One Night With You

One Night With You
PART 80



" Kakak akan segera kembali bukan? " tanya Elea saat melepaskan kepergian kakaknya di bandara.


" Kenapa kau sekarang jadi manja,dulu kau lebih senang jika kakak lebih lama tinggal di Bali dari pada kembali ke Jakarta " jawab Bian mengacak pucuk kepala Elea.


" Bukankah kita akan tinggal di Bali setelah kakak kembali dari Singapura? "


" Tinggal di Bali??apa kau lupa sekarang kau sudah bersuami? " Bian menatap Adrian yang dari tadi hanya diam memperhatikan interaksi kedua saudara itu.


" Tapi aku masih ingin tinggal di Bali "


" Kalau begitu ajaklah suamimu tinggal di Bali " ucap Bian masih memandang lurus pada Adrian. Sementara Elea hanya diam.


" Baiklah aku harus segera berangkat,jagalah dirimu baik-baik kakak akan segera mengabari setelah sampai di sana " Bian dengan erat memeluk tubuh adiknya,sudah seringkali ia melewati perpisahan dengan adiknya di bandara seperti ini,tapi kali ini rasanya sangat berbeda ada rasa berat meninggalkan Elea pada Adrian tapi Bian juga sadar tak mungkin membawa Elea bersamanya.


Sebelum memasuki gerbang keberangkatan Bian menarik Adrian sedikit menjauh dari Elea.


" Dengar Adrian,kalau sampai sedikit saja kau-"


" Tidak akan,aku tidak akan menyakiti Elea dan tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya,percayalah padaku aku akan menjaganya dengan sangat baik " Adrian langsung memotong kalimat Bian sebelum menyelesaikannya,karena ia tahu betul kemana arah pembicaraan Bian.


" Ck .. yakin sekali kau "


" Aku harus yakin dan kau harus percaya padaku "


" Bagaimana kalau ternyata kau membuat kesalahan?! "


" Sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk bernegosiasi karena pesawatmu akan segera berangkat " Adrian mengulas senyum sembari menunjukkan jam tangannya pada Bian.


" Kau ... " walau kesal dengan jawaban Adrian tapi Bian tidak bisa berbuat apa-apa karena sepuluh menit lagi pesawatnya akan lepas landas dan ia tidak mau ketinggalan pesawat.


" Pergilah,percayakan Elea padaku jangan terlalu mengkhawatirkannya aku lebih menyayanginya dari pada diriku sendiri " Ujar Adrian dengan penuh keyakinan,Bian sendiri hanya diam menatap adik iparnya. Bian berusaha percaya dan yakin kalau Adrian adalah lelaki yang memang tepat untuk Elea.


" Kalian berdua baik-baiklah " Bian kemudian berlalu meninggalkan pasangan pengantin baru itu.


" Ayo pulang " ajak Adrian setelah punggung Bian telah menghilang tak terlihat.


" Bolehkah aku pulang ke apartemenku dulu? "


" Ke apartemen?mau apa?semua barang-barangmu sudah dipindahkan ke mansion kan? " mereka mulai berbincang sembari berjalan. Elea tak menjawab,karena ia memang tak ada alasan khusus untuk kembali ke apartemennya,ia hanya ingin menyendiri di sana,karena apartemennya terasa lebih nyaman dari pada harus berada di mansion Haliandra tanpa melakukan apa-apa.


" ELEA .. " panggil seseorang ketika Elea hampir memasuki mobil. Reflek pandangan Adrian dan Elea tertuju pada sumber suara. Dan betapa terkejutnya mereka karena yang memanggil Elea adalah seseorang dengan hubungan yang sangat sensitif terhadap keduanya. Orang itu adalah Barra,mantan kekasih Elea yang sampai detik ini masih sangat mengharapkan novelis cantik itu.


" Barra " lirih Elea saat pria itu sudah berada di depannya.


" Ternyata memang benar kau,aku kira aku mulai berhalusinasi melihatmu lagi " ucap Barra tersenyum ironi,dan hanya menatap Elea tanpa perduli pada sepasang mata yang menatapnya dengan pandangan tak suka.


" Sedang apa kau disini? " tanya Barra masih tak menghiraukan adanya seorang Adrian diantara mereka.


" Aku,,aku mengantar kak Bian " Elea menjawab dengan perasaan tidak menentu,ia merasa tidak enak dengan Adrian karena bagaimanapun Adrian kini telah menjadi suaminya,dan Elea tahu tatapan mata suaminya itu menyiratkan ketidaksukaannya melihat interaksi dirinya dengan sang mantan.


" Kak Bian?jadi kak Bian masih di Jakarta selama ini? "


" Ekkheemm .. " Adrian berdeham menunjukkan eksistensinya,karena sepertinya mantan kekasih sang istri itu benar-benar tidak menganggapnya. Refleks pandangan Barra pun tertuju pada Adrian.


" Ele masuklah,tidak baik jika terlalu lama berdiri " pinta Adrian,sesaat Elea terdiam memandang Barra dan Adrian secara bergantian namun detik kemudian ia menuruti suaminya dan akan memasuki mobil.


" Tunggu dulu,aku masih ingin membicarakan sesuatu " Barra tiba-tiba mencekal lengan Elea sebelum wanita itu benar-benar masuk ke dalam mobil.


" Istriku sedang hamil tuan Barra,dia tidak boleh terlalu lama berdiri " Adrian mulai kesal dan melepas paksa cekalan tangan Barra dari lenggan istrinya.


" Masuklah " pinta Adrian kemudian menutup pintu mobil setelah Elea duduk di dalam.


" Ck .. istri kau bilang " Barra berdecak merasa tak suka dengan kalimat Adrian,wanita tercintanga kini diakui Adrian sebagai istrinya sungguh sesuatu yang membuatnya sangat marah. Walau Barra tahu mereka memang sudah meninkah tapi bagi Barra penikahan itu hanyalah omong kosong,karena yang melatarbelakangi pernikahan itu adalah keterpaksaan tanpa adanya cinta.


" Ya .. istriku kau tentunya tahu kita baru saja menikah "


" Benar sekali aku tahu kalian sudah menikah,lalu kapan kalian akan bercerai? " tanya Barra santai,dengan senyuman mencela yang menyebalkan.


" Jaga ucapannmu tuan Barra " walau ucapan Barra berhasil mematik emosinya tapi Adrian masih mencoba menahan diri,ia tidak mau terjadi keributan antara dirinya dan mantan kekasih istrinya


" Memangnya kenapa?bukankah benar suatu saat kalian akan bercerai?kalian menikah hanya karena kehamilan Elea bukan?jangan terlalu naif dokter Adrian,walaupun statusmu sebagai suami Elea tapi kita berdua tahu siapa yang lebih dicintai oleh Elea,kau paham siapa orangnya bukan? " Barra mengucapkan kalimatnya dengan santai tanpa dosa plus dengan senyumannya seolah merasa diatas awan karena telah berhasil mematik api amarah pada rivalnya.


" Kau tahu tuan Barra,dua orang sahabat yang sering belajar bersama saja lambat laun bisa saling mencintai,apalagi kami berdua yang setiap hari tidur diranjang yang sama,hidup dibawah atap yang sama dan ada anak yang akan mengikat jiwa ragaku dan Elea,jadi untuk apa aku harus pusing-pusing memikirkan siapa yang Elea cintai sekarang? " bukannya terpancing dengan kalimat Barra Adrian justru menjawabnya dengan kalimat yang menohok relung hati Barra. Mematik api amarah pada Barra,membuat kedua mata pria itu berkilat penuh emosi. Ya begitulah Adrian dia memiliki pengendalian diri yang baik,dan tidak mudah terpancing oleh lawannya.


" Baikalah tuan Barra aku harus segera pergi,aku tidak mau IS-TRI-KU menunggu terlaku lama,kau ingat baik-baik tuan Barra Elea adalah IS-TRI-KU yang sah " uacap Adrian dengan menekankan kata istri sebagai peringatan agar pria itu tidak lagi berharap pada istrinya. Walaupun Barra sangat marah dan kesal tapi ia tak dapat berbuat apa-apa,dia hanya terdiam menatap mobil Adrian berjalan menjauh dengan tangan terkepal hingga memutih menandakan gejolak emosinya yang luar biasa,hingga akhirnya Barra berteriak keras melampiaskan emosinya,tak perduli pada pandangan orang-orang yang menatapnya.


" Kita lihat saja nanti Adrian,aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku " gumam Barra dengan kilatan emosi dan dendam dikedua matanya.