
Bian berjalan cepat dengan langkah lebar menuju baseman tempat dimana ia memarkirkan mobilnya,ia ingin segera menghantamkan tinjunya pada Adrian,namun sebelum ia mencapai mobilnya yang hanya tinggal beberapa langkah,sesosok lelaki yang sangat ingin ia temui mendadak keluar dari mobil. Pria itu melihatnya dari kejauhan wajahnya terlihat kaku dengan senyum yang dipaksakan. Pria itu adalah Adrian yang baru saja datang untuk menemui Elea. Nasibnya kali ini akan lebih apes dari hari-hari kemarin,jika kemarin-kemarin dia hanya gagal bertemu Elea maka hari ini sudah dipastikan wajahnya akan penuh dengan kuka lebam dari pukulan Bian. Dengan tangan yang terkepal kuat Bian mendekati Adrian,dan ...
Bughh..
Satu pukulan keras mendarat di pipi kiri Adrian,karena tiba-tiba pukulan dari Bian sukses membuat Adrian jatuh terjungkal. Bahkan rembesan darah segar terlihat keluar dari sudut bibir Adrian. Tak puas menjatuhkan Adrian dengan sekali pukulan Bian mencengkram kerah Adrian kemudian menghantamkan pukulannya sekali lagi,kali ini mengenai bagian tulang pipi Adrian. Dan pukulan-pukulan lainnya kembali Bian hadiahkan untuk pemerkosa adiknya itu,hingga membuat hiding Adrian kini mengeluarkan darah.
Merasakan Bian yang seperti kesetanan memukuli dirinya Adrian hanya diam saja,ia tahu apa yang membuat teman masa SMP nya ini begitu murka pada dirinya. Adrian hanya diam menerima setiap pukulan Bian padanya,di dadanya,di perutnya,bahkan wajahnya sudah bonyok dengan memar dan darah hampir memenuhi wajah tampannya.
Irina yang semula ingin mengambil sesuatu di dalam mobilnya dikagetkan dengan pemandangan yang ia lihat,Bian yang seharusnya masih sibuk dengan pekerjaannya kini tengah memukuli Adrian dengan membabi buta.
" Kak Bian ... !!! " teriak Irina berlari menuju dua pria itu. Dengan sekuat tenaga Irina mencoba memisahkan mereka,ditariknya lengan Bian dengan susah payah hingga Bian kin melepas Adrian yang dari tadi dicengkeram dan dihajarnya habis-habisan.
Sementara Adrian masih terlentang pasrah dengan seluruh tubuhnya yang terasa sakit tak karuan,pandangannya masih kabur tatkala melihat langit-langit baseman tempat parkir. Padahal ini siang hari namun tak ada satu orang pun disana yang dapat melerai mereka berdua. Bahkan security yang harusnya berjaga pun tidak terlihat sama sekali.
Untung saja ada Irina yang tak sengaja berada dilantai baseman,kalau tidak mungkin Adrian sudah tinggal nama,dan Bianlah tersangka pembunuhannya. Namun walau sudah begitu Bian seakan tak puas dengan semua pukulannya pada Adrian,pengacara muda nan tampan itu tetap meronta ingin kembali mencengkram mangsanya yang sudah terkulai tak berdaya. Irina harus mengerahkan semua tenaganya agar Bian tetap aman terkendali dalam dekapan tangannya.
" Lepaskan Irina ... aku akan membunuh lelaki bangs*t itu " Bian kembali meronta menarik lengannya,dan Irina tetap mempertahankan Bian agar tidak lepas kendali.
" Jangan macam-macam kak Bian ... kau bisa dipenjara "
" Persetan dengan penjara " Bian melepas cengkraman tangan Irina di lengannya,tapi kini dia tidak kembali memukul Adrian,bukan karena dia takut dipenjara tapi karena melihat pria itu hanya diam dan tidak membalasnya.
Sementara Adrian yang sudah mendapatkan sedikit kekuatannya kini mencoba bangkit walaupun hanya bisa duduk,kedua tangannya bertumpu pada lutut,sesekali ia mencoba menghapus darah yang mengalir dari hidung dan sudut bibirnya. Irina yang sedikit merasa iba mendekati Adrian.
" Pergilah Adrian atau kau akan mati di tangan kak Bian " ucap Irina sangat pelan sambil berjongkok di depan Adrian.
" Aku baik-baik saja Irina " desis Adrian yang kemudian tertatih mencoba berdiri. Dengan langkah gontai ia memaksa kakinya melangkah mendekati Bian.