadian malam itu terjadi setelah dirinya menghadiri pesta Vania,dan kali ini dirinya berada di situasi yang hampir sama.
" Ele .. bisakah kita bicara? " ucap seorang pria yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Elea,pria itu adalah Barra,ya Barra memang mengikuti Elea sejak keluar dari area apartemennya. Sudah lama ia menunggu kesempatan keluarnya Elea dari apartemennya agar dapat diam-diam menemui mantan kekasihnya itu. Dan setelah beberapa hari akhirnya malam ini Elea keluar dan tanpa ada Bian bersamanya.
" Barra .. ?! " Elea melonjak kaget dan reflek langsung berdiri dari posisi duduknya.
" Barra sedang apa kau disini? " Irina pun tak kalah kaget dan juga ikut berdiri.
" Ada sesuatu yang sangat penting yang akan ... " belum sempat Barra menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba saja seseorang menarik tangan Elea dan menyeretnya menjauh,Elea sendiri kaget dengan kejadian itu namun tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa tertatih mengikuti langkah seseorang yang ia tahu adalah Delia,ya Delia sahabatnya.
" Delia??benarkah itu tadi Delia? " karena sangat tiba-tiba Irina tidak terlalu yakin siapa sosok perempuan yang menarik tangan Elea.
" Gawat kalau sampai benar itu adalah Delia " seru Irina kemudian dengan cepat mengikuti kemana perginya Elea dan Delia tadi. Barra yang tidak tahu apa-apa mau tidak mau juga ikut berjalan cepat mengikuti Irina.
Plakk ...
Suara tamparan terdengar nyaring saat dengan kasar dan emosi tangan Delia menampar pipi kanan Elea. Disebuah sudut sepi yang lumayan jauh dari kerumunan pesta Delia berhasil menumpahkan kemarahannya dengan menampar sahabatnya sendiri. Elea sendiri hanya dapat diam sembari menangkup pipinya yang terasa panas dan pasti meninggalkan bekas merah itu. Elea tahu alasan Delia melakukan ini,dan dia hanya pasrah menerima kemarahan Delia.