
Adrian memutuskan untuk masuk ke dalam ruang perawatan Elea setelah meminta dokter Liam untuk mengantar Irina pulang,bagaimana pun ini sudah tengah malam dan Adrian merasa kasihan kepada Irina bila harus pulang sendiri. Awalnya Irina ingin menginap dan menunggu Elea tapi Adrian melarangnya dan bersikeras untuk menunggu Elea sendiri. Lagi pula sebentar lagi Bian pasti juga datang jadi Irina tidak perlu mencemaskan Elea,begitulah yang dikatakan Adrian untuk membujuk Irina agar mau pulang bersama dokter Liam.
Sebenarnya selain Irina khawatir pada Elea,Irina juga merasa khawatir pada Adrian dan Bian jika mereka bertemu lagi,masih jelas dalam ingatan Irina bagaimana Bian yang sangat emosi memukuli Adrian tanpa ampun. Dan kali ini saat mendapati adiknya dengan kondisi seperti itu bukan tidak mungkin kalau Bian kembali emosi dan memukuli Adrian lagi. Tapi karena dipaksa oleh Adrian dan dokter Liam yang sudah pasti berpihak pada Adrian akhirnya Irina terpaksa menyetujuinya dan pulang bersama dokter Liam. Lagi pula walaupun sangat membenci Adrian Bian pasti tidak akan sampai membunuhnya.
Adrian seperti merasakan dejavu saat menatap wajah pucat Elea yang terbaring di ranjang pasien. Malam ini rasanya seperti malam dimana dirinya telah memporak-porandakan hidup Elea hingga wanita itu memilih untuk mengakhiri hidupnya. Dan di malam ini pula wajah pucat itu kembali ia lihat dihadapannya dengan semburat warna kemerahan bekas tamparan,Adrian yakin itu berasal dari tamparan Delia,sungguh Adrian sangat menyesali kebodohannya malam itu. Malam yang telah membuat Elea hancur dan sekarang bahkan sahabatnya tega menamparnya dan merendahkannya.
" Maafkan aku Elea " gumamnya sembari mendekap dadanya yang terasa sesak setiap tarikan di setiap tarikan nafas.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan tak lama Bian berjalan memasuki ruangan. Tatapannya begitu dingin menguarkan kilat permusuhan dan kebencian disana. Sekuat tenaga Bian menahan emosinya,dirinya ingin segera menyerbu memukul lelaki di depannya ini,namun keadaannya Elea yang terbaring lemah diatas ranjang membuat Bian mengurungkan niatnya.
" Keluar " hanya satu kata yang Bian ucapkan saat berjalan melewati Adrian. tetapi tanpa menatap lelaki itu.
" Bian aku bisa .. "
" Keluar atau aku akan membunuhmu " Bian langsung memotong kalimat Adrian,tidak mau mendengar alasan apapun dari mulut pria itu. Baginya apapun yang dilakukan Adrian akan selalu salah,semua perkataan yang ia ucapkan hanya akan membuat dirinya semakin emosi.
Dengan pasrah Adrian keluar meninggalkan tempat itu,saat ini yang terpenting adalah Elea sudah ditangani dan Bian sudah ada disini untuk menjaganya.
Sesampainya diluar kamar perawatan,Adrian menyandarkan tubuhnya didinding dan kemudian duduk terjatuh dengan posisi jongkok. Kedua tangannya meremas rambutnya dengan erat,rasa menyesal dan frustasi terus menggerogotinya hingga bernafas pun terasa sangat sulit bagi Adrian.
" Maafkan aku Elea,maafkan aku Bian .. " gumamnya terdengar lirih,setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.
...****************...
Jam dinding menunjukkan pukul 04.15,Bian yang baru beberapa menit tak sengaja tertidur dalam keadaan duduk merasakan sebuah gerakan dari tangan yang ia genggam. Bian mengerjapkan matanya dan memaksa kesadarannya untuk pulih dengan segera.
" Ele .. " Bian memanggil lembut adiknya yang seolah bingung dengan pemandangan ruangan yang ia lihat.
" Kau berada di rumah sakit Ele "
" Aku?bagaimana bisa? " Elea mencoba mengingat aoa yang terjadi,dan ingatannya kembali pada saat dirinya berniat pergi karena tak sanggup melihat dan mendengar makian Delia terhadapnya.
" Delia? " Elea menggumamkan nama sahabatnya itu,sesaat kemudian rasa pening kembali ia rasakan. Elea merasakan pergolakan di dalam perutnya seolah naik di ulu hati hingga membuatnya mual tak karuan.
" Ele?! " Bian mulai panik melihat adiknya yang seperti kesakitan. Rasa mual dan tidak nyaman mulai Elea rasakan membuatnya serampangan ingin segera turun dari ranjang dan memuntahkan isi perutnya.
" Kamar mandi,,bantu aku ke kamar mandi kak " walaupun masih bingung namun Bian tetap membantu Elea turun dari ranjang dan memapahnya menuju kamar mandi. Sesampainya disana Elea memuntahkan isi perutnya yang berupa cairan kuning pekat yang terasa sangat pahit saat melewati kerongkongannya.
Setelah selesai memuntahkan cairan pekat kuning itu,Bian membantu Elea membersihkan diri dan memapah adiknya kembali ke ranjang.
" Beristirahatlah,aku akan memanggil dokter " ucap Bian menyelimuti Elea yang sudah berbaring diranjang.Adiknya itu menjawab dengan anggukan kepala.
Saat Bian keluar dari ruang perawatan Elea,matanya membulat melihat Adrian yang duduk di lantai dengan keadaan tertidur.
" Jadi si brengsek itu masih disini " batin Bian sambil melangkah melewati Adrian. Tetapi tiba-tiba Adrian terbangun dan kaget melihat Bian yang sudah berdiri dihadapannya. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali Adrian memaksa tubuhnya bangkit mengakibatkan keseimbangannya sedikit terganggu dan berdiri dengan oleng.
" Sebaiknya pulang dan tidurlah dengan nyaman,tidak perlu pura-pura mengkhawatirkan Elea " ucap Bian dengan kalimat yang lebih mirip sebuah sindiran itu,tak berniat mendengar jawaban Adrian Bian sudah bersiap melangkah pergi namun panggilan Adrian menghentikan langkahnya.
" Bian ... apakah Elea sudah membaik? " sesaat Adrian terdiam menunggu reaksi Bian.
" Bolehkan aku masuk,aku hanya ingin melihat keadaanya " imbuh Adrian,walaupun Bian hanya diam namun terlihat jelas percikan emosi berkilat dalam sorot matanya.
Dengan tiba-tiba Bian mencengkeram kerah Adrian dan mendorongnya hingga terbentur dan menghimpit tembok.
" Anggap saja kau tidak pernah mengenal Elea,dan jangan pernah lagi muncul dihadapannya,atau dirimu hanya tinggal nama dokter Adrian " ancam Bian dengan perkataan lamat-lamat agar Adrian bisa mendengar dan mengingat ultimatumnya.
" Maaf Bian,walau kau membunuhku sekalipun aku tidak akan menjauh darinya,aku akan selalu disampingnya untuk menjaganya " tanpa rasa takut sedikitpun Adrian menjawab ancaman Bian.
Bughh ..
Sebuah pukulan mendarat sempurna di tulang pipi Adrian,dan langsung meninggalkan bekas merah kebiruan disana.
" Menjaganya kau bilang?lihat dimana ia berada sekarang??ini yang kau maksud menjaga?! " kalimat Adrian membungkam Adrian seketika. Saat Bian kembali mencengkeram kerah Adrian tiba-tiba dokter Liam muncul diujung koridor. Ia segera berjalan cepat ke arah dua pria yang sepertinya sedang bersitegang itu. Dokter Liam memang datang lebih awal karena permintaan Adrian semalam,untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu pada Elea,karena Adrian lebih percaya penanganan dokter Liam daripada dokter lainnya.
" Hentikan ..kalian ..,tidak adakah tempat lain hingga kalian bertengkar di rumah sakit " dokter Liam berusaha memisahkan mereka,dan untungnya mereka menurut tanpa perlawanan.
" Nama saya Liam Davies,saya yang bertugas menangani nona Elea " dokter Liam memperkenalkan diri sembari menatap ke arah Bian dengan mengulurkan tangan kanannya,dia yakin pria yang menatap Adrian dengan penuh kebencian itu adalah Bian yang selama ini disebut-sebut sebagai kakak sekaligus keluarga Elea satu-satunya.