
Barra bejalan cepat menuju unit apartemen Elea,Mateo yang mengikutinya dari belakan seolah kewalahan mengimbangi langkah tuannya itu. Sudah dua hari ini ia mengunjungi Elea namun tak pernah dibukakan pintu. Kadang hanya Bian yang keluar dan mengatakan adiknya sedang tidak enak badan,walau begitu Barra masih tak menyerah dan masih datang ke apartemen Elea.
Barra sebenarnya sangat khawatir dan ingin sekali menerobos masuk dan melihat sendiri keadaan Elea,namun akal sehatnya masih berfungsi,jika ia nekat menerobos masuk bukan hanya Bian yang akan menghajarnya tapi lelaki yang dianggapnya calon kakak ipar itu sudah pasti akan membencinya seumur hidup. Nomor mantan kekasihnya itu tidak bisa dihubungi membuat Barra semakin penasaran dan khawatir mengenai kondisi Elea yang sebenarnya.
Setelah sampai di depan pintu apartemen Elea,sejenak Barra terdiam tanpa menekan bel. Sekilas Barra memandang Mateo yang sudah berada dibelakangnya.
" Apa mungkin Elea sudah mau bertemu denganku? " tanyanya sembari menggosok dagu dan sebelah tangannya berkacak pinggang.
" Kita tidak tahu sebelum mencobanya tuan " jawab Mateo yang selalu setia untuknya.
Setelah terdiam sejenak akhirnya Barra menekan bel pintu,sekali tekan dan menunggu tidak ada respon dari dalam,Barra kembali menekan bel dan menunggu tidak juga ada yang membukakan pintu.
" Mungkin nona Elea sedang keluar tuan " ucap Mateo.
" Apa mungkin Elea dibawa kerumah sakit? " gumam Barra dilingkupi kekhawatiran.
Ia kembali menekan bel tetap tak ada respon,akhirnya ia putuskan untuk pergi dan kembali lagi besuk. Mateo pun mengikuti Barra yang berjalan gontai seolah kehilangan semangat.
' Kenapa dia masih datang kemari? ' batin Elea mengusap keningnya yang berkeringat. Kalau bukan Barra maka Adrian yang datang,rasanya lelah melihat dua pria itu silih berganti menunggu di depan pintunya. Untung saja Bian selalu sibuk di siang hari sehingga tak sampai berpapasan dengan dua pria itu,walaupun Adrian kadang masih datang di malam hari namun tidak sampai bertemu dengan Bian.
Bian sendiri sebenarnya ingin menemui Adrian untuk menanyakan tentang adiknya yang benar-benar murung setelah Adrian mengantarkannya pulang. Bahkan adiknya itu sering bermimpi buruk di malam hari dan juga Elea yang sangat betah menulis novelnya kini seakan kehilangan semangat menuangkan ide-ide tulisan di kepalanya.
Jika Bian bertanya jawaban Elea hanya menggeleng dan bilang tidak ada apa-apa,namun adiknya itu sering menanyakan kapan Bian kembali ke Bali dan ingin ikut serta bersamanya. Dia yakin Elea sedang dalam masalah,cepat atau lambat setelah kasus persidangan yang ditangani Bian selesai pria itu akan mencari Adrian dan membahas masalah Elea,entah itu keputusan yang tepat atau tidak tapi lebih baik mencoba terlebih dahulu.
......................
Elea terduduk ditempat yang sama sampai tertidur disana. Hingga akhirnya ia tiba-tiba terbangun karena mendengar suara bel pintunya lagi. Entah siapa lagi yang datang semoga saja bukan Barra lagi ataupun Adrian.
Perlahan Elea bangkit dan mengintip dahulu melalui door view,ternyata kekhawatirannya tidak terjadi bukan sosok Barra atau Adrian yang ia lihat tetapi seorang yang sangat ia tunggu dialah Irina yang berdiri didepan pintunya.
Irina memang sering datang ke apartemen Elea,selain karena masih khawatir dengan psikologis Elea,Irina datang juga karena adanya Bian di sana,maklum saja sudah sejak lama Irina menaruh perhatian khusus pada kakak lelaki sahabatnya itu. Dan karena dua faktor diatas Irina sering datang juga karena permintaan Adrian untuk memperhatikan kondisi Elea,memastikan wanita itu masih baik-baik saja sampai sekarang.