
" Jadi dokter Liam kenapa kau setia sekali pada Adrian??kau bahkan menahan ku disini saat Elea diperbolehkan pulang " Irina mulai bosan hanya duduk diam dan memandang Liam yang tengah sibuk dengan laptopnya.
Yaa..memang tidak terjadi kekacauan di cafe Irina,dan gadis cantik itu kini tengah duduk terkunci di dalam ruangan Liam. Tentu saja itu karena perintah Adrian,dan Irina sudah lelah merutuki sikapnya yang teledor percaya bahwa dokter Liam ingin membicarakan sesuatu yang penting mengenai Elea,hingga dirinya berakhir terkunci di ruangan Liam.
" Karena membiarkan mereka agar lebih dekat lagi " jawab dokter Liam dengan pandangannya yang masih tertuju pada layar laptop.
" Bagaimana kalau Adrian bertindak bodoh lagi,kau mau bertanggung jawab?! "
" Aku tahu Adrian tidak akan melakukannya " dokter Liam berujar sangat yakin dengan senyuman semanis mungkin pada Irina.
" Lagi pula Adrian akan bertanggung jawab dan menikahi Elea,jadi tidak perlu mengkhawatirkan mereka berdua " imbuh dokter Liam yang kini berjalan mendekat kemudian duduk di sebelah Irina.
" Cih..bertanggung jawab??kau pikir Ele mau?? " Irina berdecih meragukan keyakinan dokter Liam.
" Tentu saja Elea harus mau,,memangnya dia mau hamil tanpa suami? " pertanyaan konyol dokter Liam langsung membuat mata Irina melotot sempurna.
" Apa..??apa kau bilang??ha..hamill? mana mungkin Elea hamil "
" Kenapa tidak mungkin?walaupun dengan paksaan Adrian telah melakukan sebuah proses pembuahan,kau tahu bukan jika beberapa tetes saja sperm* dimasukkan..."
" Cu..cukup dokter ..tentu saja aku tahu kau tidak perlu menjelaskan " Irina jadi salah tingkah mendengar penjelasan fulgar yang diucapkan dokter Liam tanpa rasa malu sedikitpun itu.
" Tapi bukankah kalau hanya sekali kemungkinan tidak akan hamil? " gumam Irina dengan suara pelan namun masih bisa didengar oleh dokter Liam.
" Dokter Liam..." sentak Irina yang langsung membuat kalimat dokter Liam terhenti.
" Jangan membicarakan itu lagi! "
" Aku hanya mencoba membuatmu paham Irina,,kalau seorang lelaki dengan gaya hidup sehat sangat bisa membuat hamil seorang wanita hanya dengan sekali tan..."
" Dokter Liam..hentikan " reflek tangan Irina langsung membungkam mulut dokter Liam membuat posisi wajah mereka sangat dekat bahkan tidak ada sejengkal tangan. Irina langsung melepaskan tangannya dari mulut dokter Liam saat tersadar dari kontak mata dramatis beberapa saat itu. Ia jadi salah tingkah dan sedikit menggeser posisi duduknya. Begitupun dokter Liam,walaupun ia adalah play boy cap gajah terbang tapi saat mendapat perlakuan tiba-tiba seperti itu dan bahkan dari wanita yang belum lama ia kenal tentu saja membuat dokter muda itu salah tingkah juga. Dokter Liam berdeham untuk menetralkan suasana,sekilas ia melihat semburat merah di wajah Irina,membuat paras manis itu semakin mempesona indra penglihatannya.
Dokter Liam berpikir Irina adalah gadis polos yang unik,ia bisa tidak nyaman dan salah tingkah hanya dengan mendengar obrolan dewasa yang dirasa ringan oleh dokter Liam. Melihat Irina yang bahkan tidak berani memandangnya membuat dokter Liam menarik sudut bibirnya,membuat senyum manis terukir di wajah blasteran yang tampan itu.
" Baiklah Irina,aku harus kembali bekerja..dan kau akan tetap disini sampai aku mengembalikan ini " ucap dokter Liam sembari memperlihatkan kunci mobil Irina di tangannya.
" Kenapa ada padamu?kapan kau mengambilnya? " wajah Irina tampak heran dan kesal.
" Kau sendiri yang meletakan di mejaku " jawab dokter Liam melirik meja dimana Irina pertama kali datang dan langsung duduk dikursi depan meja tersebut.
" Jadi bersikap baiklah dan tunggu aku disini,,tenang saja aku tidak akan lama " ucap dokter Liam kemudian berlalu meninggalkan Irina didalam ruangannya.
" Tapi dokter .. mana mungkin akau hanya diam menunggumu disini..?! " protes Irina mengikuti dokter Liam namun langkahnya kalah cepat hingga dokter tampan itu sudah keluar dan mengunci ruang kerjanya.
" Dokter Liam...!!" teriak Irina sembari menarik kasar gagang pintu yang sudah terlanjur terkunci itu.