One Night With You

One Night With You
Terbongkar



Setelah selesai bertemu dengan Max Adrian memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Ya dia bertemu Max untuk membahas tentang pencarian pelayan suruhan Delia. Setelah beberapa hari menemui titik buntu akhirnya pelayan itu dapat ditemukan dan segera dibekuk hanya menunggu perintah Adrian. Dan besuk sudah dipastikan pelayan itu akan mempertanggungjawabkan kesalahannya.


Adrian membuka layar ponselnya untuk menghubungi Elea namun tak pernah diangkat. Dia juga memberitahukan tentang pelayannya yang turut serta menjebaknya namun tak dapat respon dari Elea,bahkan wanita itu tidak membaca pesannya.


" Dari mana sajau kau...?? " Adrian tersentak kaget saat mendapati Delia sudah duduk diruang tamunya,sembari bersedekap dengan wajah dingin.


Adrian hanya mendesah kesal melihat Delia disana,seperti biasanya mantan kekasihnya itu selalu keluar masuk apartemennya tanpa izin. Sepertinya Adrian harus mengganti sandi pintu apartemennya,atau mungkin lebih baik pindah saja dari tempat itu.


" Kenapa diam??aku bertanya padamu honey " Delia bangkit dan mendekati Adrian. Hampir saja ia bergelayut manja di lengan leia itu namun segera ditangkis oleh Adrian.


" Don't call me like that..again.."


" Why?? "


" Karena kita memang sudah selesai Delia..cukup sekarang tolong tinggal.. "


" Apa karena ini? " belum selesai Adrian berucap namun Delia segera memotong kalimatnya sembari menunjukkan layar ponselnya dengan video dirinya yang tengah membopong Elea keluar dari sebuah hotel.


" Kau..dari mana kau dapat video itu? " Adrian berusaha meraih ponsel Delia namun ditangkis oleh wanita itu.


Dari mana Delia mendapatkan video cctv itu?


Sejak kapan ia memilikinya?


Apakah ia tahu yang terjadi malam itu?


Pertanyaan-pertanyaan itu mulai memenuhi otak Adrian,membuat matanya terpejam dan tangannya memijit pangkal hidung karena serangan kesal dan pening yang datang bersamaan.


" Jadi malam itu kalian bersama? pantas saja kau bersikukuh berpisah denganku Adrian " belum sempat Adrian menjawab Delia sudah mendaratkan tangannya di pipi Adrian,yah..mantan kekasihnya itu menamparnya.


" Kenapa harus Elea??kenapa harus sahabatku?? " teriak Delian bersamaan dengan tangisannya yang mulai pecah. Sementara Adrian hanya diam,semua kata seolah tercekat tak mampu keluar dari kerongkongannya. Dia kesal karena secara tidak langsung malam itu terjadi karena ulah Delia juga,tapi dia juga merasa bersalah pada Delia. Bagaimanapun Delia pasti merasa sangat hancur mengetahui dirinya menghabiskan malam bersama sahabatnya sendiri.


" Ya... aku memang busuk,jadi bisalah sekarang kau benar-benar meninggalkanku? " Adrian menjawab pertanyaan Delia dengan sebuah pertanyaan yang terdengar konyol ditelinga Delia.


Plakkk sebuah tamparan kembali dilayangkan Delia di pipi Adrian. Adrian hanya diam kemudian menyunggingkan senyum ironi diwajahnya.


" Jangan hanya emosi dan menyalahkan ku Delia,andai kau tidak membubuhkan obat sialan itu di minumanku tentu kejadiannya tidak akan seperti ini " sontak pernyataan Adrian membuat dahi Delia berkerut dam menatap heran kearah Adrian. Ya..dirinya memang melakukannya tapi bagaiman Adrian tahu?? begitulah yang dipikirkan Delia.


" Apa kau bilang?? " tanya Delia memastikan aoa yang baru saja ia dengar.


" Ya..Delia aku sudah tahu semuanya,aku juga tahu kau memaksa pelayan itu untuk pergi sejauh mungkin agar rahasiamu tidak terbongkar " belum reda keterkejutan Delia,kini Adrian malam menambahkan pernyataan yang semakin membuatkan terpukul mundur.


" Jadi jika kau ingin marah dan menyalahkan seseorang maka dirimu juga turut bersalah..yah.. walaupun aku juga sangat bersalah dengan menjadikan Elea sebagai pelampiasanku malam itu "


" Cukup Adrian...cukup!!! " Delia tersentak emosi sembari menutup kedua telinganya. Apa yang diucapkan Adrian memang sangat menyakitinya walau itu kebenaran,namun membayangkan Adrian menghabiskan malam dengan begitu intim dengan Elea lebih perih dan sakit diterimanya.


" Ternyata selama ini aku menyayangi dua makhluk kotor seperti kalian " kilatan emosi dan amarah terlihat sangat jelas di mata sembab Delia.


" Elea tidak bersalah..dia hanya korban ambisimu dan kebodohanku " ucap Adrian mencengkram pundak Delia,dia mungkin akan terima bila Delia mengutus dan memakinya namun dia tidak akan diam mendengar Delia memaki dan merendahkan Elea,bagaimanapun Elea juga sangat menderita karena semua ini.


" Lihatlah...kau bahkan membelanya.." Delia tersenyum ironi.


" Apa karena tubuhnya sangat memuaskanmu?? "


"Cukup Delia!!! " Adrian hampir menampar Delia namun Adrian masih bisa menguasai dirinya. Seburuk apapun ucapan Delia ia tetap tidak akan melakukan kekerasan pada seorang wanita.


" Keluar...keluar dari sini dan jangan pernah memasuki tempat ini lagi " Adrian mengusir Delia karena tidak mau lebih terpancing lagi jika terus berdebat dengan mantannya itu .


" Aku juga tidak sudi berlama-lama dekat dengan pria kotor sepertimu " dengan penuh amarah Delia menghentakkan kakinya meninggalkan apartemen Adrian. Adrian sendiri langsung duduk dan mengusap kasar wajahnya,mencoba menetralkan dirinya dan tidak dikuasai emosi.