
Empat hari sudah setelah kejadian makan malam gagal yang terjadi diapartemen Delia. Sejak malam itu pula Adrian dan dirinya belum juga bertemu,selain Delia yang sibuk dengan jadwal syuting yang padat Adrian juga sering beralasan saat Delia ingin menemuinya. Selain itu Rio juga protektif sekali kepadanya menuntut Delia untuk selalu fokus pada karir dan mengesampingkan urusan yang lainnya termasuk hubungannya dengan Adrian. Mengingat bagaimana susah payahnya mereka berdua meniti karir didunia entertainment membuat Rio harus menjaga posisi Delia sekarang,dimana artisnya itu tengah naik daun. Pagi ini juga sama sudah beberapa kali dia mencoba menghubungi Adrian namun nada panggilannya tetap sibuk.
" Pasti Adrian lagi " ucap Rio yang tiba-tiba sudah berdiri menyenderkan tubuhnya pada pintu disamping Delia. Sementara Delia hanya terdiam tanpa mau menjawab managernya itu.
"Come on Delia,kapan kau akan sadar kalau Adrian sudah tidak mencintaimu,banyak lelaki lain yang rela antri menunggumu kenapa kau harus menjatuhkan harga dirimu dengan mengejar dokter itu "
" Karena aku sakit Rio dan hanya Adrian yang dapat menyembuhkanku " ujar Delia asal saja kemudian berlalu meninggalkan Rio,dia tidak mau berdebat dengan managernya itu.
" Hey...kau mau kemana??siang nanti kau harus menghadiri talk show " teriak Rio karena Delia sudah tak terlihat olehnya. Delia sendiri memilih pergi meninggalkan lokasi syuting. Tujuannya kini adalah rumah sakit tempat Adrian bekerja.
" Bila kau menjauhiku maka aku kan mendekat dan tetus mengejarmu Adrian " batin Delia ketika sudah sampai di area parkir rumah sakit .
Sementara diruang praktik,Adrian kini tengah memeriksa pasiennya dia adalah Elea yang datang untuk mengontrolkan kesehatan matanya.
" Mataku sudah baik-baik saja kan dok,jadi aku sudah boleh kembali menulis bukan "
" Saranku masih tetap sama, jangan terlalu lama didepan layar komputer "
" Ada sesuatu yang harus kau tanda tangani nona Elea ..." ucap sang dokter dengan mimik wajah serius,bahkan senyum ramah diwajahnya tiba-tiba menghilang. Perubahan ekspresi itupun disadari oleh Elea.
" Apa ada yang belum aku ketahui dokter?apakah ini menyangkut kesehatan mataku " balas Elea dengan raut wajah yang serius pula.
" Kau harus siap dan harus menandatanganinya " ucapan sang dokter membuat rasa penasaran Elea semakin menjadi -jadi,kemudian Adrian menyodorkan sebuah bungkusan yang berbentuk buku.
" Bukalah..."
Dengan cepat Elea membukanya berharap bungkusan itu bukanlah sesuatu yang menyangkut kesehatan matanya. Namun netranya tiba-tiba membola dan senyum pun terukir diwajahnya.
" Apa maksudnya dokter ??" Elea menunjukkan isi dari bungkusan tadi yang merupakan salah satu novel terbarunya .
" Tanda tanganilah,aku susah payah mendapatkannya akan lebih bagus kalau ada tanda tangan penulisnya " Adrian tersenyum,dia memang penggemar karya-karya Elea jauh sebelum mereka bertemu.
Namun belum sempat Elea menandatangi novel itu,pintu ruangan tiba-tiba dibuka kasar dan masuklah Delia yang diikuti suster.
" Delia...Elea..." Delia dan Elea bersamaan menyebutkan nama masing-masing.
" Maaf dokter saya sudah mengatakan kalau dokter Adrian sedang ada pasien tapi nona ini tetap memaksa masuk " raut wajah suster itu menunjukkan rasa bersalah pada Adrian namun berubah menjadi kekesalahn saat menatap Delia.
" Sedang apa kau disini Ele?" Delia tak menghiraukan suster itu,yang jadi perhatianya kini justrus Elea. Karena saat ia masuk tadi jelas ia melihat senyum manis antar dua orang yang ia tahu tak pernah kenal itu.
" Nona Elea adalah pasienku " Adrian mencoba tenang saat menjawabnya walaupun sebenarnya ia merasa marah dan kesal karena Delia tanpa izin sudah menerobos masuk ruang periksanya.
" Dan kau Delia apa kau juga pasien dokter Adrian ?"
" Yaa...Tidak.." jawab Delia dan Adrian bersamaan namun dengan jawaban yang berbeda. Adrian mengatakan iya namun Delia mengatakan Tidak.
" Adrian kau..." sentak Delia yang jelas tak terima dengan jawaban Adrian. Sementara Elea hanya terbengong melihat Adrian dan Delia secara bergantian.
" Nona Elea sepertinya pemeriksaanmu sudah selesai,kau bisa menghubungiku lagi kalau ada sesuatu yang kau rasakan pada penglihatanmu " ujar Adrian dan dengan sigap Elea mengerti maksud dokter muda itu.
" Baiklah terimakasih dokter Adrian " setelah menjabat tangan dokter Adrian Elea lantas bergegas meninggalkan ruangan .
" Ada hubungan apa kau dengan Ele? " Delia kini duduk didepan Adrian,karena jawaban Adrian tadi membuat Delia curiga. Kenapa kekasihnya itu tidak mengakuinya didepan Elea.
" Sudah jelas bukan nona Elea adalah pasienku,sebelumnya beliau dirawat disini dan hari ini jadwal kontrolnya "
" Tapi kenapa kau tak mengakuiku didepannya?"
" Karena aku memang tidak suka mencampurkan urusan pribadi dan pekerjaan "
" Mencampurkan??apa mengakui statusku didepan pasienmu termasuk mencampurkan urusan pribadi??"
" Sudahlah Delia..aku masih ada pasien,jadi cepat katakan untuk apa kau kesini "
" Tentu saja untuk menemuimu...kau tidak mengangkat teleponku pesanku hanya kau baca tanpa kau balas,apakah kau masih marah " sikap Delia mulai melunak,kini ia beranikan diri menggenggam tangan Adrian.
" Bisa kita bahas nanti..masih banyak pasienku yang menunggu "
" Baiklah nanti malam aku free,bagaimana kalau dinner diluar?kau yang menentukan tempatnya " senyum Delia mulai mengembang dia yakin hubungannya dengan Adrian bisa segera membaik.
" Aku akan menelfonmu nanti "
" Okee...bye..honey.." Delia mengecup pipi Adrian kemudian berlalu meninggalkan ruangannya. Hatinya berbunga ketika meninggalkan rumah sakit. Bahkan dia dengan senang hati melayani seorang fans yang kebetulan meminta foto dengannya.
Dan saat sampai diarea parkir tak sengaja Delia melihat Elea yang hampir memasuki mobilnya.
" Ele..." panggilnya dari kejauhan seraya melambaikan tangan. Segera ia menghampiri Elea saat gadis itu menyadari panggilannya.
" Kau masih disini?? "
" Ehemm...ada beberapa obat yang harus kuambil dan butuh waktu lumayan lama "
" Jadi kau benar-benar pasien Adrian? " Delia kembali memastikan bahwa Elea dan Adrian tidak ada hubungan lainnya.
" Tentu saja..memangnya kenapa...atau jangan-jangan..." Elea mulai menatap intens Delia,senyumnya menunjukkan penyelidikan pada sahabatnya sejak kuliah itu.
" Jangan-jangan apa..."
" Kau yang punya hubungan dengan doktet Adrian kann...kenapa tak memberitahuku " Elea menyenggol bahu Delia. Sementara Delia hanya tersenyum malu-malu.
" Dia adalah hidupku Elea "
" Aku percaya..mengingat bagaimana tatapanmu padaku tadi " walaupun tidak diungkapkan namun Elea tahu bahwa Delia sempat kaget dan cemburu saat melihat Adrian dan dirinya tengah berada diruang sama sebelumnya.
" Maafkan aku untuk yang tadi,dann maafkan aku yang bahkan tidak tahu kau pernah sakit sampai dirawat " Elea hanya tersenyum kemudian dua orang sahabat itu saling berpelukan. Rasanya sudah lama mereka tidak sedekat ini,karena kesibukan masing-masing membuat mereka jarang berkomunikasi atau bahkan bertemu.
Apalagi setelah adanya scandal Delia dengan seorang pengusaha membuat Rio lebih protektif dan membatasi Delia untuk bertemu dengan teman-temannya.
" Baiklah aku harus kembali kelokasi syuting,lain kali kita harus bertemu bersama Vania dan Irina "
" Tentu saja kau harus menceritakan tentang dokter yang kau sebut hidupmu itu " ucap Elea yang sukses membuat pipi Delia bersemu merah. Merekapun berpisah kembali ke rutinitas masing-masing.