One Night With You

One Night With You
PART 76



Sebenarnya Elea sedang tidak ingin makan apapun,tapi melihat banyaknya menu di atas meja membuat perutnya refleks berbunyi minta diisi. Apalagi kondisinya yang sedang hamil membuatnya sering tiba-tiba kelaparan. Selangkah demi selangkah Elea mendekati meja penuh makanan itu,ada beberapa buah yang terlihat segar,beberapa kue dan kukis yang sepertinya fresh baru diangkat dari panggangan. Dan yang paling menggoda Elea adalah olahan daging yang terlihat caramelized dan juicy itu.


Tanpa ba bi bu Elea pun duduk di bawah dan menyantap satu demi satu makanan yang tersedia di meja,ia tak menghiraukan dirinya yang masih memakai dress pengantin. Elea hanya ingin menuntaskan rasa laparnya. Karena asiknya mengecap rasa nikmat makanan tersebut ia sampai tak menyadari ada dua pasang mata yang menatapnya dengan penuh senyuman. Kedua mata itu tak lain adalah milik Adrian suaminya. Tadinya ia ingin memastikan Elea meminum susu dan vitaminnya tapi saat Adrian masuk ia melihat pemandangan yang melebihi ekspektasinya. Istrinya itu sedang makan dengan lahapnya. Hal itu membuat Adrian berhenti dan tak ingin menganggu Elea dan menghilangkan selera makannya.


Adrian pun kembali berjalan keluar dan turun agar tak mengganggu Elea. Ia sangat lega melihat bagaimana istrinya menyantap makanannya tadi,setidaknya Elea tidak murung dan terus menerus bersedih. Namun sebelum sampai bawah ia melihat Bian yang menaiki tangga menuju ke arahnya.


" Bian " suara Adrian menghentikan langkah Bian.


" Aku ingin menemui Elea sebelum pergi " ucap Bian kembali melangkah mendekat.


" Tunggu dulu " sergah Adrian menahan kakak iparnya. Bian lantas menatap adik iparnya dengan tatapan dingin dan keheranan.


" Ele .. Elea sedang makan,aku takut kedatanganmu akan mengganggu selera makannya " jelas Adrian yang mengerti arti tatapan tak bersahabat dari Bian. Adrian yakin saat Bian berpamitan pasti akan ada sesi tangis-tangisan dari keduanya,memang wajar dan Adrian memaklumi itu tapi ia hanya ingin Bian menunggu sampai Elea menyelesaikan makan malamnya.


Bian sendiri paham dan mengalah,ia juga senang bila memang adiknya bisa makan dengan baik saat suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.


" Bagaimana kalau kau menginap,dan pergi besuk?"


" Sayangnya aku tidak bisa,aku harus menyiapkan semuanya karena besuk siang aku harus terbang ke Singapura "


" Secepat itu? " Bian hanya mengangguk,kemudian menatap adik iparnya itu,seolah sedang menimbang-nimbang apakah harus ia ucapkan kalimat yang sudah ia pikirkan sebelumnya.


" Apa kau ingin mengatakan sesuatu? " tanya Adrian seolah mengerti tatapan mata dan ekspresi Bian.


" Bisakah aku benar-benar mempercayakan Elea kepadamu Adrian? " Bian menjawab pertanyaan Adrian dengan pertanyaan pula. Bahkan pertanyaan itu kini terasa dalam saat didengar oleh Adrian. Kakak iparnya itu masih meragukannya,dan dia paham kemungkinan alasannya.


" Aku akan berusaha membuat Elea bahagia Bian,aku akan memberikan seluruh hidupku padanya " jawabnya tulus.


" Kau diam? " tanya Bian dengan senyum ironi. Ia tahu Adrian bisa menerima Elea menjadi istrinya tapi Bian yakin keluarga Adrian tidak demikian.


" Kau jangan khawatir,keluargaku tidak akan menyakiti Elea,akan kupastikan " jawaban Adrian kali ini pun tidak memuaskan Bian,karena lelaki itu kembali tersenyum ironi.


" Elea pasti sudah selesai aku akan menemuinya,bisa kau tunjukan dimana kamarnya?" Adrian pun mengangguk dan mengantarkan Vian menemui Elea.


Tok .. tok .. tok ..


Tanpa menunggu jawaban Adrian masuk diikuti Bian bersamanya.


"Dokter Adrian pil yang mana yang harus aku minum? " tanya Elea saat melihat Adrian masuk,sementara Bian ia masih berdiri disamping tembok pembatas,entah kenapa ia belum siap berpamitan dan meninggalkan adiknya. Sesaat Adrian menatap Bian ia tahu pria itu mungkin saja belum siap menghadapi sang adik.


" Biasanya aku hanya minum dua pil,dan ini ada tiga " imbuh Elea menyita perhatian Adrian.


" Alex menambahkan pil nafsu makan untukmu,yang ini vitamin,yang ini pil untuk mengurangi mual dan yang ini untuk nafsu makan,karena Alex bilang nafsu makanmu akan terganggu pada trisemester awal kehamilan " Adrian menjelaskan tiga bual pil yang berbeda warna itu.


Adrian yang kini ikut duduk dibawah bersama Elea memperhatikan istrinya yang sedang menelan tiga pil itu secara bergantian. Ada perasaan lega dan bahagia karena wanita ini akhirnya berada disini sebagai istri sahnya tapi ada perasaan gelisah yang tak bisa ia deskripsikan.


" Apa kau masih merasa mual setelah makan? " tanya Adrian dan Elea hanya menggeleng.


" Ada seseorang yang ingin menemuimu " Adrian kemudian melirik kearah Bian yang sudah berdiri tak jauh dari mereka.


" Kakak " wajahnya berbinar dan senyumnya terlihat manis. Ia kemudian berdiri dan dan memeluk kakaknya. Padahal belum lama berpisah tapi seolah mereka baru bertemu setelah lama terpisah.


" Aku kan keluar dulu " ucap Adrian setelah Bian mengurai pelukannya dari Elea. Ia harus memberikan privasi pada kakak beradik itu.